Minggu, 01 Februari 2009

SEBUAH ONDE-ONDE DI PIRING

Suatu siang Amin, Bani dan Cony datang bertamu ke rumah Doni. Mereka sudah lama tidak pernah bertemu, maka pembicaraan mereka meloncat dari satu kisah ke kisah yang lain. Waktu terus bergeser dan sudah menjelang sore. Gelas-gelas teh yang dihidangkan Doni sudah tidak ada sisanya. Di meja tamu tinggal ada sebuah onde-onde yang berada dalam sebuah piring. Sejak mereka datang tadi piring berisi onde-onde itu sudah ada. Oleh karena hanya satu buah maka tidak ada yang mau mengambil. Mereka sungkan untuk mengambilnya. Doni pun tidak pernah menawarkan sebab hanya satu. Dia sudah tidak mempunyai uang untuk membeli lagi. Maka onde-onde itu hanya dilihat oleh mereka bersama namun tidak ada yang berani menyentuh.

Tiba-tiba datang Eri. Setelah berbasa basi sejenak dia langsung mencomot onde-onde itu dan memakannya dengan nikmat. Melihat sikap Eri yang seenaknya itu maka timbul kejengkelan dalam hati Amin, Bani dan Cony. Pembicaraan mereka akhirnya sampai pada akhir. Mereka semua berpamitan pada Doni untuk pulang ke rumah masing-masing. Di perjalanan Amin mulai menegur Eri yang kurang sopan dengan mengambil onde-onde itu. Dia beralasan bahwa siapa tahu itu milik anaknya Doni mengapa tega diambil. Bani pun turut menegur dengan alasan harusnya Eri bertanya apakah boleh dimakan atau tidak. Cony pun tidak tinggal diam. Dia mengatakan harusnya Eri tahu menjaga diri, sebab tindakannya itu memalukan. Mendengar semua itu Eri hanya diam, sebab dia mengira bahwa semuanya sudah makan dan itu adalah sisa mereka.

Apakah yang dikatakan oleh mereka bertiga itu benar? Secara teori memang benar tapi apakah itu jujur dari hati yang terdalam? Sebetulnya semua merasa lapar dan ingin memakan onde-onde itu tapi tidak berani. Mereka sungkan untuk mengambilnya. Akal budi mereka masih mampu menguasai atau mengendalikan rasa lapar yang melilit dan keinginan untuk mengambil apa yang mereka inginkan. Dorongan yang tersembunyi inilah yang membuat mereka menjadi marah dan jengkel ketika keinginannya ternyata tidak tercapai bahkan sebaliknya ada orang yang berani melakukannya.

Ada orang yang mengatakan bahwa manusia adalah hewan yang berakal budi. Manusia dan hewan dibedakan oleh penggunaan akal budi. Bila hewan mendasarkan segala tindakannya lebih pada insting atau naluri sedangkan manusia mendasarkan segala tindakannya pada keputusan akal budi. Oleh karena menggunakan akal budi maka manusia mempertimbangkan banyak hal sebelum dia bertindak. Namun ada saatnya akal budi menjadi dilemahkan, sehingga tindakannya lebih mendasarkan pada insting atau naluri kehewanan. Seorang filsuf mengatakan bahwa dalam diri manusia ada kuda liar yang harus terus dikekang oleh akal budi. Bila akal budi lemah maka manusia dapat bertindak liar seperti hewan.

Di sebuah jalan raya beberapa orang baik muda dan tua berteriak-teriak menentang penyerangan sebuah negara ke negara yang lain. Dalam orasinya sang pemimpin mengecam tindakan agresor itu. Tapi ketika orasi itu kurang diperhatikan maka mulailah terjadi tindak kekerasan dan anarkis seperti membakar bendera, mencaci maki orang, bahkan mengadakan perusakan. Lalu apa bedanya mereka dengan negara yang menyerang negara lain? Aku rasa kalau mereka mempunyai senjata mungkin juga akan menyerang negara lain. Saat ini juga ada beberapa orang yang mengecam para pejabat yang korup. Tapi apakah kalau mereka menduduki jabatan itu maka mereka akan anti korupsi? Aku kurang yakin. Saat ini mereka mengecam sebab mereka belum punya kesempatan untuk korupsi.

Semua orang ingin makan onde-onde hanya kekuatan akal budilah yang membuat mereka mampu menahan diri tidak memakannya. Namun keinginan yang mendesak itu berubah menjadi kemarahan sebab ada orang lain yang melakukannya. Mereka kecewa sebab apa yang diinginkannya ternyata dilakukan oleh orang lain. Rasa kecewa itulah yang membuat mereka membuat aneka teori tentang kebaikan.

1 komentar:

  1. mo,
    suatu ilustrasi yg bagus, sangat gamblang dijelaskan hub.akal budi dng perbuatan manusia.
    Saya engga pernah terpikir demikian.
    Terima kasih telah membuka wawasan pikiran saya.

    BalasHapus