Minggu, 31 Mei 2009

BEGINIKAH WAJAH DEWAN KOTA?

Sudah hampir satu jam aku bersama 15 wakil warga stren kali yang akan digusur, duduk lesehan di lantai gedung dewan yang sangat bersih dan sejuk karena AC. Aku dipilih warga untuk menjadi salah satu tim negosiator dalam berhadapan dengan anggota dewan perwakilan rakyat dan pemerintahan kota. Sedang sekitar 400 warga lain berkerumun di depan pintu gedung dewan. Hari ini kami mengadakan aksi tolak penggusuran. Aparat keamanan hanya mengijinkan perwakilan warga yang boleh masuk ke gedung DPRD. Tapi di dalam gedung kami tidak bertemu dengan satu pun anggota dewan. Gedung yang bagus dan megah ini ternyata kosong. Beberapa karyawan tidak jelas kerjaannya. Bahkan sudah ada beberapa karyawan yang bermain ping pong dalam sebuah ruang. Padahal saat itu masih menunjukkan pukul 10.45 dan merupakan hari kerja.

Beberapa teman mengatakan betapa enaknya menjadi anggota dewan. Gajinya besar tapi jam 11 belum ada satu pun yang datang ke kantor. Karyawan yang ada sudah bebas tugas sehingga bisa main ping pong. Aku katakan makanya banyak orang berebut untuk menjadi anggota dewan, sebab gaji besar, fasilitas cukup, dihormati oleh banyak orang dan kerja tidak jelas. Kalau toh mereka rapat tidak jarang hanya tertidur atau baca koran atau mainan SMS.

Akhirnya setelah menunggu sekitar 3 jam dan kami mulai mengancam akan mengerahkan massa yang di luar untuk menyerbu masuk gedung bila anggota dewan tidak datang, maka satu demi satu mereka datang. Ketua dewan dan dua fraksi hadir. Dimana yang lain? Hanya Tuhan yang tahu. Sekitar pk 14.30 kami memulai dialog untuk membahas soal penggusuran yang dilaksanakan oleh walikota. Dalam pembicaraan dengan anggota dewan, aku makin prihatin. Mereka tanpa malu saling menjelekkan dan menjatuhkan antar partai. Padahal mereka sedang berhadapan dengan rakyat yang percaya pada mereka. Mereka seperti ayah dan ibu yang saling menjelekkan satu dengan yang lain di hadapan anak-anaknya. Mengapa mereka menjadi orang yang naif dan childish. Beginikah wajah dewan bangsa ini? Bagaimana mungkin mereka akan menyelesaikan masalah-masalah yang berat bila masalah penggusuran saja mereka bertengkar dan saling memojokkan?

Pembicaraan yang terjadi hampir satu jam tidak ada hasil sama sekali. Tidak ada solusi yang kami dapat selain hanya menonton pembicaraan yang berbelit-belit dan saling menyalahkan macam rapat di rumah singgah saja. Argumen-argumen yang mereka ajukan sangat aneh dan tidak masuk akal. Ketika kami tanya bahwa penggusuran tepi sungai itu melawan perda no 19/2007. Mereka menjawab bahwa perda itu buatan pemprov, maka kalau mau protes silakan ke gubernur dan pemprov. Bagaimana mungkin walikota melanggar perda dan tidak ada sanksi hukum? Mereka menjawab itu bukan urusan dewan tapi gubernur. Mengapa bila rakyat biasa melanggar perda maka dibawa kepengadilan sedangkan walikota dibiarkan? Mereka mengatakan dewan hanya mampu mengeluarkan rekomendasi yang tidak punya kekuatan hukum. Rekomendasi sifatnya sunnah, diikuti baik kalau tidak diikuti tidak ada konsekwensi hukumnya. Aku pikir betapa hebatnya seorang walikota sehingga dia bisa berdiri di atas dewan dan perda?

Dalam perjalanan pulang timbul pertanyaan besar dalam hatiku. Buat apa aku memilih anggota dewan yang tidak ada gunanya seperti ini? Beginikah wajah wakilku yang katanya mewakili rakyatnya? Beginikah wajah orang-orang yang pada waktu kampanye dulu berjanji akan memperjuangkan rakyat yang miskin dan tertindas? Ternyata mereka hanya sapi ompong yang bermalas-malasan saja.

0 komentar:

Posting Komentar