Selasa, 23 Juni 2009

BERBAGI

"Barangsiapa mempunyai dua helai baju, hendaklah ia membaginya dengan yang tidak punya, dan barangsiapa mempunyai makanan, hendaklah ia berbuat juga demikian." (Luk 3:11)

Mengikuti Yesus adalah sebuah keradikalan. Keberanian meninggalkan segala sesuatu dan keberanian untuk berbagi dengan sesama bahkan sampai nyawa. Semangat ini diteruskan oleh Gereja perdana, dimana mereka memberikan apa yang mereka miliki untuk sesamanya. “Sebab tidak ada seorang pun yang berkekurangan di antara mereka; karena semua orang yang mempunyai tanah atau rumah, menjual kepunyaannya itu, dan hasil penjualan itu mereka bawa dan mereka letakkan di depan kaki rasul-rasul; lalu dibagi-bagikan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya” (Kis 4:34-35). Namun semangat ini telah bergeser jauh ketika Gereja memasuki jaman keemasannya yaitu setelah agama Kristen menjadi agama kerajaan Romawi.

Kita boleh memiliki harta benda. Segala yang kita miliki adalah anugerah Allah. Sesuatu yang dipercayakan Allah pada kita dengan tujuan untuk melayani sesama mencapai kesejahteraan bersama. Oleh karena tujuan adalah untuk kesejahteraan bersama maka apa bila kita memiliki harta yang lebih hendaknya dibagikan pada yang kekurangan. Berbagi membutuhkan keberanian, sebab orang selalu ingin mempertahankan apa yang dimilikinya. Bahkan kalau memungkinkan dia akan menambah kepemilikannya. Lebih jauh lagi orang terlekat dengan apa yang dimiliki. Disinilah tantangannya sejauh mana kita meski memiliki namun tidak ingin dikuasai oleh kepemilikan kita. Kita punya harta tapi tidak dikuasai oleh harta. Kita mengatur harta bukan diatur oleh harta.

Semangat berbagi dapat ditumbuhkan bila dalam hati ada semangat belas kasih pada sesama serta kesadaran bahwa Allah telah berbelas kasih pada kita. Segala yang kita miliki berasal dari belas kasih Allah. Kesadaran akan belas kasih ini menumbuhkan kesadaran akan belas kasih pada sesama. Belas kasih Allah kita terima setiap saat. Tidak selalu dalam hal yang besar dan hebat. Maka belas kasih pada sesama tidak perlu menunggu bila kita sudah mempunyai kelebihan, sebab manusia sulit untuk merasa cukup. Agar mampu berbelas kasih juga dibutuhkan kepekaan hati. Rasa yang membuat kita empati yaitu membayangkan seandainya aku menjadi dia. Bila melihat orang lapar kita membayangkan bagaimana bila kita yang lapar? Dari kepekaan ini akan tumbuh belas kasih dan dorongan untuk bertindak.

Suatu hari Ibu Teresa diberitahu bahwa ada satu keluarga Hindu dengan 8 anak yang kelaparan. Maka Ibu Teresa berangkat ke rumah keluarga itu sambil membawa nasi. Sesampai disana Ibu Teresa memberikan nasi itu pada ibu yang kelaparan. Ibu itu segera membagi nasi untuk anak-anaknya dan membawa sebagian lagi ke rumah tetangganya yang beragama Islam. Ketika ditanya oleh Ibu Teresa mengapa dilakukan hal itu? Ibu itu menjawab bahwa keluarga tetangganya juga sudah beberapa hari tidak makan. Ibu Teresa menulis, “Tak dapat aku lukiskan wajah anak-anak itu. Ketika aku masuk, aku tahu mereka menderita. Aku dapat melihat wajah-wajah kurus mereka. Aku dapat melihat mata mereka yang menyorotkan kelaparan. Ketika aku pulang, mata mereka bersinar suka cita sebab baik ibu maupun anak-anaknya mampu berbagi kasih pada sesamanya yang sangat menderita.”

1 komentar:

  1. suatu hari anak jalanan yang kudampingi mengirim SMS, " bu, kenapa ibu masih saja mengasihi kami, padahal kami tidak pernah membuat ibu bahagia?" Aku jawab " karena Tuhan sudah lebih dulu mengasihi ibu." dia tanya lagi:" rumah ibu pasti besar, ada kolamnya, ibu pasti kaya raya." kujawab "gak, rumah ibu kecil, yayasan ini lebih besar dan lebih bagus dari rumah ibu, di kampung lagi, ibu bukan orang kaya." Ketika suatu hari dia kerumah, dia nyeletuk lagi :" ibu ternyata hanya orang biasa yang mau berbagi." Segala puji dan kemuliaan bagi Tuhan.

    BalasHapus