Kamis, 18 Juni 2009

CINTA UANG


Seorang teman tertawa ketika melihatku membeli seikat kangkung di sebuah supermarket. Dia bertanya buat apa seikat kangkung itu? Aku jelaskan bahwa aku punya seekor iguana dan binatang itu suka makan kangkung, maka aku belikan disini. Temanku mengejek kok mewah sekali untuk memberi makan iguana saja harus membeli kangkung di sebuah supermarket. Memang tampaknya mewah dan boros, tapi sebetulnya tindakanku adalah sebuah penghematan.

Iguana yang kupelihara masih kecil. Dia hanya membutuhkan 3 sampai 4 tangkai kangkung setiap harinya. Bila aku membeli kangkung di pasar memang harganya lebih murah. Dengan Rp 1000 aku sudah mendapat satu ikat besar. Tapi kangkung sebanyak itu dalam dua hari akan kubuang sebab daunnya sudah layu dan banyak yang busuk. Harga kangkung di supermarket memang lebih mahal yaitu Rp 1900 satu ikat yang lebih kecil dibandingkan kangkung harga Rp 1000 di pasar. Tapi bila beli di supermarket maka kangkung akan awet selama seminggu. Jadi bila aku beli di pasar maka setiap dua hari sekali aku harus membeli dan membuang kangkung. Tapi bila beli di supermarket maka aku hanya membeli seminggu sekali. Aku juga tidak perlu membuang kangkung yang busuk dan layu.

Aku tidak tahu mengapa sayur dan buah di supermarket bisa awet dan tidak busuk. Pernah aku mencoba meletakkan sebuah apel di meja. Aku ingin tahu apakah apel itu akan busuk atau tidak. Ternyata setelah 4 bulan apel itu tidak busuk. Hanya sedikit kisut di kulitnya. Padahal apel yang baru dipetik dalam waktu satu minggu saja sudah akan dimakan ulat dan busuk. Aku yakin bahwa apel itu sudah diberi suatu bahan kimia sehingga menghambat proses pembusukan. Untuk mengetahui mengapa apel tidak busuk perlu penyelidikan oleh ahli kimia dan pertanian. Ini bukan bidangku.

Sudah banyak orang membicarakan bahwa banyak sayur dan buah diberi bahan kimia sehingga ulat tidak mau memakannya atau untuk menghambat proses pembusukan. Aku tidak tahu apakah bahan kimia itu berbahaya bagi kesehatan manusia atau tidak. Kalau toh membahayakan mengapa dipakai juga? Inilah tuntutan jaman dimana orang berusaha meraih keuntungan sebanyak mungkin tanpa peduli apakah yang dilakukan akan membahayakan kesehatan manusia atau tidak. Dalam pemberitaan di TV maupun koran beberapa kali dikisahkan orang yang sengaja menggunakan bahan kimia untuk pembuatan makanan agar tampak bagus, bersih dan awet. Padahal bahan kimia itu berbahaya bagi kesehatan manusia. Orang tidak peduli lagi akan keselamatan konsumen. Baginya hal yang terpenting adalah dia mendapat keuntungan yang banyak.

St. Paulus mengatakan ”Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.” (1Tim 6:10). Pada jaman ini oleh karena uang orang tidak hanya menyimpang dari iman tapi juga menyimpang dari norma-norma dan nilai-nilai kehidupan. Orang tega berlaku kejam pada sesamanya bahkan keluarganya demi uang. Orang tega merendahkan martabat sesamanya bahkan dirinya demi uang. Maka benar bahwa uang adalah akar segala kejahatan. Dalam hal ini bukan uang yang bermasalah tapi rasa cinta pada uanglah yang menjadi masalahnya.

Orang sudah menggeser fungsi uang dari yang semula sebagai sarana penunjang hidup menjadi tujuan dari hidup. Orang berlomba untuk mengumpulkan uang sebanyak mungkin. Maka pada jaman ini orang dihormati bila punya uang. Pada jaman dahulu orang dihormati bila dia keturunan bangsawan atau mempunyai gelar akademis atau ketrampilan dalam sebuah bidang. Namun pada jaman ini orang tidak peduli lagi dengan semua gelar dan ketrampilan. Meski ada orang yang punya sederet gelar dan ketrampilan tapi bila tidak punya uang maka dia tidak akan dihormati sebagai manusia. Dengan uang orang dapat membeli segalanya bahkan sesamanya.

1 komentar:

  1. Seandainya diri ini sadar bahwa setiap saat kita bisa saja "berangkat"...lalu semuanya itu tidak ada gunanya lagi. ..seandainya diri ini sadar bahwa apa yang diterima harus dibagikan, karena untuk itulah kita diberi...Tuhan semoga diri ini Engkau sadarkan selalu bahwa tidak mungkin mengabdi kepada dua mamon. Biar Engkau saja pusat hidup ini.Amin

    BalasHapus