Kamis, 02 September 2010

PEREMPUAN

Sejak kecil aku sudah diajari oleh orang tuaku agar menolong kakak perempuan, sebab aku sebagai lelaki dianggap lebih kuat daripada perempuan. Apa yang diajarkan dalam keluargaku ini merupakan pandangan yang sangat umum. Hampir di seluruh dunia orang berpendapat bahwa lelaki jauh lebih kuat dibandingkan dengan perempuan. Perempuan adalah mahluk lemah yang harus ditolong dan dilindungi. Ada gerakan perempuan yang berusaha menolak pendapat ini. Mereka berpendapat bahwa perempuan sama kuat perkasanya seperti pria. Mereka mempunyai hak yang sama dengan pria dan peluang yang sama dalam segala hal.

Maka pada tahun 2000 an di Indonesia booming istilah kesetaraan gender. Secara sederhana gender diartikan cara masyarakat membedakan lelaki dan perempuan dan memberikan pada mereka peran-peran sosial. Lelaki diberi peran oleh masyarakat sebagai kepala keluarga yang mengatur dan menentukan kebijakan-kebijakan dalam keluarga, sedangkan perempuan sebagai hanya mengikuti saja. Lelaki bekerja di luar rumah untuk menghidupi keluarga sedangkan perempuan bekerja di dalam rumah dan sebagainya. Peran ini dapat berubah sesuai dengan perubahan yang terjadi dalam masyarakat. Gerakan yang lebih hebat dari perempuan adalah feminisme yaitu gerakan yang berusaha membebaskan kaum perempuan dari aneka ketertindasan dan perlakuan yang tidak adil dari pihak lelaki. Perempuan sering kali dijadikan obyek dan martabatnya sebagai manusia kurang dihargai. Feminisme berusaha mengadakan perubahan bukan hanya karena peran yang harus dijalani oleh perempuan oleh tata aturan yang dibuat masyarakat tapi juga karena kesadaran akan adanya ketidakadilan.

Dalam kehidupan agama pun perempuan sering diperlakukan tidak adil. Ketika ada perempuan yang tertangkap berbuat zinah, maka yang dibawa kehadapan Yesus hanya orang perempuannya saja agar Yesus menentukan nasibnya apakah dilempari batu sampai mati atau tidak. Lelaki pasangannya tidak diceritakan. Rasul Paulus pun kurang menghargai perempuan, sehingga perempuan tidak bolah berbicara di rumah ibadat. “Sama seperti dalam semua Jemaat orang-orang kudus, perempuan-perempuan harus berdiam diri dalam pertemuan-pertemuan Jemaat. Sebab mereka tidak diperbolehkan untuk berbicara. Mereka harus menundukkan diri, seperti yang dikatakan juga oleh hukum Taurat.” (1Kor 14:34). Maka kaum feminisme juga berusaha membongkar tata aturan agama bahkan Kitab Suci.

Sebetulnya dalam Injil peran perempuan cukup dihormati. Yesus “terpaksa” membuat mujijat di Kanaan sebab permintaan perempuan. Yesus memuji iman perempuan Kanaan yang sangat teguh, tak tergoyahkan oleh penolakan Yesus sendiri, untuk memohon bantuan bagi anaknya yang sakit (Mat 15:22-28). Perempuan pun yang menjadi misionaris pertama. Perempuan Samaria membawa pada Yesus orang-orang kotanya, orang-orang Samaria agar mereka bertemu langsung dengan Yesus (Yoh 4:2-43). Perempuan juga yang mendapat penampakan pertama kali ketika Yesus bangkit dan dia diutus untuk menjadi pewarta kepada para rasul (Mat 28:1-10). Perempuan-perempuan kaya melayani rombongan Yesus dengan hartanya (Luk 8:1-3). Perempuan juga yang setia sampai di bawah kaki salib Yesus. Dengan demikian perempuan sangat berjasa dalam perjalanan warta keselamatan yang dibawa oleh Yesus.

Perempuan sangat berjasa dalam kehidupan di dunia dan iman. Tapi karena kehidupan dunia dikuasai oleh lelaki, maka peran perempuan sering diabaikan. Masih banyak perempuan yang dijadikan obyek dan komoditi. Mereka dimarginalkan dan dianggap tidak berdaya. Feminisme dan kesetaraan gender berusaha membongkar dominasi lelaki. Tapi bila suatu saat gerakan ini berhasil maka akan terjadi kebalikannya lagi. Akan muncul maskulinisme. Tesis-antitesis-tesis yang baru. Terus berulang. Isme-isme itu tidak akan muncul bila dibangun kesetaraan dan penghargaan martabat. Dari sini akan muncul keadilan, sehingga tidak ada lagi orang yang dimarginalkan atau dikondisikan lemah atau kuat. Semua bermartabat sama sebagai citra Allah.

2 komentar:

  1. Mo...sebagai perempuan yg lagi "sentimentil" aku sangat setuju dgn pendapat yg menyatakan bahwa baik laki2 atau perempuan, semua bermartabat sama sebagai citra Allah. Hanya saja tdk semua laki2 bisa memahami hal itu. Itu sebabnya utk hal2 tertentu semua hanya dibebankan kepada perempuan tanpa adanya keinginan laki2 utk campur tangan krn menganggap bahwa itu memang sdh mjd tugas perempuan dan bukan tugas laki2. Itu mungkin yg membuatku bs memahami mengapa seorang prempuan bisa memiliki tingkat kejenuhan yg tinggi thdp pasangannya dan ujung2nya minta cerai.... :(

    BalasHapus
  2. Waduh..waduh.. bukan saya mengajari cerai lho.. tapi kita harus memandang setiap orang adalah citra Allah yang patut dihargai dan dihormati seperti kita menghargai dan menghormati diri sendiri.. Kalau sudah tidak ada penghormatan dan penghargaan seperti diri sendiri ya adanya penindasan. Entah dari pihak perempuan atau lelaki.

    BalasHapus