Rabu, 25 Agustus 2010

KEHORMATAN

Semua manusia senang bila dia sadar menerima penghormatan dari apa yang dikerjakan atau apa yang dimiliki. Seorang pelukis sangat senang bila ketika pameran banyak orang yang datang dan memberikan apresiasi atas lukisannya. Seorang yang mengadakan pesta sangat senang bila semua orang yang diundangnya mau datang. Kehadiran para tamu merupakan bukti bahwa mereka menghormatinya. Memperhitungkan jati diri atau martabatnya. Sebaliknya orang dapat tertekan bila dia manyadari bahwa dirinya tidak dihormati oleh sesamanya. P van Breemen, seorang imam ahli nuklir, menulis buku dengan judul “Bagaikan Roti Diremah” dalam satu bagian dia mengatakan bahwa bila orang tidak dihormati atau tidak diakui, maka dia akan menjadi orang yang sakit jiwanya.

Hormat adalah inti dari cinta. Dimana tidak ada hormat maka tidak ada cinta. Orang tidak akan berkembang menjadi manusia yang sepenuhnya bila dia tidak dicintai. Dia merasa direndahkan atau dilecehkan. Sepasang suami istri yang hidup berkelimpahan tiba-tiba ingin memutuskan hubungan perkawinan mereka. Setelah berbicara panjang lebar ternyata akar masalah mereka adalah kurangnya rasa hormat menghormati. Sang suami sudah merasa cukup memenuhi kebutuhan istrinya dengan memberikan banyak harta. Tapi dia sering menegur keras istrinya di depan umum, sehingga istrinya merasa dipermalukan atau diperlakukan dengan tidak hormat. Dia merasa harga dirinya direndahkan dan diperlakukan tidak sebagai manusia.

Rasa dihormati memang sangat dibutuhkan oleh setiap manusia. Tetapi pengejaran rasa hormat apa lagi yang berlebihan dapat melukai banyak orang. Semua orang tidak suka melihat orang yang gila hormat. Orang yang merasa bahwa dirinya pantas dihormati, sehingga sikap dan perkataannya menjadi sebuah kesombongan, suatu tindakan yang melawan cinta. Yesus menegur orang-orang yang mengejar penghormatan bagi dirinya sendiri. “Celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu suka duduk di tempat terdepan di rumah ibadat dan suka menerima penghormatan di pasar.” (Luk 11:43). Kehormatan bukan dikejar tapi kehormatan akan datang sendiri bila kita berbuat baik. “tetapi kemuliaan, kehormatan dan damai sejahtera akan diperoleh semua orang yang berbuat baik, pertama-tama orang Yahudi, dan juga orang Yunani. Sebab Allah tidak memandang bulu.” (Rm 2:10-11). Dengan demikian yang perlu kita kejar adalah melakukan hal yang baik, tapi bukan perbuatan baik dimanipulasi untuk mencari kehormatan. Melakukan perbuatan baik demi mencari kehormatan, maka akan membuat orang menjadi munafik.

Kehormatan akan datang sendiri bila kita mampu mewujudkan cinta pada sesama. Tindakan, sikap, dan perkataan yang mewujudkan cinta yang tulus tanpa ada kemunafikan akan membuat orang lain memandang kita dengan penuh hormat secara tulus. Ada kisah seorang raja di Eropa yang merasa sangat dihormati oleh rakyatnya. Suatu hari dia jalan-jalan menyusuri kota. Tapi dia heran mengapa banyak rakyatnya yang lari sembunyi bila melihatnya dari jauh. Seorang pengawal disuruh menangkap seorang yang sedang berusaha menghindari raja itu. Ketika rakyat itu ditanya mengapa dia lari untuk sembunyi, dengan gemetar rakyat itu mengatakan bahwa dia takut pada raja. Jawaban itu menyadarkan sang raja bahwa kehormatan bukan tumbuh dari jabatan, status atau kehebatan yang disandangnya, melainkan dari rasa cinta. Meski raja itu sudah melakukan banyak hal untuk rakyat tapi bila dia tidak mencintai dan menghormati rakyatnya maka dia pun tidak akan dihormati.

Semua orang membutuhkan dihormati sebagai rasa dicintai. Hal itu harus dimulai dari diri kita sendiri yang berusaha untuk menghormati sesama, meski sesama itu kita anggap kurang baik bahkan mungkin musuh kita. "Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu.” (Luk 6:27) Dengan melakukan apa yang disabdakan oleh Yesus maka kita sudah menghormati sesama meski hal itu sangat menyakitkan diri kita. Sebetulnya disinilah letak kehormatan kita.

0 komentar:

Posting Komentar