Minggu, 21 Juni 2009

DISALIB DAN MENYALIBKAN

Penyaliban Yesus adalah suatu peristiwa yang sangat mengerikan. Setelah semalaman disiksa lalu Dia harus memanggul salib menuju ke Golgota. Meski sudah tersungkur tanpa daya, namun Dia tetap harus memikulnya. Dalam kondisi tubuh yang telah tidak berdaya, Dia dipaku pada kayu salib dan dibiarkan tergantung selama beberapa jam terbakar panas terik matahari. Ketika haus Dia diberi minum cuka yang membuatNya bertambah haus. Siksa akhir yang diterima adalah jenasahNya ditusuk tombak.

Pada saat mengikuti ibadat jalan salib kita terharu membayangkan drama penyiksaan yang mengerikan itu. Kita bisa gregetan dan marah melihat penduduk Yerusalem yang beramai-ramai mengutuki Yesus. Padahal mungkin sebagian dari mereka dulu pernah menyanjung dan ingin disentuh olehNya. Mereka percaya bahwa Yesus akan mampu menyelematkannya, sehingga mereka begitu antusias saat Yesus masuk Yerusalem. Lalu kemana mereka semuanya ketika Yesus disalibkan? Kemana 5000 orang pria dan ribuan anak dan perempuan yang mengikuti Dia? Semua hilang ditelan bumi.

Pada jaman ini kisah penyaliban masih terus berlangsung di berbagai tempat bahkan mungkin ada di sekitar kita. Mungkin kitalah yang disalibkan atau sebaliknya kitalah yang menjadi aktor utama penyaliban sesama. Orang miskin yang hanya punya gubuk ditepi sungai dibongkar paksa dengan kekerasan. Pedagang yang menanamkan semua modalnya dalam sebuah kereta dorong digaruk oleh petugas penertiban kota dan isi keretanya dihancurkan. Orang yang sudah tua dan sakit dibiarkan tergeletak menderita di tepi jalan. Istri yang sudah berusaha melayani suaminya dengan sepenuh hati dipukuli hanya karena kesalahan sedikit saja. Masih banyak lagi contoh penyaliban jaman kini. Kemana kita ketika mereka disalibkan? Mengapa kita yang terharu ketika mengikuti jalan salib ternyata berubah menjadi prajurit yang menyalibkan orang-orang di sekitar kita dengan sangat keji?

Kita juga dapat menjadi orang yang bersorak sorai ketika Yesus masuk Yerusalem namun setelah melihat kerumunan masa yang menghujatNya maka kita pun berbalik menjadi orang yang menghujat Yesus. Sering dalam hidup kita takut untuk mengambil resiko melawan arus. Dalam hati kita sudah mencanangkan tidak akan korupsi, namun ketika semua orang di tempat kerja melakukan korupsi, maka kita pun menjadi terlibat korupsi. Kita tahu hal itu salah tapi kita tidak berani mengambil resiko untuk melawan teman-teman seprofesi. Atau kita lebih suka lari bersembunyi sambil menyesali diri. Kita yakin bahwa Yesus akan membawa keselamatan, namun ketika orang disekitar kita menghujat Yesus maka kita diam saja. Kita tidak berani menunjukkan bahwa kita adalah pengikut Kristus. Kita menjadi seperti Petrus yang menyangkal Yesus.

Inilah tantangan kita. Dalam negara yang katanya berlandaskan kebhinekaan, namun dalam praktek sehari-harinya masih tampak samar-samar, membuat kita sering mengambil peran seperti pengikut Yesus pada jaman itu. Kita lebih suka bersembunyi dan mengikuti arus daripada bertahan pada ajaran dan keyakinan akan ajaran Yesus. Bahkan sebaliknya kita pun terlibat dalam penyiksaan dan penyaliban Yesus yang ada dalam saudara dan saudari kita dengan perbuatan-perbuatan, sikap dan kata kita yang tajam sehingga membuat mereka menderita.

Mengikuti Yesus bukan hanya sekedar berdoa atau mengikuti ibadat jalan salib, namun melakukan hal-hal yang nyata. Yakobus menantang, "Tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku." (Yak 2:18). Mengikuti Yesus bukan sekedar mengejar masuk surga setelah meninggal tapi bersama-sama membangun surga di dunia ini. Surga atau Kerajaan Allah baru akan terbangun bila kita berani menjalankan ajaran Yesus secara konsisten meski harus disalibkan. “Tetapi sekalipun kamu harus menderita juga karena kebenaran, kamu akan berbahagia. Sebab itu janganlah kamu takuti apa yang mereka takuti dan janganlah gentar” (1Ptr 4:16)

1 komentar:

  1. Seandainya diri ini yang disalib, karena keadaan, karena tuntutan, karena tidak adanya tanggungjawab untuk berjuang agar hidup tetap berlangsung seperti seharusnya,..maka kekuatan ada pada kayu salib itu. Cinta tanpa pamrih, cinta yang tidak menuntut, cinta meski tidak dicintai,cinta meski menderita..seperti air mengalir yang tiada pernah berhenti..terus mengalir,..terus memberi..pandang salib itu!

    BalasHapus