Selasa, 23 Juni 2009

BERSYUKUR

Lalu Yesus berkata: "Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini? (Luk 17:17-18)

Orang kusta pada jaman itu dihilangkan hak-haknya dan dikucilkan dari masyarakat. Lembaga yang menentukan semua itu adalah para imam kepala yang dianggap sebagai pemimpin tertinggi bangsa Israel setelah kerajaan Israel runtuh. Para imam kepala jugalah yang dapat memulihkan status mereka di masyarakat bila mereka sembuh. Maka ketika ada 10 orang kusta yang memohon kesembuhan, Yesus memerintahkan mereka untuk pergi ke imam kepala agar dipulihkan status mereka di masyarakat. Diterima kembali oleh masyarakat sebab telah sembuh. Namun dari 10 orang itu hanya satu yang kembali pada Yesus untuk berterima kasih.

Dalam hidup Allah telah memberikan berbagai anugerah kepada manusia. Anugerah terbesar adalah pemulihan martabat manusia. Pada awal penciptaan manusia menjadi ciptaan yang mulia. Namun karena dosa Adam dan Hawa maka manusia diusir dari taman Firdaus. Dosa menyebabkan manusia kehilangan martabat sejatinya sebagai gambaran diri Allah. Dosa pula membuat manusia juga terkucil dari dirinya dan sesamanya. Manusia saling menyalahkan dan menghakimi sesamanya seperti Adam menyalahkan Hawa dan Hawa menyalahkan ular. Yesus datang ke dunia untuk memulihkan martabat manusia yang rusak akibat dosa. Dia mengangkat manusia menjadi anak Allah dan Allah menjadi Bapa manusia.

Namun banyak orang tidak menyadari anugerah terbesar itu. Mereka tidak berterima kasih bahkan sebaliknya masih mudah sekali mengeluh pada Allah yang dianggap kurang berbelas kasih. Seharusnya kesadaran pemulihan martabat ini menjadi dasar ucapan syukur yang tiada habisnya. Ucapan syukur bukan hanya dengan kata melainkan juga dengan tindakan. Maka hendaknya kita melihat tindakan kita apakah sudah merupakan perwujudan rasa syukur? Kita pun dapat bertanya pada diri sendiri bila Allah sudah memulihkan martabat kita mengapa kita tidak memulihkan martabat sesama dan tidak memandang rendah sesama? Apakah aku sudah mensyukuri semua yang ada dalam hidupku? Apakah yang sudah kulakukan sebagai buah syukurku?

Ibu Teresa adalah orang yang berusaha memulihkan martabat manusia. Dia merawat orang-orang yang sudah dibuang oleh keluarga dan masyarakatnya. Orang yang sudah tidak dianggap manusia sehingga dibiarkan mati di tempat-tempat sampah dan selokan. Suatu hari Ibu Teresa bersama para suster menemukan seorang perempuan yang sudah sekarat di tepi jalan. Ibu Teresa memutuskan untuk merawat sendiri perempuan itu. Saat dirawat perempuan itu tersadar lalu mengucapkan “Terima kasih.” Setelah itu dia meninggal. Dalam permenungannya, Ibu Teresa berkata, “Seandainya aku menjadi dia apa yang akan kuperbuat? Aku jawab sendiri, “Pasti akan berbuat sebisanya untuk menarik perhatian orang lain. Pasti aku akan merengek, “Aku aya lapar. Aku kedinginan.” Atau “Aku sekarat.” Sebaliknya perempuan itu sungguh luar biasa. Dia mengucapkan “Terima kasih.” Orang miskin sungguh menganggumkan.

Dalam kesederhanaan dan kemiskinan banyak orang yang mudah sekali mengucapkan syukur. Mereka mengucapkan terima kasih atas hal-hal kecil yang diterima. Mereka tidak menuntut hal besar. Sebaliknya kita sering kali ingin mendapatkan anugerah Allah yang lebih banyak atau besar dari yang sudah dimiliki. Oleh karena itu Ibu Teresa senantiasa mengajarkan agar kita mau belajar dari orang miskin.

1 komentar:

  1. Tuhan berbicara kepada manusia melalui siapa saja, melalui apa saja, melalui cara apa saja. hatiNya yang lembut penuh kasih selalu ingin berbagi agar yang menerimapun mampu berbagi.Jika demikian keadaannya maka kasih Allah yang tanpa batas merambah setiap hati manusia,...betapa damainya bumi ini. Semoga Tuhan terus berbicara melalui Romo dengan renungan-renungan untuk direnungkan.Terimakasih Romo.

    BalasHapus