Rabu, 08 September 2010

APAKAH YANG KITA CARI?

Beberapa orang sedang asyik menggunjing seseorang yang dianggap menyebalkan. Teman yang sedang jadi obyek pembicaraan memang seorang yang aktif dan sangat semangat. Tapi dia mempunyai titik lemah yang membuat teman-temannya merasa jengkel yaitu dia suka menonjolkan diri. Bila ada aktifitas atau ide yang bagus sering kali dikatakan bahwa itu adalah ide atau karyanya. Dia selalu berusaha menonjolkan dirinya sendiri seolah dialah yang paling hebat. Akibatnya banyak teman yang merasa diremehkan atau jengkel sebab ide atau karyanya diklaim sebagai ide dan karya teman yang sedang digunjingkan. Beberapa teman mengusulkan agar memboikot setiap acara yang diselenggarakan oleh teman ini. Atau tidak membicarakan ide-ide aktifitas padanya agar dia tidak menceritakan pada banyak orang seolah itu idenya.

Orang semacam ini ada banyak dalam masyarakat. Mereka berusaha menonjolkan diri. Merasa seolah dialah yang paling hebat atau merasa bahwa setiap hal baik keluar dari dirinya. Orang semacam ini juga ada dalam komunitas-komunitas pelayanan. Dia terjun dalam pelayanan untuk menonjolkan diri. Sebuah tindakan yang sebetulnya berlawanan sebab pelayanan adalah tindakan pemberian diri kita pada orang lain yang menuntut perendahan diri bukan untuk mencari atau menonjolkan diri. Akibatnya terjadi benturan diantara sesama orang yang melayani atau tambah memiskinkan orang yang dilayani, sebab orang yang dilayani hanya dijadikan obyek untuk kepuasan diri.

Dalam melakukan sesuatu aktifitas sebetulnya kita perlu bertanya apa yang kita cari dari aktifitas itu? Ketika dua orang murid Yohanes Pembaptis mengikuti Yesus, maka Yesus berpaling dan bertanya pada mereka, “Apakah yang kamu cari?” (Yoh 1:38). Pertanyaan ini juga ditujukan kepada siapa saja yang mengikutiNya. Pertanyaan ini juga dapat diajukan dalam setiap aktifitas. Apakah yang kita cari dalam aktifitas kita? Bila kita bekerja maka yang kita cari adalah penghasilan untuk menunjang kehidupan. Bila kita melakukan pelayanan apakah yang kita cari? Hal yang kita cari inilah yang mendasari segala tingkah laku kita. Bila mencari uang, maka segala tindakan diarahkan agar menghasilkan uang. Bila melayani apa yang akan kita kejar?

Kedua murid menjawab "Rabi (artinya: Guru), di manakah Engkau tinggal?" Jawaban ini tidak menjawab pertanyaan Yesus. Mereka tidak mencari apa-apa selain ingin tinggal bersama Yesus. Mereka ingin menemukan siapa Yesus bagi hidupnya. Akhirnya mereka menemukan. "Kami telah menemukan Mesias (artinya: Kristus).” (Yoh 1:45). Pencarian Mesias bagi diri sendiri inilah yang kita kejar dalam pelayanan, sehingga seluruh usaha diarahkan untuk sampai pada penemuan siapakah Yesus bagi diri kita. Bukan Yesus yang menurut orang lain atau banyak orang. “Lalu Yesus bertanya kepada mereka: "Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?" (Mat 16:15). Penemuan Yesus bagi diri sendiri membuat kita tidak berusaha mengejar popularitas, kehebatan dan sebagainya. Segala yang kita lakukan hanyalah sebuah jalan untuk semakin dekat dengan Yesus sehingga kita bisa menemukan Yesus bagi diri sendiri.

Pelayanan adalah saat kita tinggal bersama Yesus. Berusaha memahami Yesus yang kadang sangat asing bagi kita. Yesus ada dalam diri saudara kita yang miskin, yang membutuhkan pelayanan. Dia ada dalam suami, istri, anak, orang tua, saudara dan sesama yang membutuhkan. Melayani orang yang rewel dapat membuat kita jengkel. Yesus mengajak kedua murid untuk tinggal bersama agar mengenalNya lebih dalam lagi. Kejengkelan disebabkan kita kurang paham dengan keinginan mereka yang kita layani. Kita merasa bahwa tindakan kita sudah benar, tapi orang lain tidak berkenan. Hal disebabkan kita merasa sudah mengenal dan memahaminya tapi sebetulnya kita belum memahaminya. Lebih jauh lagi pelayanan tidak berhenti sampai pada pengenalan yang kita layani, melainkan sampai pada pengalanan akan Yesus. Pusat pelayanan adalah pencarian Yesus maka kita tidak berusaha untuk mengejar hal lain seperti prestasi, kesuksesan dan lainnya sebab kita mengarahkan diri pada pertemuan dengan Yesus, sehingga akhirnya kita mengatakan “Aku telah menemukan Mesias.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger