Rabu, 27 Januari 2010

ROH KUDUS ADALAH ROH PEMBEBAS

Pernahkah Anda hadir pada sebuah pertemuan yang sangat membosankan. Pembicara berbicara dalam nada datar, berbelit dan menggunakan bahasa sulit? Anda jenuh dan muak tapi Anda tidak mungkin meninggalkan pertemuan atau melakukan hal lain selain duduk dan mendengarkan. Tiba-tiba ada orang yang menyerukan pertemuan berakhir. Anda boleh melakukan apa saja yang Anda kehendaki. Anda tidak perlu lagi ada dalam situasi yang membosankan dan menekan. Hal ini tentu sangat membahagiakan. Anda akan bersorak sorai penuh suka cita. Apa yang Anda harapkan dan impikan sejak lama akhirnya terwujud. Anda bebas dari tekanan dan dapat menjadi diri sendiri.

Aku membayangkan kaum miskin Israel pada jaman sebelum Yesus seperti orang yang ada dalam pertemuan membosankan itu. Mereka sudah lama menantikan Tahun Rahmat Tuhan, yaitu tahun yang membebaskan dari segala belenggu perbudakan dan hutang. Janji yang sudah lama mereka nantikan. Maka mereka sangat bersuka cita saat Yesus mengatakan bahwa saat itu sudah tergenapi ketika Dia datang (bdk Luk 4:18-21). Kehadiran Yesus merupakan saat bahagia yang dinantikan. Saat penemenuhan janji Allah tentang pembebasan. Namun masalah besar ada dihadapan mereka. Suka cita mereka runtuh ketika menyadari bahwa Yesus adalah salah satu dari mereka. Bagiamana mungkin Dia akan mewujudkan pemenuhan janji Allah itu? Tapi Yesus dapat membuktikan apa yang telah dikatakanNya. Dia membebaskan manusia bukan hanya dari belenggu kemiskinan dan perbudakan tapi lebih dari itu. Dia membebaskan manusia dari belenggu dosa. Mengajarkan bagaimana menjadi orang bebas.

Ketika dibaptis kita menerima Roh Kudus. Roh yang sama yang diterima oleh Yesus ketika dibaptis, sebab Roh Kudus itu satu. Roh itu mendorong Yesus untuk melakukan pembebasan. Roh yang sama juga mendorong kita untuk melakukan pembebasan dan mewujudkan janji Allah kepada kaum miskin. Menumbuhkan semangat dan harapan baru pada orang yang putus asa. Membuat orang suka cita. Memang kita sama dengan mereka. Lemah dan tidak berdaya. Kita bagian dari mereka, sama seperti Yesus bagian dari orang Nazaret. Hal yang perlu adalah keberanian untuk konsisten melakukan tindakan pembebasan dengan penuh keberanian.

Memang banyak orang bangga bahwa dia menerima Roh Kudus. Mereka bersuka cita. Tidak jarang mereka sampai jatuh terjerembab ketika mendapat curahan Roh. Bahkan ada orang yang meminta baptisan Roh, sebab baptisan air dianggap masih kurang. Mereka belum merasakan curahan Roh. Mereka kurang merasakan kuasa Roh dalam dirinya. Orang bangga bila mampu berbahasa Roh dan tidak jarang menjadi masal. Semua orang yang hadir tiba-tiba berbahasa Roh. St. Paulus mengatakan “Demikianlah juga kamu yang berkata-kata dengan bahasa roh: jika kamu tidak mempergunakan kata-kata yang jelas, bagaimanakah orang dapat mengerti apa yang kamu katakan? Kata-katamu sia-sia saja kamu ucapkan di udara!” (1Kor 14:9). St. Paulus tidak menolak bahasa Roh tapi dia menekankan perlu ada yang menterjemahkan. Bila tidak ada maka sia-sialah bahasa Roh itu. Bagi St. Paulus Roh itu untuk membangun jemaat.

Kita yang telah menerima Roh Kudus didorong olehNya untuk menjadi pembebas atau kata St. Paulus untuk membangun jemaat. Bagaimana dengan kita? Apakah kita sudah menjadi seorang pembebas atau menjadi harapan bagi orang yang sedang menderita? Apakah kehadiran kita membuat orang memiliki kembali harapan dan semangatnya? Sering kali kita melupakan tugas perutusan itu. Kita hanya menikmati dan bangga akan kuasa Roh dalam diri tapi tidak mampu mewujudkan dorongan Roh itu dalam sikap dan perkataan kita yang membuat orang lain bersuka cita. Tidak jarang kelompok yang mengaku dirinya mendapat anugerah Roh menjadi kelompok ekslusif. Bagaimana dia akan mampu membangun jemaat bila merasa bahwa dia lebih dari orang yang lain sebab mendapat anugerah khusus Roh? Roh tidak membuat kita terjerembap dan berbicara bahasa Roh melainkan mendorong kita menjadi pembebas dan mewujudkan bahwa Tahun Rahmat Tuhan sudah datang, sehingga orang lain menjadi suka cita.

1 komentar: