Rabu, 17 Juni 2009

LULUS


Di sebuah jalan protokol macet total. Serombongan anak-anak SMA dengan mengendarai sepeda motor memenuhi seluruh badang jalan, sehingga tidak ada kendaraan yang mampu mendahului mereka. Padahal mereka bergerak lambat sehingga membuat macet. Hampir semua masih mengenakan seragam sekolah. Baju putih dan celana atau rok abu-abu. Pakaian mereka tidak lagi bersih, sebab penuh dengan corat caret cat aneka warna. Anak-anak itu sedang bersuka cita merayakan kelulusan sekolah.

Mengapa kelulusan dirayakan seperti itu? Seorang teman mengatakan inilah akibat sistem pendidikan yang menindas, sehingga kelulusan adalah saat keterlepasan dari penindasan. Saat mereka merdeka. Mendengar pendapat itu aku tersenyum. Apakah memang sekolah sangat menindas sehingga saat kelulusan perlu dirayakan sedemikian rupa? Sistem pendidikan saat ini memang sangat berat. Aku kadang heran seorang anak SD berangkat sekolah dengan tas yang sedemikian besar penuh buku pelajaran. Bila melihat buku sebanyak itu pasti pelajarannya juga jauh lebih berat. Setelah menempuh pelajaran dan aneka tugas dan ulangan yang berat, mereka juga dibebani ujian nasional yang lebih berat lagi. Soal yang sama harus dikerjakan oleh semua murid tanpa peduli standart sekolahnya. Ada sekolah yang muridnya pandai tapi ada pula sekolah yang muridnya pas-pasan. Ada sekolah yang menjadi ruang belajar yang serius tapi ada pula sekolah yang asal-asalan saja. Semua harus mengerjakan soal ujian yang sama. Maka ketika lulus pantas saja mereka merasa merdeka dan terbebas dari aneka tekanan.

Pernah ada seorang warga Surabaya bercerita padaku. Ketika Soekarno Hatta mengumumkan kemerdekaan, maka dia sangat bersuka cita. Dia lalu mengajak teman-temannya pergi ke stasiun untuk naik trem, sebab selama ini mereka hanya mampu melihat orang naik trem listrik. Ketika kondektur meminta karcis maka mereka ngotot bahwa tidak perlu membeli karcis sebab Indonesia sudah merdeka. Kemerdekaan berarti bebas berbuat sesuka hatinya. Demikian pula anak-anak SMA itu. Mereka mengendarai motor tanpa helm. Jalan seenaknya. Bahkan ada yang berdiri di atas motor yang sedang berjalan. Mereka bebas mengendarai motornya tanpa takut akan polisi atau yang lain.

Seorang teman mengatakan bahwa mereka pantas bersuka cita sebab lulus. Apakah mereka sungguh bersuka cita? Lulus SMU bukanlah akhir dari perjalanan pendidikan, sebab ijasah SMU boleh dikatakan kurang ada gunanya untuk menunjang kehidupan. Saat ini berbekal ijasah S1 saja sulit untuk mendapatkan pekerjaan apalagi SMU, kecuali pekerjaan kasar atau buruh produksi. Bila dia anak orang kaya maka dia pasti akan melanjutkan sekolah atau mengembangkan usaha orang tua. Tapi bila dia anak orang yang kurang mampu maka lulus SMU menjadi saat yang membingungkan. Ingin kuliah tidak mempunyai biaya sedang mau bekerja sulit untuk mendapatkannya. Apakah ini menjadi suka cita? Apakah segala tingkah di jalanan itu bukan merupakan ungkapan kefrustasian akan masa depan? Selagi ada waktu untuk menunjukkan kekuatannya maka mereka akan menunjukkan, setelah itu mereka akan menjadi manusia yang lemah. Manusia yang gamang akan masa depannya.

Mobilku masih merambat di belakang barisan sepeda motor. Aku tersenyum prihatin melihat semua ini. Bagiku mereka saat ini hidup dalam kesemuan. Suka cita kelulusan yang semu. Di jalanan mereka bersorak sorai penuh suka cita, namun sesampai di rumah mereka bingung akan kemana setelah ini. Kuliah tidak mampu, bekerja tidak laku. Lalu apa?

0 komentar:

Posting Komentar