Selasa, 23 Juni 2009

PELAYANAN DAN DOA

“Jikalau seorang berkata: "Aku mengasihi Allah," dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya. Dan perintah ini kita terima dari Dia: Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya” (1Yoh 4:20-21)

Allah menyelamatkan dunia dengan mengutus PutraNya menjadi manusia. Peristiwa inkarnasi (Allah menjadi manusia) menjadi dasar karya keselamatan. Pada Perjanjian Lama manusia adalah gambaran Allah (Kej 1:26), tapi kehadiran Yesus mengubah semua itu. Allah ada dalam manusia “Pada waktu itulah kamu akan tahu, bahwa Aku di dalam Bapa-Ku dan kamu di dalam Aku dan Aku di dalam kamu.” (Yoh 14:20). Yesus pun bersabda bahwa Dia ada dalam saudara yang miskin.

Doa adalah sarana kita menjalin hubungan dengan Allah. Pada Perjanjian Lama Allah begitu jauh dan menakutkan, sehingga siapa yang melihat Allah akan mati. “Berkatalah Manoah kepada isterinya: "Kita pasti mati, sebab kita telah melihat Allah." (Hak 13:22). Maka mereka membuat Bait Allah dengan tempat khusus bagi Allah. Hanya para imam yang diijinkan untuk masuk ke tempat khusus itu. Inkarnasi Allah dalam diri Yesus membuat hubungan Allah manusia menjadi dekat. Allah dapat disentuh. Inkarnasi membuat Allah bukan lagi di tempat kudus melainkan ada dalam sesama kita (bdk Yoh 4:20-24). Maka apa yang dikatakan dalam surat Yohanes ini sangat benar bahwa mencintai Allah berarti mencintai manusia.

Sering kali kita memisahkan antara Allah dan sesama. Banyak orang tekun berdoa dan sudah merasa puas. Mereka merasa sudah menjalin hubungan yang baik dengan Allah melalui doa-doa. Bila menghayati peristiwa inkarnasi maka doa saja belum cukup. Allah bukan lagi di surga yang jauh tapi ada dalam saudara yang miskin. Doa tanpa pelayanan adalah mati. Namun pelayanan tanpa doa adalah kosong. Pelayanan adalah perwujudan doa-doa kita. Dalam doa kita melihat belas kasih Allah dalam hidup. Belas kasih ini kita bagikan pada sesama. Kesadaran Allah ada di saudara yang miskin bukanlah sesuatu yang mudah, sebab kita sudah terbiasa dengan konsep Allah ada di surga yang jauh dan tinggi. Selain itu kita sering mencari jalan yang mudah dan menyenangkan. Doa adalah sebuah tindakan yang mudah. Namun pelayanan adalah tindakan penuh pengurbanan. Dari sinilah dapat kita pahami bahwa keselamatan bukanlah hal yang mudah, melainkan harus melalui pintu yang sempit. Kita harus berjuang untuk mencapai dan memperoleh keselamatan.

Ibu Teresa mengkaitkan doa dan pelayanan secara seimbang. Semua pelayanannya merupakan wujud dari pengenalan akan Allah. Suatu hari Ibu Teresa berkata pada para susternya, “Kalian tahu bahwa kalian harus kesana (tempat pelayanan). Selama misa, kami selalu mengadakan misa sebelum berangkat kerja setiap paginya, renungkanlah kelembutan yang bagaimana dan kasih sebesar apa, Bapa memperlakukan tubuh Kristus. Yakinlah bahwa tubuh yang sama inilah yang akan kalian sentuh dalam diri orang miskin. Berilah kasih dan kelembutan yang sama.” Ibu Teresa mengalami kasih Allah dalam doa-doanya. Dengan pengalaman kasih itulah beliau memperlakukan orang miskin. Dalam doa-doanya Ibu Teresa mengalami keselamatan dari Allah, maka beliau mewartakan keselamatan ini dengan tindakan belas kasih seperti yang dilakukan oleh Allah pada dirinya.

0 komentar:

Posting Komentar