Minggu, 01 November 2009

TAMU


Bila ada orang datang ke rumah maka saya membedakan mereka sebagai tamu atau teman main. Bila teman maka saya akan menemaninya berbicara dimana saja yang nyaman bagi kami. Entah di teras rumah, di tepi jalan sambil melihat orang lewat, di ruang tamu bahkan kadang di ruang tidur sambil tiduran. Bila mereka saya anggap tamu maka saya akan menemui di ruang tamu dan menjamu dengan minum atau makanan kecil bila ada. Pembedaan itu didasarkan pada keakraban, kebutuhan yang mendorongnya datang ke rumah, statusnya dan sebagainya. Bila dia adalah orang yang saya hormati maka saya akan memperlakukannya sebagai tamu. Saya akan memakai pakaian yang pantas, duduk di ruang tamu secara pantas, berbicara yang sopan dan mengetrapkan aneka etika yang pernah diajarkan orang tua.

Penghargaan terhadap tamu tergantung dari situasi dan kondisi setempat. Tergantung pada pemahaman diri kita akan arti tamu itu bagi diri sendiri. Bila saya bertamu ke rumah teman-teman di tepi rel kereta api, rumah pemulung dan sebagainya, maka mereka akan menerima saya dengan apa adanya. Tidak jarang mereka menerima saya sambil bertelanjang dada atau memakai pakaian ala kadarnya. Bukan mereka tidak menghormati saya tapi karena memang mereka tidak mempunyai pakaian yang layak atau mereka sudah melihat saya sebagai bagian dari mereka sehingga tidak perlu lagi adanya tata aturan yang ketat. Saya yakin kalau ada orang yang sangat dihormati datang maka mereka pun akan berusaha berpenampilan lain dan menjaga sikapnya.

“Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, -- dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri?” (1Kor 6:19). Tubuh kita adalah bangunan yang dibangun oleh Allah sendiri. Sebagai orang Katolik hampir setiap minggu kita menerima hosti yaitu roti yang kita imani sebagia tubuh Yesus. Dengan menerima hosti maka bangunan tubuh kita kedatangan tamu agung yaitu Tuhan sendiri yang datang dan bersatu dengan kita secara penuh. Bila tamu agung lain tidak menyatu dengan kita, namun Yesus bersatu secara penuh di dalam tubuh kita. Dia ada dalam diri kita dan bertahta dalam hati kita.

Kehadiran Yesus secara nyata dalam tubuh kita sering kurang kita sadari. Bahkan tidak jarang hosti hanya dianggap sebagai bagian dari perayaan ekaristi. Atau menjadi kewajiban sebagai orang Katolik untuk menerima hosti setiap mengikuti ekaristi. Oleh karena dianggap sebagai “sesuatu” yang otomatis bila mengikuti ekaristi, maka kurang dihayati maknanya. Kita kurang melihatnya sebagai sebuah anugerah dimana Allah rela menyatu dalam tubuh kita yang fana dan penuh dosa. Kita kurang melihatnya sebagai sesuatu yang mengagumkan dimana Tuhan sudi tinggal dalam rumah atau tubuh kita. Akibatnya kita kurang memposisikan diri secara benar.

Bila kita sadar bahwa ada tamu agung dalam diri kita maka kita ingin menghormatiNya. Kita akan mengubah sikap hidup kita. Kita akan berkata-kata dengan sopan kepada siapa saja. Kita tidak akan berperilaku yang tidak pantas. Kita akan berpikir, berkata dan bertindak yang terhormat karena rasa hormat kepada tamu yang ada dalam tubuh kita. Menerima hosti berarti kita menerima Yesus secara nyata dalam tubuh kita. Maka seharusnya kita menyatakan kesatuan itu dalam sikap hidup kita. “Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami.” (2Kor 4:10). St. Paulus membawa Yesus dalam dirinya dan menyatakan kesatuannya dengan Yesus dalam sikap hidupnya. Sikap hidup dan perkataannya menunjukkan Yesus yang bersikap dan berkata melalui dirinya.

Kesadaran akan adanya tamu agung dalam diri kita akan mengubah hidup kita. “Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.” (Gal 2:20)

0 komentar:

Posting Komentar