Kamis, 11 Juni 2009

MANOHARA ODELIA PINOT DAN SITI HAJAR


Akhir-akhir ini banyak orang membicarakan Manohara Odelia Pinot, seorang gadis cantik yang dijadikan istri oleh putra raja Kelantan, Tengku Muhammad Fakhry. Hampir setiap hari beberapa stasiun televisi swasta memuat berita tentang Manohara dan ibunya yang sangat gencar melakukan kampanye sambil berlinang air mata. Banyak orang menjadi iba akan nasib yang menimpa seorang gadis cantik seperti Manohara. Kisah Manohara, yang mirip cerita sinetron, menjadi sebuah kasus yang besar, sebab melibatkan dua negara dan terkait dengan anak seorang raja. Maka pengacara Manohara tidak segan untuk mengkritik dubes RI di Malaysia dengan kata-kata yang cukup pedas bagi telinga seorang pejabat negara. Kisah Manohara memicu juga demo anti Malaysia yang juga dikaitkan dengan kasus perbatasan Ambalat.

Lain Manohara lain pula nasib Siti Hajar. Dia seorang pembantu rumah tangga yang mengalami penyiksaan mengerikan selama 3 tahun oleh Michel, majikannya. Siti Hajar seorang janda dari Garut yang bekerja di Malaysia. Ketika bekerja dia diberi janji akan dibayar 17.000 ringgit selama 34 bulan atau 500 ringgit per bulan. Bila melihat kurs 1 ringgit sama dengan Rp 2900, maka penghasilan Siti Hajar Rp 1.450.000/ bulan. Sebuah gaji yang lumayan tinggi bagi seorang pembantu rumah tangga. Tapi gaji besar hanya menjadi sebuah impian sebab selama bekerja dia belum pernah dibayar sebaliknya dia mendapatkan penyiksaan yang sangat mengerikan.

Kisah memilukan yang dialami Siti Hajar bukanlah yang pertama terjadi. Sejak tahun 2004 ada minimal 9 kasus TKI yang mengalami penyiksaan mengerikan di Malaysia. Tahun 2004 dialami oleh Nirmala Bonat, seorang gadis dari Kupang. Wajahnya menjadi mengerikan akibat siksaan dari majikannya. Siti Hajar pun tidak kalah mengerikan dibandingkan dengan Nirmala Bonat. Beberapa kali dia disiram air panas dan dipukul. Wajahnya pun berubah menjadi mengerikan.

Namun nasib Siti Hajar jauh berbeda dengan nasib Manohara. Berita tentang Siti Hajar hanya ditayangkan beberapa saat saja oleh stasiun TV, sehingga bila orang ditanya siapa Siti Hajar maka banyak yang menjawab dia adalah ibu dari nabi Ismail. Tetapi bila orang ditanya siapa Manohara, maka dengan cepat akan menjawab dia seorang model yang disiksa oleh keluarga kerajaan. Dengan demikian kasus Siti Hajar memang tidak terungkap secara luas.

Kasus penyiksaan pembantu selamanya tidak pernah mempengaruhi orang secara luas. Jarang orang peduli bila ada pembantu yang disiksa. Padahal entah sudah berapa banyak TKI yang mengalami siksaan mengerikan dari para majikannya. Kasus ini akan timbul sesaat setelah itu dilupakan tanpa akhir yang jelas. Tidak ada pengacara hebat yang mau terlibat apalagi sampai penyelamatan yang melibatkan FBI segala. Tidak ada liputan yang gencar dan tayangan TV yang terus menerus. Seolah kasus ini hanyalah kasus biasa saja. Atau mungkin status pembantu kurang menarik untuk ditayangkan, sebab tayangan TV lebih mementingkan tuntutan pasar daripada memberikan berita. Atau mungkin ibu para pembantu itu tidak segencar ibu Manohara dalam berkampanye.

Siti Hajar dan Manohara adalah sama-sama perempuan mengalami siksaan bahkan Siti Hajar jauh lebih parah dan mengerikan. Bila Manohara dieksploitasi habis-habisan mengapa Siti Hajar tidak? Inilah lemahnya neoliberalisme, dimana semua diukur dengan keuntungan materi. Apa saja yang menguntungkan akan dieksploitasi habis-habisan. Orang pun akan bergerak bila ada yang menguntungkan bagi dirinya. Akibatnya nilai manusia diabaikan. Manohara yang cantik dan model atau selebritis akan memberikan keuntungan bagi TV untuk mengeksploitasinya sebaliknya Siti Hajar yang biasa saja dan hanya pembantu tidak memberikan keuntungan.

Kisah Manohara dan Siti Hajar menunjukkan jelas bahwa manusia dinilai bukan dari dirinya sebagai citra Allah atau martabatnya melainkan dari statusnya. Seharusnya pembelaan bukan karena orang itu cantik dan selebritis melainkan karena dia manusia yang perlu mendapatkan perlindungan dan pembelaan. Inilah tantangan kita dewasa ini dimana kita sering melihat manusia berdasarkan status dan situasi hidupnya bukan dari martabatnya. Bila Yesus ada saat ini apakah yang akan Dia lakukan ketika melihat kasus Manohara dan Siti Hajar? Yesus datang untuk membela orang yang miskin dan lemah tanpa memandang status dan kedudukan atau harta yang dimilikinya. BagiNya semua manusia adalah bermartabat sama, bahkan orang yang miskin dan lemah adalah prioritas utama.

0 komentar:

Posting Komentar