Rabu, 11 Februari 2009

MELEPASKAN

Waktu SMA aku mempunyai sebuah jam tangan murahan yang kubeli di tepi jalan. Setelah satu tahun lebih kupakai jam itu rusak. Sejak saat itu aku tidak lagi mempunyai jam tangan. Aku hanya mempunyai sebuah jam weker kecil yang dapat kubawa kemana-mana dan dapat membunyikan alarm yang sangat penting bagiku sebab untuk membangunkanku kalau sedang tidur. Bertahun-tahun aku hanya mempunyai jam itu.

Suatu hari ada seorang teman meminjami sebuah jam tangan, sebab dia memiliki beberapa buah. Aku sangat senang sekali, meski bukan milikku pribadi. Kini kemana-mana aku tidak perlu lagi membawa jam weker. Hampir dua tahun jam itu melekat di tanganku sampai akhirnya teman itu memintanya kembali. Saat itu hatiku sedih. Aku harus melepaskan jam yang sudah melekat selama ini. Aku sadar bahwa jam itu bukan milikku. Aku hanya dipinjami saja. Namun tetap saja rasa kehilangan itu melanda hatiku. Aku sedih melepaskan jam yang seolah telah menjadi milikku.

Beberapa saat rasa sedih itu terus mengeram dalam hati. Bila kulihat bekas jam di pergelangan tangan maka rasa sedih itu kembali muncul. Aku kecewa mengapa aku tidak mampu memilikinya. Rasa keinginan untuk memiliki selamanya dan kenyataan bahwa aku harus melepaskannya membuat hatiku sedih. Rasa kehilangan itu kuproses dalam diri. Aku tidak mau larut dalam kesedihan karena keterlepasan dari benda. Setelah beberapa saat berproses akhirnya aku bisa menerima. Aku meyakinkan diri sendiri bahwa segala sesuatu di dunia ini hanya sekedar tempelan dan titipan atau pinjaman. Suatu saat pasti akan diambil oleh pemiliknya lagi. Aku bersyukur bahwa selama ini aku telah dipercaya untuk merawat apa yang bukan menjadi milikku. Kini jam itu kembali kepada pemiliknya. Aku hanya bisa mengingat bahwa suatu saat dulu aku pernah mempunyai jam. Aku mengingat kebahagiaan ketika memilikinya.

Kadang memang orang ingin menjadi pemilik apa yang dititipkan padanya bahkan menguasainya. Dalam Injil Yesus memberi gambaran tentang ladang yang dititipkan pada para pekerja oleh tuannya. Tapi para penggarap itu berusaha untuk menguasai. Keinginan itu begitu kuat sampai mereka sampai tega membunuh orang-orang utusan tuannya bahkan membunuh anak tuannya agar ladang itu tetap menjadi miliknya. Keinginan memiliki dan menguasai secara penuh membuat orang tega melakukan hal keji bahkan melegalkan segala cara. Tidak jarang orang berebut hak kepemilikan dan tega melakukan hal-hal yang keji demi mempertahankan apa yang dia miliki.

Sebetulnya semakin erat orang mengenggam segala sesuatu maka semakin sakit bila apa yang digenggamnya terlepas. Kepemilikan ini bukan hanya bicara soal harta tapi segala sesuatu, misalnya teman, pasangan hidup, keluarga, jabatan dan sebagainya. Banyak pejabat ketika dilantik mengatakan bahwa jabatan itu amanah yang dipercayakan Tuhan padanya. Tapi ketika jabatan itu lepas banyak pula yang tidak siap. Mereka masih ingin terus berkuasa dan menguasai jabatan itu. Kesadaran bahwa apa yang ada padanya bukan miliknya membuat orang tidak takut lagi akan kehilangan. Segala sesuatu adalah milik Tuhan yang dipercayakan pada manusia. Manusia hanya diminta untuk merawat dan mengembangkannya. Dalam perumpamaan tentang talenta, Tuhan marah kepada orang yang tidak mau mengembangkan talentanya. Jadi meski bukan miliknya namun orang tetap bertanggungjawab untuk mengembangkannya.

Pengalaman kehilangan jam membuatku tidak berani lagi begitu terikat pada apa yang kumiliki. Aku berusaha menanamkan dalam diriku bahwa apa yang ada padaku saat ini suatu saat akan hilang atau diambil lagi. Kesadaran ini membuatku lebih nyaman dan ringan. Aku tidak gelisah bila apa yang ada padaku diambil oleh orang lain. Bila aku menduduki sebuah jabatan lalu suatu saat diambil alih oleh orang maka aku tidak kecewa dan bertanya mengapa kok diambil? aku hanya berpikir bahwa dulu aku pernah menduduki jabatan itu. Dengan mengenang apa yang pernah ada aku bisa bahagia dan tidak iri bila ada orang yang saat ini mendapat apa yang dulu pernah ada padaku.

0 komentar:

Posting Komentar