Minggu, 21 Juni 2009

SIAPA YANG TAKUT MELEMPAR BATU?

Anak seorang tokoh umat sedang tersandung masalah besar dan menjadi pembicaraan publik sebab dimuat dalam berbagai media masa. Banyak orang mulai kasak kusuk membicarakan bagaimana mereka tidak mengetahui bila anaknya melakukan hal yang dilarang oleh negara? Beberapa orang menyesali perbuatan anaknya yang dianggap nakal sejak masih remaja. Beberapa lagi mengkritik tokoh itu yang dianggap gagal mendidik anaknya sehingga sering membuat masalah. Masih ada beberapa pendapat lain yang beredar dari mulut ke mulut dan intinya menyalahkan keluarga itu.

Orang itu ketika masih menjadi tokoh umat sangat disegani. Dia dikenal hampir oleh semua umat di tempat ini, sebab dia terlibat dalam beberapa organisasi dan kepengurusan Gereja. Pada saat itu banyak orang memujinya sebagai tokoh yang hebat. Namun ketika jatuh semua kehebatan dan pujian itu hilang begitu saja. Mengapa orang begitu mudah melupakan kebaikan seseorang hanya karena sebuah masalah? Inilah beratnya bila seorang ditokohkan. Sedikit kesalahan saja dapat menjadi bahan gunjingan. Apalagi bila kesalahannya sangat fatal dan menjadi sorotan publik, maka segala yang dibangunnya akan runtuh.

Apakah manusia tidak boleh jatuh? Memang diharapkan manusia hidupnya selalu bersih. Semua orang pun ingin hidup baik namun tidak jarang ada saat dimana manusia tidak mampu menguasai dirinya atau situasi di sekitarnya sehingga jatuh dalam dosa. Tokoh itu tidak mampu menguasai perilaku anaknya yang sudah dianggap dewasa sehingga anaknya jatuh. Hal ini bukan untuk membenarkan orang yang jatuh dalam kesalahan-kesalahan fatal atau dosa. Atau membangun sikap permisif dalam diri sehingga bila jatuh dalam dosa merasa tidak perlu dipersoalkan. Namun ada saat manusia lengah. “Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.” (1Ptr 5:8). Ada saat dimana manusia tidak siap dan berjaga.

Sesama adalah cermin diri kita. Sering kali dalam diri kita tersimpan dosa-dosa yang kita tutup rapat agar orang lain tidak tahu. Kita sadar bahwa ada bagian sejarah hidup yang ingin kita tolak. Namun itu sudah menjadi bagian sejarah hidup. Akibatnya kita masuk dalam konflik diri. Bila sesama jatuh dalam dosa seolah kita diingatkan akan dosa kita sendiri. Kemarahan dan kekecewaan pada orang sebetulnya kekecewaan dan kemarahan pada diri sendiri. Dalam hal ini dibutuhkan sikap rendah hati, dimana kita berani menerima segala luka dan dosa yang mewarnai sejarah hidup kita. Semakin berani menerima kekurangan dan kelemahan diri maka akan semakin mudah untuk menerima orang yang jatuh dalam dosa dan tidak mudah menggunjingkannya.

Namun sikap rendah hati yang membawa kesadaran bahwa kita juga adalah manusia yang lemah, bukanlah suatu hal yang mudah. Kita ingin tampil sebagai orang baik yang tidak pernah berdosa. Maka bila ada sesama yang berdosa kita akan menghujatnya agar perhatian orang lain tidak tertuju pada kita melainkan pada orang yang dianggap berdosa. Agar orang lain tidak memperhitungkan dosa kita melainkan dosa orang lain. Yesus mempunyai cara yang unik untuk menyadarkan orang bahwa dirinya juga berdosa. "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.”. (Yoh 8:7) Tantangan yang dilontarkan oleh Yesus juga ditujukan pada semua orang, termasuk kita. Ternyata kita berani meladeni tantangan Yesus. Kita melempari orang yang berdosa dengan gunjingan, tatapan sinis, memperbesar masalah yang ada dan sebagainya. Itulah batu-batu yang kita lemparkan pada orang yang berdosa. Bila orang Farisi yang sering kita kecam sebab kita anggap sebagai orang munafik saja malu untuk melempari perempuan yang tertangkap basah berbuat dosa, ternyata kita jauh lebih parah daripada orang Farisi. Orang Farisi setelah mendengar tantangan Yesus lalu pergi dengan sembunyi-sembunyi karena malu, namun bila kita ada disana akan menjawab, “Siapa takut!” lalu mengambil batu dan melempari perempuan itu.

3 komentar:

  1. Manusia adalah cermin bagi sesamanya,layak diri ini renungkan dan pahami. Melihat, memahami apa yang dialami orang lain bisa juga diri ini alami ketika berada dalam kondisi dan situasi yang sama. Maka lakukan apa yang dapat menolong, meskipun kecil, lebih baik mendoakan daripada mempergunjingkan. Memandang sesama sebagai manusia seperti diri ini juga manusia, yang bagaimanapun kuatnya bisa jatuh. Itulah manusia. Terimakasih Tuhan untuk FirmanMu pagi ini.

    BalasHapus
  2. Hi. Aku free thinker, ingin tanggapin ayat di Yohanes 8. Ayat itu indah sekali. Itu menunjukkan bahwa Yesus tidak mau diperbudak oleh hukum, meski hukum itu dianggap sebagai buatan Tuhan. Pola pikirnya melebihi manusia rata-rata. Ia bisa disejajarkan dengan Buddha. Hukum buat manusia, bukannya manusia untuk hukum.
    Tapi ada sebagian orang yang mengatakan "Lo... bukankah itu menunjukkan bukti bahwa Yesus adalah pendosa karena ia tidak berani melakukan lemparan pertama!".
    Bayangkan saja, seseorang dengan kelas Yesus saja masih diragukan ... bagaimana komentar kita jika menanggapi tingkah laku seorang perampok / pemerkosa / penjarah harta orang / pembunuh?? KLebih aneh lagi kok bisa-bisanya orang semacam ini dijadikan nabi? Ya gak?

    BalasHapus
  3. Tambahan sedikit dari aku si Free Thinker. Maksudku di kalimat yang terakhir dalam komentar 22 Juni adalah: "Ada lo SEORANG KRIMINAL yang terkenal sebagai pembunuh / perampok / pemerkosa dijadikan NABI bagi sekelompok orang". Hal ini sungguh menjadi fenomena yang aneh. Entah di mana hati nurani kelompok orang tsb? Mungkin karena mata mereka telah dibutakan oleh sinar keyakinan yang jahat.

    BalasHapus