Kamis, 24 Desember 2009

NATAL DI KANDANG DAN TANPA KEMEGAHAN


Beberapa orang berjalan hilir mudik di sekitarku. Anak-anak kecil, kaum muda, dan orang tua. Mereka berwajah cerah dan penuh tawa tenggelam dalam kesibukannya. Terdengar suara koor anak-anak menggema. Sebagian anak lain menari riang di depan altar. Anak-anak muda sibuk menyelesaikan gua Natal. Ibu-ibu sibuk merangkai bunga. Sebagian bapak sibuk mengatur kursi, memasang lampu dan segala yang dibutuhkan untuk perayaan malam nanti. Keringat mengucur di wajah mereka yang penuh senyum. Kubayangkan kemeriahan malam nanti yang merupakan puncak dari segala persiapan yang telah dilakukan selama beberapa hari bahkan bulan sebelumnya.

Anganku melayang pada teman-teman yang jauh di pedalaman. Apakah juga akan ada kemeriahan disana? Disini gedung gereja yang megah diberi hiasan gubuk sederhana untuk menggambarkan kemiskinan Yesus ketika lahir. Sedangkan gereja yang kulihat di pedalaman mirip dengan gubuk yang merupakan hiasan disini. Hiasan apa yang akan mereka pasang dalam gereja disana? Apakah mereka juga akan memasang gubuk kecil sebagai penggambaran tempat Yesus lahir jaman dulu kala? Dalam beberapa gereja yang kulihat tidak ada satu pun yang memasang hiasan sebagai tanda perayaan Natal. Semua biasa saja. Apakah dengan demikian mereka tidak merayakan Natal?

Di kota besar Natal identik dengan gua, gubuk atau rumah sederhana. Orang bangga bila bisa menyulap gereja yang megah menjadi gua atau gubuk sederhana. Tidak jarang untuk semua itu mereka mengeluarkan dana jutaan rupiah. Setelah masa Natal berlalu semua akan menjadi sampah. Bagaimana dengan saudaraku di pedalaman? Mereka tentu tidak perlu mengeluarkan dana sedikit pun juga untuk mengubah gereja mereka. Mereka selalu membayangkan memiliki gedung gereja yang lebih layak daripada gereja yang ada saat ini. Apakah bila gereja mereka sudah megah maka mereka juga akan membuat gubuk atau gua di dalamnya saat Natal nanti? Lalu buat apa mereka membangun gedung yang bagus?

Di pedalaman imam sangat kurang. Seorang tokoh umat mengatakan bahwa imam hanya datang pada saat Natal, Paskah atau ada orang yang membutuhkan untuk perkawinan dan baptis. Jangan diharap imam datang tepat pada tanggal 25 Desember. Perayaan Natal bisa dilakukan bulan Januari bahkan sampai pertengahan Januari. 25 Desember hanya dirayakan dalam bentuk ibadat saja. Namun hampir semua umat datang dan bersuka cita meski tidak ada misa. Betapa sederhananya mereka. Tidak banyak tuntutan. Semua dijalani dengan suka cita. Mensyukuri segala yang ada dan apa yang terjadi. Inilah Natal yang sesungguhnya.

Sering kali aku mendengar orang mengeluh tentang suasana gereja yang panas sebab tidak pakai AC. Imam berkotbah tidak bagus. Liturgi membosankan dan sebagainya. Tidak ada rasa syukur bahwa dia masih bisa mengikuti misa dalam gereja yang megah. Masih ada imam yang mempersembahkan misa. Dapat merayakan Natal pada tanggal 24 malam atau 25 dan sebagainya. Tidak ada rasa syukur. Bagaimana Maria ketika menjelang melahirkan? Tidak menemukan tempat yang layak. Tidak ada orang yang menolong. Tidak ada segala sesuatu yang layak untuk kelahiran. Apakah dia bersungut sungut dan menggerutu? Ataukah dia bersyukur karena menemukan tempat yang sederhana untuk sekedar merebahkan tubuhnya yang akan melahirkan?

Pada Natal orang mengubah gedung gereja menjadi kadang. Apakah cukup mengubah gedung? Bukankah yang harus diubah adalah suasana hati? Hati yang penuh syukur atas segala yang ada. Atas situasi hidup yang kadang pahit dan tidak dikehendaki. Kita bisa belajar dari saudara kita yang ada di pedalaman. Mereka merayakan Natal dalam kandang yang sepi dan jauh dari kemegahan. Tidak ada liturgi yang hebat. Tidak ada imam yang merayakan misa. Namun semua dilakukan dengan penuh syukur. Dalam hati yang penuh syukur itulah ada kegembiraan sejati.

1 komentar:

  1. Kt krg brsykr ktk kta tdk brpkr sdrhn, pkrn kt mluk. Kl sj kt mau fkus pd ap tujan kt ke grj sbnrny, ytu ktm n brsm Yesus, kt tdk akn mmprsolkn yg lain. Kotbhlh, koorlh, aclh, yg pntg hti lyk bergmul brsm Yesus! Hati yg lyk mnrm Kristus it yg lbh utma! Mestinya ya?

    BalasHapus