Minggu, 01 Februari 2009

DOA DAN KEHIDUPAN SEHARI-HARI

Doa dan kehidupan sehari-hari sangat berkaitan erat. Untuk melihat kehidupan doa seseorang, kita bisa melihat kehidupan sehari-harinya dan sebaliknya. Dalam Luk 18:9-14 Yesus mengkritik orang yang memandang rendah sesamanya dengan memberikan perumpamaan tentang 2 orang yang sedang berdoa. Orang Farisi yang berdoa dengan sombong, menunjukan bahwa kehidupan sehari-harinya juga sombong. Dia merasa bahwa dia lebih hebat dari pada orang lain, apalagi pemungut cukai yang dianggap sebagai orang berdosa sebab dia bekerja sama dengan pemerintahan Romawi, bangsa penjajah.

Namun banyak orang melepaskan kehidupan doa dengan kehidupan sehari-hari. Orang dengan tekun berdoa di gereja, namun keluar dari gereja orang sudah melupakan doanya. Misalnya dalam upacara Kamis Putih, ada bagian dimana seorang imam mencuci kaki para tokoh umat, bahkan ada yang sampai mencium kaki itu. Pertanyaan besar apakah dalam kesehariannya imam itu berani melayani umat sampai mencuci kakinya? Yesus memberikan teladan itu agar semua murid juga melakukan hal yang sama. Ini tidak hanya imam tapi juga semua umat. Beranikah seorang bapak meminta maaf dan mencium kaki anaknya? seorang direktur meminta maaf dan mencuci kaki office boy? Kalau tidak berani berarti apa yang dilakukan dalam Kamis Putih hanyalah suatu kebohongan belaka. Hanya suatu ritus yang tidak ada artinya.

Ada seorang bapak yang memberikan kesaksian dan pengajaran Kitab Suci dimana-mana. Dia sangat bagus dalam menjelaskan ayat-ayat Kitab Suci, sehingga banyak orang kagum dan mengundangnya kemana-mana. Suatu hari ketika saya datang ke penjara Kalisosok, Surabaya, saya melihat seorang muda. Anak muda itu kenal saya dan tidak lama kemudian kami berbincang-bincang. Dia cerita bahwa dia adalah anak dari bapak itu. Dia masuk ke penjara sebab kasus sabu-sabu. Dia menceritakan keadaan keluarganya yang tidak harmonis dan kesepian hidupnya. Saya tidak tahu apakah ini suatu pembelaan diri. Tapi bukti adanya anak itu dalam penjara membuat saya bertanya-tanya, mengapa hal ini bisa terjadi? Mengapa bapak itu bisa dengan bagus menjabarkan ayat-ayat suci sedangkan keluarganya ditelantarkan? Mengapa bapak itu bisa berdoa dengan panjang dan bagus, namun keluarganya sendiri hancur?

Masih banyak lagi contoh kontradiksi antara kehidupan iman seseorang dengan sikap hidupnya sehari-hari. Banyak orang berdoa bagus-bagus namun kehidupan sehari-harinya menyebabkan orang lain menjadi jengkel dengan sikap hidupnya yang sewenang-wenang. Di dalam gereja orang menghormati Yesus yang miskin tapi begitu keluar dari gereja dia berselisih dengan tukang becak gara-gara uang Rp 500 saja. Mengapa di dalam gereja orang berlutut di depan tabernakel sedang di luar orang berlaku sewenang-wenang terhadap orang miskin? Bukankah Tuhan ada di dalam orang miskin?

Dalam doa kita berhadapan dengan Allah yang tidak kelihatan. Kita memuji Allah dan mencintai Allah yang tidak kelihatan. Bagaimana kita bisa mencintai Allah yang tidak kelihatan jika kita tidak bisa mencintai sesama yang kelihatan (bdk 1Yoh 4:20)? Doa bukan hanya saat kita di dalam gereja atau sedang dalam kamar sendirian atau bersama umat lain dalam suatu waktu tertentu, melainkan doa terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari. Sepanjang kehidupan kita adalah suatu doa, dimana kita berhadapan dengan Allah yang kelihatan. Kita memuji, memuliakan dan bersyukur pada Allah.

0 komentar:

Posting Komentar