Senin, 23 November 2009

DUA RAJA

Pertemuan Pilatus dan Yesus merupakan pertemuan dua raja. Pilatus mewakili kerajaan dunia sedangkan Yesus mewakili kerajaan surga. Pada awalnya Pilatus mempertanyakan ke-raja-an Yesus. Tapi akhirnya Pilatus secara tidak langsung mengakui ke-raja-an Yesus. "Jadi Engkau adalah raja?” Pertanyaan Pilatus tidak dijawab “ya” atau “tidak” oleh Yesus melainkan Dia langsung menunjukkan tugas dan perutusannya datang ke dunia. Perutusan dan tujuan ke-raja-anNya yang berbeda dengan tujuan ke-raja-an duniawi. Secara tidak langsung Yesus hendak membedakan kerajaan duniawi dan kerajaan surgawi yang dipimpinNya.

Banyak orang ingin menjadi raja atau penguasa. Dengan menjadi raja maka orang akan mempunyai kekuasaan yang besar. Akan menikmati aneka fasilitas dan kenikmatan. Akan menikmati penghormatan dan pelayanan yang lebih dibandingkan orang biasa. Tidak jarang ketika jalanan begitu macet tiba-tiba terdengar raungan sirine dan semua kendaraan harus menepi untuk memberi jalan penguasa yang lewat. Penguasa dapat menentukan siapa yang salah dan benar seturut keinginan dirinya. Bahkan sejarah pun dapat diputar balikkan. Sejarah serangan umum 1 Maret 1949 selama bertahun-tahun diakui sebagai rancangan Soeharto. Padahal ada desas desus bahwa itu adalah buah pikiran Sultan Hamengkubowono IX.

Namun untuk menjadi penguasa tidaklah mudah. Memang ada orang yang ditakdirkan menjadi penguasa. Tapi ada orang yang harus berjuang untuk menjadi penguasa. Tidak jarang perjuangan itu menggunakan kekerasan dan kebohongan atau tindakan licik lainnya. Para anggota dewan perwakilan rakyat harus berjuang keras agar dapat duduk di kursi dewan. Aneka trik digunakan untuk mengalahkan pesaing. Jutaan rupiah dikeluarkan untuk membayar atau membeli suara. Oleh karena kekuasan diperoleh dengan uang dan kekerasan, maka ketika menjadi penguasa dia akan menjadikan uang sebagai tujuan dan mempertahankannya dengan kekerasan.

Budaya dunia yang seperti itu berusaha dilawan oleh Yesus dengan membangun budaya baru. Dia mengajarkan pemimpin adalah pelayan. Bila orang ingin menjadi tinggi maka dia harus merendahkan diri. Pemimpin adalah pembawa terang dan kebenaran. Maka sejak awal Yesus menolak godaan iblis yang akan memberiNya kekuasaan, kemewahan, dan kehebatan. Bila orang mengejar semua itu maka dia akan tega menindas sesamanya dan berlaku keras dan keji. Adam dan Hawa pun jatuh akibat tidak sanggup untuk menahan godaan untuk memiliki kekuasaan yang lebih lagi.

Budaya surgawi yang dibangun Yesus bukan hanya terwujud di surga setelah kita mati, melainkan dimulai ketika kita masih hidup di masyarakat saat ini. Kita pun bisa menjadi raja. Seorang ayah adalah raja yang mempunyai kekuasaan di dalam rumah. Seorang ibu pun dapat mempunyai kuasa di rumah. Seorang anak penguasa diantara teman-temannya dan sebagainya. Tapi kita sering lupa peran kita sebagai penguasa. Kita membayangkan penguasa adalah kalau menjadi ketua RT, Walikota atau presiden. Ketidaksadaran ini membuat kita bersikap sesuka hati kita.

Budaya surgawi yang ditawarkan oleh Yesus tentang penguasa sering dilupakan. Bahkan ada pejabat Gereja yang bersemangat sebagai raja duniawi daripada surgawi. Dia lebih senang menunjukkan tentang kekuasaan yang dimiliki daripada melayani. Seorang imam bila diminta untuk misa di rumah umat harus dijemput mobil. Setiap Kamis Putih semua diingatkan akan pelayanan dengan pencucian kaki. Tapi setelah misa semua dilupakan, sebab upacara itu dianggap hanya upacara bukan pelajaran untuk diterapkan dalam hidup. Masih banyak lagi contoh semangat kekuasaan duniawi yang mendasari sikap pemimpin dalam tubuh Gereja. Bagaimana dengan kita sendiri? Apakah kita sudah mendasari sikap kita dengan semangat penguasa surgawi? Sejauh mana kita punya semangat untuk membangun sebuah budaya baru yaitu budaya surgawi? Atau kita larut dalam jaman dan menikmati sebagai penguasa duniawi?

1 komentar:

  1. Yeah, manusia! Semoga kita semua disadarkan untuk apa kita "dijadikan" seorang pemimpin?

    BalasHapus