Senin, 13 September 2010

SIAPAKAH YANG BUKAN MANUSIA?

Seorang yang tampak saleh mengkritik seorang perempuan yang bekerja sebagai PSK. Dia mengatakan bahwa PSK itu bukan manusia yang bermoral dan bermartabat, sebab mau merendahkan dirinya bekerja seperti itu. Mengobral tubuhnya demi beberapa lembar ribuan rupiah. Pembicaraannya sampai pada hukuman neraka yang kejam. Dia menunjukkan hukuman bagi PSK dalam Perjanjian Lama dan Al Quran. Orang yang berzina akan dihukum rajam. Selama dia berbicara hanya sedikit sekali menyinggung tetang lelaki yang datang ke PSK. Dia hanya mengatakan bahwa lelaki itu salah sebab mudah tergoda oleh PSK. Disinilah letak ketidakadilan dimana dua orang dianggap berdosa tapi satu orang diminimalkan sedangkan yang lain dibesarkan dosanya.

Seorang teman PSK bercerita bahwa setiap malam dia mendapat kunjungan tamu lebih dari 4 orang. Bahkan seorang PSK yang menjadi favorit dalam sehari bisa melayani 10 tamu lebih. Aku tanya bagaimana bila dia sedang melayani tamu ternyata ada tamu lain yang datang? Sambil tertawa dia mengatakan biar saja menunggu. Sebuah jawaban ringan yang membuatku tertegun. Menunggu? Bagaimana mungkin seorang menunggu seorang yang akan dikencani? Selama menunggu apakah dalam pikirannya tidak terlintas apa yang sedang dikerjakan oleh orang yang ditunggunya bersama orang lain? Pada saat dia melakukan apakah tidak terlintas dalam kepalanya bahwa apa yang sedang dilakukannya sekarang beberapa waktu lalu juga dilakukan dengan orang lain?

Orang sering mengatakan hubungan seksual sebagai hubungan intim. Sebuah relasi yang mendalam antara lelaki dan perempuan, sehingga mereka bukan lagi dua melainkan satu. Mereka meleburkan diri satu dengan yang lain. Maka relasi ini harusnya berdasarkan cinta yang mendalam, sebab menyatukan diri secara utuh dan penuh. Relasi ini merupakan sebuah ungkapan cinta yang tak terkatakan. Tapi dalam relasi dengan PSK hal ini tidak ditemui. Mereka hanya menekankan segi biologis tanpa berhitung dengan segi cinta dan keagungan seksualitas.

Seorang teman mengatakan aku naif, sebab orang datang ke tempat PSK bukan untuk cinta dan rasa. Mereka hanya didorong untuk memuaskan keinginan biologis belaka. Bila demikian siapakah yang bukan manusia? PSK atau orang yang datang pada PSK? Mendengar cerita teman-teman tentang seorang langganan PSK yang rela menunggu, atau cerita yang bagiku sangat aneh lainnya diseputar kehidupan PSK membuatku merasa bahwa manusia telah kehilangan kemanusiaannya. Bila dia masih menjunjung martabat manusianya, maka dia tidak akan mudah menggandeng orang yang tidak dikenalnya untuk melakukan hubungan intim. Bagaimana mereka akan intim bila mengenalpun tidak. Seorang teman bercerita bahwa pada saat melakukan hubungan itu mereka tidak perlu banyak berbicara sebab tujuannya adalah melakukan. Bagiku hal ini tidak masuk akal. Binatang saja bila akan kawin mereka selalu melakukan saling menarik perhatian dan melakukan komunikasi, bahkan beberapa jenis binatang hanya mau melakukan dengan pasangannya. Mengapa manusia yang dianugerahi akal dan kemampuan tidak dapat meniru hewan?

Seorang teman mengatakan lebih baik tempat PSK itu ditutup saja. Bagiku pendapat ini yang naif. Mengapa susah-susah menutup? Mereka akan tutup sendiri bila orang tidak datang dan menggunakan jasanya. Bila orang sadar akan martabatnya sebagai manusia yang terhormat, maka mereka akan menolak untuk datang ke tempat PSK. Melakukan hubungan seksual dengan orang yang tidak dikenalnya. Kalau toh mereka mengenalnya, tapi mereka sadar bahwa orang yang dikenalnya baru saja melakukan hubungan dengan orang lain yang tidak dikenalnya. Kalau toh PSK itu memujanya, hal yang sama juga dilakukan pada orang lain. Seorang teman PSK bercerita bahwa dia sudah membunuh perasaannya. Dia sudah mati. Dia melakukan demi uang. Tapi yang datang apakah juga sudah tidak mempunyai rasa? Apakah mereka juga sudah mati? Lalu apa yang dikejarnya? Bagiku PSK lebih tahu apa yang dilakukan daripada yang datang padanya. Mereka tidak tahu apa tujuannya. Sungguh orang mati.

0 komentar:

Posting Komentar