Senin, 04 Januari 2010

KECEWA


Suatu hari dua teman dengan semangat mengajakku makan nasi pecel di suatu tempat. Mereka mengatakan bahwa tempat itu masuk dalam acara TV tentang makanan yang enak disuatu tempat. Konon si pembawa acara tampak begitu menikmati nasi pecel disana. Setelah makan dia mengatakan “mak nyus” yang merupakan trade marknya. Dalam perjalanan ke warung kami membayangkan enaknya nasi itu. Setelah sampai kami pesan 3 piring. Ketika aku mencicipi bumbu pecelnya ternyata sangat pedas sekali. Penjualnya mengatakan bahwa bumbunya hanya satu rasa saja. Akhirnya aku makan sayuran dicampur kecap saja. Kedua teman hanya mencicip sedikit saja, sebab mereka juga tidak tahan pedas. Kami kecewa dan tidak akan makan disana lagi.

Sering kita mempunyai angan atau bayangan indah mengenai hidup. Angan itu dapat kita ciptakan sendiri atau terpengaruh oleh perkataan orang. Semua orang yang akan menikah selalu membayangkan keindahan hidup perkawinan. Demikian pula seorang yang ingin mengikrarkan hidup imamat. Tapi angan yang mereka ciptakan ternyata tidak terwujud. Setelah hidup bersama mereka mulai melihat bahwa pasangannya atau situasi hidupnya jauh berbeda dengan impiannya. Bahkan mereka masuk dalam situasi yang tak pernah dibayangkan. Sedikit demi sedikit muncul rasa kecewa yang akhirnya berujung pada perceraian. Demikian pula dalam hidup imamat dan sebagainya.

Tiga orang Majus konon berasal dari Persia. Mereka berjalan jauh untuk menemukan Mesias yang sudah diramalkan bertahun-tahun. Tentu mereka membayangkan bahwa Mesias adalah bayi yang hebat. Maka mereka membawa persembahan yang mewah. Tapi mereka menemukan bayi di kandang. Jauh dari bayangannya. Inikah Mesias yang dinantikan oleh bangsa Israel yang akan membebaskan mereka dari penjajahan dan memulihkan kerajaan Israel seperti jaman Daud? Injil hanya menulis bahwa mereka mempersembahkan apa yang mereka bawa tanpa menyinggung perasaan mereka.

Para rasul pun kecewa pada Yesus. Mereka membayangkan bahwa Yesus akan menjadi raja hebat maka mereka berebut untuk menjadi yang terbesar. Bahkan tanpa malu ibu Yohanes dan Yakobus meminta pada Yesus kedudukan bagi anak-anaknya. Petrus pun mempertanyakan masa depannya “Lalu Petrus menjawab dan berkata kepada Yesus: "Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau; jadi apakah yang akan kami peroleh?" (Mat 19:27). Pertanyaan semacam ini dapat muncul bila kenyataan yang dihadapi tidak berjalan sesuai dengan apa yang diimpikan. Puncak kekecewaan mereka adalah ketika Yesus disalibkan. Bayangan mereka hancur.

Tiga orang Majus meski menemui bayi sederhana di tempat sederhana, tapi mereka tetap memberikan yang terbaik yang ada padanya. Para rasul meski kecewa akan kematian Yesus tapi mereka tetap meneruskan karya Yesus. Mereka memberikan yang terbaik dari yang mereka miliki yaitu nyawa mereka. Mereka pada awalnya memang goyah tapi dapat mengatasinya dan meneruskan misinya untuk mewartakan karya keselamatan. Mereka tidak tenggelam dalam kekecewaan tapi punya semangat untuk bangkit dan melakukan apa yang sudah dicanangkan sejak awal.

Kekecewaan membuat kita berusaha memberikan hal yang buruk atau meninggalkan apa yang sejak awal dicanangkan. Oleh karena kecewa maka 2 teman meninggalkan nasi pecelnya nyaris utuh. Pasangan suami istri memilih cerai. Umat pindah agama sebab kecewa pada imamnya. Kekecewaan bukan alasan untuk pergi atau melupakan impian yang dibangun pada awal. Tapi merupakan tantangan untuk tetap bertahan dalam impian dan memberikan yang terbaik seperti orang Majus. Mencari cara baru dalam memandang hidup seperti para rasul. Hal ini membutuhkan harapan yang kuat akan impian, konsistensi akan semangat awal, keberanian untuk tetap memberi yang terbaik dan semangat untuk mengubah diri terus menerus. Tanpa memiliki ini maka kita akan mudah untuk pergi dan mencari impian indah yang lainnya.

0 komentar:

Posting Komentar