Rabu, 20 Januari 2010

KITA ORANG BERIMAN ATAU SETAN?

Surat Yakobus adalah salah satu surat pastoral artinya surat yang tidak banyak mengajarkan dogma atau teologi melainkan lebih merupakan ajaran praktis bagi kehidupan umat beriman sehari-hari. Ciri Yakobus adalah mempertentangkan antara baik dan buruk, kaitannya antara iman yang terwujud dalam perbuatan baik dan doa, serta ketekunan dan pertobatan yang terus menerus. Yakobus mendesak agar umat segera memilih dengan tegas ajaran keselamatan dan hidup sesuai nilai Injili. Inti nilai Injili adalah keseimbangan antara cinta pada Allah dan sesama.

“Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setan pun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar.” (2:19). Perkataan ini sangat keras dan tegas. Yakobus membedakan antara percaya dan beriman. Orang dapat percaya akan Allah yang satu dan maha segalanya. Tapi dia belum tentu beriman. Setan juga percaya akan Allah yang Mahakuasa. Dalam Injilpun sebelum para murid percaya bahwa Yesus adalah Mesias dalam arti yang sesungguhnya setan sudah percaya akan hal itu. “Di dalam rumah ibadat itu ada seorang yang kerasukan setan dan ia berteriak dengan suara keras: "Hai Engkau, Yesus orang Nazaret, apa urusan-Mu dengan kami? Engkau datang hendak membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah.” (Luk 4:33-34).

Bagi Yakobus iman bukan hanya sekedar percaya melainkan mampu mewujudkan dalam perbuatan nyata. Bahkan dari perbuatanlah orang dapat menunjukkan imannya. "Tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku.” (2:18). Perbuatan yang dimaksudkan oleh Yakobus adalah tindakan belas kasih pada sesama. Maka dia mengkritik orang yang tidak peduli pada sesamanya yang miskin dan berkekurangan. Apa yang ditulis oleh Yakobus merupakan bagian dari ajaran Yesus dalam kotbah di bukit, yaitu bahwa kasih pada Allah harus nyata dalam kasih pada sesama terutama yang miskin. Bila orang ingin memperoleh keselamatan maka dia melakukan tindakan kasih yang merupakan perwujudan dari ketaatan akan kehendakNya. “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.” (Mat 7:21).

Bila keselamatan hanya dapat diperoleh dengan melakukan tindakan belas kasih pada sesama, maka apakah orang tidak perlu berdoa? Doa adalah komunikasi kita dengan Allah. Dalam doa kita bukan hanya bersyukur atas berkat dari Allah tapi juga mencari kehendak Allah dalam hidup kita. Kita berusaha memahami tugas perutusan yang diberikan Allah pada kita. Bila mendapat berkat atau malapetaka maka kita bertanya pada Allah apa maksud semua ini? Apa yang harus kita lakukan? Dengan mendengar suara Allah maka kita akan melakukan kehendakNya. Dalam doa kita merenungkan Yesus yang telah wafat demi kita. Kiat pun diajak untuk melihat diri sejauh mana kita telah berani berkurban untuk sesama. Maka doa dan karya merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Bila orang hanya melakukan belas kasih pada sesama tanpa berdoa, maka dia akan kehilangan dasar perbuatannya itu. Dia tidak mempunyai ukuran dari tindakan kasih itu. Sebaliknya bila dia hanya berdoa tanpa melakukan tindakan kasih maka dia tidak dapat dinilai sebagai orang beriman. Dia orang percaya.

Doa adalah ungkapan kasih kita pada Allah. Yohanes dalam suratnya mengingatkan “Jikalau seorang berkata: "Aku mengasihi Allah," dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya.” (1Yoh 4:20). Kasih pada Allah harus nyata dalam kasih pada sesama. Inilah yang menjadi tantangan kita. Sering kita puas telah berdoa dan bermeditasi dihadapan tarbenakel selama berjam-jam, tapi lupa untuk melakukan belas kasih pada sesama. Bila demikian mari kita nilai diri kita sendiri, apakah kita orang beriman atau setan?

0 komentar:

Posting Komentar