Rabu, 24 Juni 2009

ABRAHAM DAN LOT

Dalam Kejadian 13 dikisahkan perisahan antara Abraham dan Lot, keponakannya. Mereka berdua mempunyai banyak ternak, sedangkan lahan tempat penggembalaan sangat terbatas. Akibatnya gembala-gembala mereka sering bertengkar berebut lahan. Agar mereka tidak bertengkar maka Abraham mengajukan pada Lot untuk berpisah. Tampaknya Abraham adalah orang yang tidak suka ribut apalagi dengan keluarganya sendiri untuk soal kekayaan.

Ketika akan berpisah Abraham mempersilakan Lot untuk memilih tempat yang akan ditinggali. Lot melihat bahwa daerah lembah Yordan sebagai tempat yang subur dan banyak air yang sangat dibutuhkan oleh ternaknya. Begitu suburnya daerah itu sampai digambarkan sebagai taman Tuhan. Pilihan Lot membuat Abraham pergi ke Hebron dan menetap di Mamre. Daerah ini kurang subur dan merupakan padang pasir.

Keputusan Abraham untuk mempersilakan Lot memilih terlebih dahulu adalah suatu sikap yang agak mengherankan. Dia seorang tua, kaya dan merupakan paman dari Lot. Tapi Abraham tidak menggunakan semua itu untuk kepentingan dirinya. Dia lebih memikirkan Lot daripada dirinya sendiri. Budaya Yahudi menganut sistem patriakal sama dengan hampir banyak budaya di Indonesia. Dalam sistem ini seorang bapak mempunyai kekuasaan yang sangat besar. Maka keputusan Abraham merupakan sesuatu yang mengejutkan. Adalah wajar kalau dia memilih terlebih dahulu dan menyuruh Lot untuk pergi menjauhinya. Tapi Abraham tidak! Dia tidak memikirkan dirinya sendiri melainkan memikirkan kebahagiaan orang lain.

Jaman ini banyak orang menjadi sangat egois. Mereka berusaha mendapatkan apa saja yang menurutnya baik bagi dirinya tanpa peduli orang lain. Aku sering terheran-heran melihat orang berebut barang di toko yang sedang mengadakan diskon besar. Mereka berdesak dan berusaha mendapatkan yang terbaik sebanyak mungkin tanpa peduli pada orang lain yang mungkin jauh lebih membutuhkannya. Ketika akan naik angkutan orang berdesak-desakkan berusaha naik terlebih dahulu agar mendapatkan tempat yang nyaman bagi dirinya tanpa peduli sesamanya. Padahal semua itu bukan soal hidup dan mati. Sebaliknya tempat yang subur merupakan masalah hidup dan mati bagi Abraham dan Lot saat itu. Keputusan Abraham untuk mempersilakan Lot memilih terlebih menggambarkan bahwa dia adalah orang yang menginginkan orang lain bahagia meski dirinya menderita. Ini adalah kurban. Di jaman yang semakin egois ini kita diajar oleh Abraham untuk membangun sebuah budaya baru. Budaya kurban demi kebahagiaan sesama. Hal ini dapat dimulai dari hal dan tindakan sederhana.

Sering kali aku terheran-heran melihat orang yang sudah kaya tapi terus mengejar kekayaan sampai melakukan hal-hal yang sangat merugikan orang lain. Ada orang yang sudah kaya tapi masih tega dengan cara licik menguasai harta warisan yang seharusnya dibagi dengan saudaranya. Pada jaman ini sering kali harta lebih penting daripada persaudaraan. Kita dapat belajar dari Abraham yang lebih mementingkan persaudaraan dan keutuhan keluarga daripada harta kekayaan.

Abraham mendasarkan pilihan bukan atas penglihatan manusiawi melainkan atas ketaatan pada kehendak Tuhan. Apa yang bagus dalam pandangan kita ternyata belum tentu bagus bagi diri kita. Lot memilih lembah Yordan dekat Sodom, ternyata akhirnya kota itu dihancurkan oleh Allah. Sering kali kita seperti Lot berusaha memilih yang terbaik menurut pandangan kita tanpa melibatkan Allah. Seorang teman sudah bekerja di sebuah perusahaan. Suatu hari dia ditawari pindah kerja ke perusahaan lain yang menurutnya lebih bagus. Ternyata tidak berapa lama kemudian perusahaan itu bangkrut, sehingga dia kini menganggur. Dia kini hanya mampu menyesali pilihannya. Abraham berusaha mendasarkan pilihan hidupnya pada kehendak Allah. Dia berusaha mendengarkan suara Allah dan taat padaNya. Hal ini bisa terjadi bila kita mempunyai relasi yang dekat dengan Allah melalui doa dan merenungkan segala peristiwa hidup.

1 komentar:

  1. ya.. saya tertarik dengan lagu ini ketika menonton film Finding Forrester, yang bercerita tentang seorang penulis.

    BalasHapus