Minggu, 08 November 2009

ANTARA YERIKHO DAN YERUSALEM

Dalam beberapa renungan yang pernah saya baca tentang kisah orang Samaria yang baik hati (Luk 10:25-37) selalu menekankan tentang perbedaan antara dua orang lewat yang membiarkan kurban perampokan dengan orang yang menolong. Hampir semua menyalahkan orang Lewi dan imam sebaliknya memuji orang Samaria. Akibat terpusat pada ketiga orang tersebut maka melupakan sumber masalahnya yaitu perampoknya. Inilah dimana orang jahat tidak dibahas panjang lebar. Dia seolah hanya pemain figuran yang muncul sebentar lalu menghilang dan dilupakan, sedangkan aktor utamannya yaitu Lewi, imam dan orang Samaria yang diulas panjang lebar.

Orang juga tidak mempersoalkan kurban perampokan. Bila dia dirampok kemungkinan besar dia sedang membawa barang atau uang yang cukup banyak. Rasanya tidak mungkin orang miskin dirampok habis-habisan seperti itu. Apakah dia orang baik atau jahat? Apakah dia seorang pemungut cukai atau orang murah hati? Mungkin saja orang Lewi dan imam tidak mau menolong sebab mereka tahu bahwa orang itu adalah seorang koruptor dan penindas yang kejam dan sangat mereka benci. Maka mereka membiarkannya saja. Biar tahu rasa. Atau dalam “bahasa” masyarakat disebut azab yang harus ditanggung akibat kejahatan selama hidupnya. Apakah bila yang dirampok adalah donatur besar Bait Allah maka kedua orang itu akan membiarkannya? Lewi adalah kelompok dalam struktur jabatan di Bait Allah yang salah satu tugasnya adalah mengumpulkan perpuluhan. Tentu dia tidak ingin kehilangan donatur besar. Demikian pula imam yang hidupnya juga bergantung atas persembahan.

“Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?” Yesus membuka pertanyaan mengenai ketiga orang yang lewat. Dia tidak mempersoalkan perampok sebab perampok itu sudah jelas posisinya. Orang yang berbuat sewenang-wenang dan kejam. Orang bila menghargai orang lain sebagai sesama maka dia tidak akan memperlakukan orang lain dengan sewenang-wenang dan kejam. Maka tinggal 3 orang yang mengetahui adanya kurban. Akhirnya para murid menjawab bahwa sesama adalah orang yang menolong orang yang sedang menderita. Mendengar itu maka Yesus menjawab, "Pergilah, dan perbuatlah demikian!” Yesus sekalipun tidak menyalahkan orang Lewi dan imam.

Dalam kehidupan sehari-hari gambaran orang Lewi dan imam sering muncul. Orang tidak menolong sesama bukannya mereka tidak peduli melainkan ada alasan lainnya. Ada orang menolong hanya kepada orang yang beragama sama, bersuku sama dan sebagainya. Disini orang dibedakan dengan kriteria tertentu. Padahal semua manusia adalah sama siapapun dia adanya. Selain itu orang menolong karena ada kepentingan tertentu. Pernah aku ditegur keras oleh seorang pemimpim umat sebab aku mengkritiknya yang bersedia ramai-ramai memberkati artis yang menikah. Apakah bila yang menikah orang sederhana maka mereka semua mau datang bersama? Bagiku kedatangan mereka disebabkan adanya kepentingan lain diluar liturgi.

Dalam menolong sesama maka yang menjadi pusat perhatian adalah kebutuhan sesama. Bukan kebutuhan dan kepentingan kita. Sikap menghindar yang ditunjukkan oleh Lewi dan imam dapat dihindari bila pusat perhatiannya pada kurban. Bukan pada dirinya sendiri. Motivasi yang mendasari usaha menolong adalah keselamatan orang yang sedang menderita bukan kepentingan diri sendiri. Selama kita masih memusatkan perhatian bagi kepentingan diri kita sendiri maka kita akan memilih-milih bila akan menolong orang. Bahkan mungkin akan menghindari mereka yang membutuhkan pertolongan seperti Lewi dan imam dengan aneka alasan. Yesus mengingatkan bahwa bila menolong orang maka tidak boleh ada keinginan lain selain menolongnya. “Tetapi apabila engkau mengadakan perjamuan, undanglah orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh dan orang-orang buta. Dan engkau akan berbahagia, karena mereka tidak mempunyai apa-apa untuk membalasnya kepadamu.” (Luk 14:13-14)

2 komentar:

  1. Senang sekali membaca tulisan ini. Sebuah pencerahan yg menyegarkan hati dan jiwa. Memang, menurut saya, dlm menghadapi gejolak sosial yg sedang berlangsung ditengah masyarakat kita saat ini, dimana kita tidak tahu mana yg benar mana yg salah, mk satu sumber cahaya terang bagi kita adalah Sabda Tuhan Yesus Kristus.

    BalasHapus
  2. Terima kasih atas masukkannya

    BalasHapus