Jumat, 22 Januari 2010

JUALAN AIR DI TEPI SUNGAI


Anthony de Mello SJ (4 September 1931, Bombay - 2 June 1987, New York) dalam bukunya yang berjudul “Burung Berkicau” mengkisahkan ada seorang menjual air di tepi sungai. Setiap hari dia berteriak-teriak menawarkan dagangannya. Banyak orang berbondong-bondong membeli air darinya, padahal dia mengambil air itu di sungai yang ada di belakangnya. Cerita ini tampak lucu, tapi sebetulnya Anthony de Mello sedang mengkritik kebanyakan dari kita. Kitalah orang “bodoh” yang membeli air dari pedagang meski kita bisa mengambil air itu dari sungai secara gratis.

Yesus adalah air hidup. “barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal.” (Yoh 4:14). Air yang diberikan kepada kita adalah firmanNya. Bila kita menerima Firman Yesus maka kita tidak pernah akan kehausan sehingga tidak sibuk mencari-cari firman yang lain. Firman itu tidak akan pernah habis. Firman itu akan terus memancar memberikan kehidupan kepada orang di sekitar kita.

Saat ini banyak umat yang menjadi kutu loncat. Dia berpindah-pindah Gereja dengan alasan dia tidak menemukan apa yang dicarinya. Bila ditanya apakah yang dicarinya? Pusat pencarian adalah kesenangan mendengarkan kotbah. Dia mencari pengkotbah yang dirasa mampu memberinya semangat. Pengkotbah adalah penjual air yang mampu menawarkan airnya sedemikian rupa. Maka tidak jarang pengkotbah pun berusaha mencari cara dan terobosan-terobosan baru agar dagangannya tetap laris. Menarik perhatian, sehingga banyak orang akan datang padanya. Pengkotbah yang bagus seharusnya mampu mengajak orang untuk berani mengambil air sendiri di sungai. Bukan bergantung padanya. Yesus adalah jalan. Dia tidak membuat kita berpusat padaNya tapi Dia mengajak kita untuk sampai kepada Bapa. “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga." (Mat 5:16). Pengkotbah seharusnya menjadi jalan bagi kita untuk menemukan Yesus bukan menjadi tempat perhentian.

Umat enggan untuk pergi ke sumber air, sebab saat ini kuatnya budaya instan. Budaya instan mengajar kita untuk tidak perlu repot-repot mempersiapkan segalanya melainkan tinggal langsung menikmati. Demikian pula dalam hal iman. Kita tidak ingin repot datang ke sumber air dan menggalinya. Kita ingin firman yang siap saji dan tinggal menikmati saja. Bila kita percaya pada Yesus maka Dia ada di dalam diri kita menjadi sumber air. “Barangsiapa percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup.” (Yoh 7:38). Tapi kita tidak menyadarinya, sebab kagum pada penjual air yang mampu mengemasnya sedemikian rupa. Oleh karena kita tidak menggali sumber air yang ada dalam diri kita, maka kita tetap akan merasa haus.

Air yang ada dalam diri kita dapat memberi kehidupan bukan hanya bagi kita tapi juga bagi orang di sekitar kita. Sumber air itu akan memancar ke sekitar kita. Pancaran air itu adalah sikap, tindakan dan perkataan kita yang memberi hidup. Dalam keseharian tidak jarang kita membuat orang lain menjadi mati. Kata-kata kita kasar, sikap kita membuat orang lain menjadi malu dan direndahkan martabatnya. Orang menjadi takut dan kehadiran kita membuat suasana menjadi tegang dan sebagainya. Sebetulnya kita telah membunuh orang itu. Dia tidak mengalami suka cita, kreatif dan berani menjadi dirinya apa adanya. Dengan demikian kita tidak memancarkan air melainkan racun yang mematikan. Kita dapat memancarkan air hidup bila kita berani menggali air yang ada dalam diri kita sendiri. Bukan membeli dari para pedagang. Air yang mereka berikan akan membuat kita haus dan haus. Atau kita terpuaskan dapat mereguknya untuk dinikmati sendiri. Tidak memancar pada sesama kita. Maka Anthony de Mello mengajak kita untuk berani menggali air yang ada dalam diri kita sendiri agar kita terus memancarkan air hidup.

0 komentar:

Posting Komentar