Kamis, 01 September 2011

APA YANG KAMU CARI?

Banyak orang Katolik bila ditanya mengapa dia menjadi Katolik maka jawabannya adalah karena orang Katolik bisa menampakkan kasih dan kedamaian. Tidak heran bila orang Katolik adalah salah satu komunitas yang paling mudah untuk berbagi. Pada saat puasa orang Katolik dapat mengumpulkan milyaran rupiah untuk disalurkan kembali kepada saudara-saudara yang berkekurangan. Bila ada bencana atau musibah dapat dipastikan orang Katolik langsung bergerak untuk mengumpulkan dana dan apa saja yang dapat menolong para korban. Mereka tidak peduli apakah kurban adalah orang Katolik atau bukan. Bagi mereka hanya ingin menolong meski ada juga yang menolak dengan alasan bahwa agama mereka tidak sama.

Tapi sebetulnya mengikuti Yesus bukan bertujuan untuk memberi dan melayani orang yang menderita. Sabda Yesus yang pertama kali dalam Injil Yohanes adalah sebuah pertanyaan yang ditujukan kepada dua orang murid Yohanes Pembaptis yang mengikutiNya, “Apakah yang kamu cari?” (Yoh 1:38). Pertanyaan ini bukan hanya ditujukan pada para murid Yohanes tapi juga pada kita semua. Pertama kali mengikuti Yesus yang perlu kita pertanyakan pada diri kita adalah apa yang kita cari? Demikian pula dalam setiap pelayanan dan aktifitas kita pun perlu bertanya pada diri sendiri apa sebenarnya yang kita cari dengan melakukan semua ini?

Pada awal pendampingan di anak jalanan dan kaum miskin aku sering ditanya orang apa yang aku cari di tempat-tempat kumuh seperti itu? Aku sering diam, sebab memang tidak tahu apa yang aku cari dengan membangun persahabatan dengan mereka. Aku hanya ingin berteman dan merasa kasihan pada mereka sebagai orang yang dimarginalkan oleh sesamanya. Orang yang diberi stigmata oleh masyarakat. Pertanyaan itu juga sering muncul bila sedang menghadapi masalah. Tidak jarang aku ingin meninggalkan semua aktifitas persahabatan itu. Aku bertanya pada diri sendiri apa sebenarnya yang aku peroleh dari semua aktifitas ini?

Setelah bertahun tahun baru aku sadar bahwa sebetulnya aku datang dan membangun persahabatan dengan mereka bukan hendak memberi atau melayani melainkan aku sedang mencari. Mencari sosok Yesus bagiku sendiri. Kesalahanku pada awal adalah aku merasa memiliki sesuatu dan ingin memberi atau menolong mereka yang menderita. Padahal sebenarnya aku sedang mencari siapa Yesus bagiku. Memang dalam kuliah Kristologi, Kitab Suci, Spiritualitas dan sebagainya sudah diajarkan siapa Yesus itu. Aku paham gelar-gelar Yesus secara historis dan dogmatis, sebab pernah membaca tulisan para ahli dan diuji oleh para dosen. Tapi aku hanya tahu Yesus secara intelektual belum bersekutu dengan Yesus secara pribadi. Maka aku berusaha mencari siapakah Yesus yang kuikuti.

“Guru dimanakah Engkau tinggal?” tanya dua murid Yohanes Pembaptis. Memahami Yesus mau tidak mau harus bersekutu dengan Yesus. Tinggal bersama Yesus di rumahNya. Dimanakah rumah Yesus saat ini? Bila Yesus ada dalam diri orang miskin dan tertindas, maka rumah Yesus ada disana. Rumah Yesus adalah rumah kaum miskin dan tertindas. Pinggir-pinggir jalan tempat berkumpulnya anak-anak jalanan. Tumpukan sampah tempat para pemulung. Gubuk-gubuk kecil di tepi sungai tempat tinggal kaum miskin. Yesus ada disana. Bila ingin mengenal Yesus secara pribadi harus berada disana. Menyatu dengan Yesus, sehingga memahami siapa Yesus bagiku.

Pada umumnya orang menjadi Katolik karena ingin mengikuti Yesus. Dengan mengikuti maka kita tidak berusaha mencari. Bertanya pada diri sendiri apakah sebenarnya yang kita cari dengan menjadi Katolik? Setiap orang tentu akan mempunyai jawaban yang berbeda. Tapi pertama kali kita harus mencari siapa Yesus bagi diriku sendiri, sehingga kita dapat seperti Andreas yang berkata pada Petrus, “Aku telah menemukan Mesias,” Andreas mengikuti Yesus setelah dia menemukan siapa Yesus bagi dirinya. Hal ini yang sering dilupakan oleh orang yang ingin menjadi Katolik atau orang Katolik sendiri.

0 komentar:

Posting Komentar