Jumat, 04 November 2011

SEBOTOL MINYAK GORENG

Suatu hari ibu menyuruhku untuk membeli minyak goreng. Aku mengajak kedua adikku untuk pergi ke warung yang tidak seberapa jauh dari rumah. Dalam perjalanan pulang kami berkejaran di pematang sawah. Namun sial, aku terjatuh dan terperosok masuk ke sawah. Botol minyak yang kubawa pecah. Minyak tumpah di sawah. Sejenak kami termangu. Kami sudah membayangkan wajah ibu yang akan marah dan mengomel lama sekali. Minyak ini akan digunakan untuk menggoreng lauk untuk makan siang ini. Rasa sedih dan bersalah merasuk dalam dadaku.

Kami duduk di pematang sawah tanpa bicara. Ada perasaan takut, sedih, menyesal dalam hati. Aku hampir menangis, bukan karena hanya takut dimarahi oleh ibu, namun menyesal telah memecahkan botol minyak. Aku menyesali kecerobohanku. Tidak melakukan tugas dengan baik. Aku sedih mengingat bahwa ibu harus mengeluarkan uang lagi untuk membeli minyak, padahal aku tahu bahwa ibu tidak mempunyai banyak uang. Kami sangat miskin. Bila aku punya uang mungkin rasa sesal itu tidak sebegitu besar sebab aku akan menggantikannya. Namun aku tidak punya uang satu rupiah pun. Sesaat kami hanya duduk menatap minyak yang mulai terserap oleh tanah. Ingin aku mengulangi perjalanan dan tidak berkejaran sehingga tidak jatuh dan memecahkan botol minyak. Aku menyesal mengapa tadi bergurau dan berlarian. Namun semua sudah terjadi. Kami harus pulang apapun akibatnya.

Dengan langkah berat kami menyusuri jalan pulang. Kami tidak bicara sesuatu pun. Semakin mendekati rumah, hatiku semakin takut dan galau. Aku melihat ibu duduk di teras rumah dengan seorang tamu. Semakin dekat dengan teras, kakiku semakin berat. Ingin rasanya menangis. Di teras kulihat ibu tersenyum. Dengan lembut dia tanya mana minyak yang harus kami beli? Sejenak aku hanya bisa tertunduk takut menatap wajah ibu. Dengan suara bergetar aku katakan bahwa minyaknya tumpah di sawah. Aku sempat melirik wajah ibu. Dia tetap tersenyum. Lalu dengan lembut dia menyodorkan uang dan menyuruhku untuk membeli minyak lagi dengan peringatan agar aku tidak lari-lari lagi di sawah.

Perkataan ibu itu bagiku sebagai suatu berkat. Aku sangat bahagia sekali. Sepertinya ada beban besar yang terlepas dari diriku. Ingin rasanya aku melonjak kegirangan dan memeluk ibu saat itu juga. Aku merasakan kebahagiaan yang tidak terkirakan. Aku yang bersalah dan ketakutan akibat kesalahanku, ternyata tidak dipersoalkan oleh ibu. Meski sedih ibu memberiku uang lagi. Ibu mempercayaiku lagi tanpa kemarahan yang aku bayangkan selama perjalanan ke rumah. Tanpa komando untuk kedua kali aku langsung berlari ke warung lagi dengan penuh suka cita.

Pengalaman ini membuatku bisa merasakan betapa bahagianya si anak bungsu yang diterima lagi oleh bapanya (Luk 15:11-32). Dia tidak hanya diterima bahkan dibuat spesial dengan perhiasan dan pesta. Dia yang telah berdosa dan takut akan bapanya, ternyata ketakutannya itu tidak terjadi bahkan sebaliknya menjadi suka cita. Aku yakin meski tanpa pesta pun anak itu sudah menjadi bahagia, sebab bapanya menerima dia kembali. Dia pun sudah menetapkan sejak mau berangkat pulang bahwa dia akan menjadi pegawai bapaknya. Dia sadar akan ketidakpantasannya akibat tindakannya selama ini. Dia sadar bahwa akibat perbuatannya dia sepantasnya mendapatkan hukuman. Namun bapanya memberikan jauh lebih besar dari apa yang dia harapkan. Bapanya tidak saja mengampuni, namun memperlakukannya secara istimewa. Kebahagiaan anak bungsu ini menjadi berlipat dan tidak terkatakan.

Salah satu amanat Yesus yang harus diwartakan oleh para murid adalah berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa (Luk 24:46-53). Kamu adalah saksi akan semua itu. Yesus datang ke dunia untuk mencari dan mengampuni orang yang berdosa. Dosa-dosaku yang tidak terhitung diampuniNya. Allah selalu berusaha mengampuni manusia “Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba.” (Yes 1:18). Sebenarnya ada perbedaan mendasar dalam Perjanjian Lama dengan Perjanjian Baru. Dalam Perjanjian Lama, Allah akan menghukum orang yang berdosa atau orang yang berani melawan Allah (bdk Yes 1:19). Sedangkan dalam Perjanjian Baru Yesus menunjukkan kasih Allah yang sangat besar. Dia akan memberikan hujan dan matahari yang sama baik untuk orang jahat maupun orang baik (Mat 5:45). Yesus pun diutus untuk mencari domba yang hilang. Dia datang ke dunia untuk memanggil orang berdosa agar mereka bertobat, “Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat” (Luk 5:32). Perutusan ini pula yang diberikan oleh Yesus kepada para murid setelah Dia bangkit.

Belas kasih Allah yang mengampuni dosa kita bukan berarti bahwa kita dipersilahkan untuk berbuat dosa, sebab toh Allah siap mengampuninya. Bagiku hal ini kurang tepat. Allah memang mengampuni dosaku. Dia menerimaku kembali tanpa memberikan hukuman, bahkan aku diangkatNya sebagai anak bukan budak atau hamba dan Allah menjanjikan akan kebahagiaan surgawi. Namun belas kasih ini diberikan padaku agar aku bertobat. Pengampunan diberikan agar aku tidak melakukan dosa lagi. Pada Perjanjian Lama Allah menghukum orang berdosa, ternyata hukuman tidak membuat jera. Manusia masih berbuat dosa. Maka Yesus datang dengan memberikan cara baru. Dia mengampuni orang berdosa agar mereka bertobat. Kesadaran akan pengampunan ini membuat orang merasakan suka cita. Aku merasakan suka cita sebab ibu tidak marah. Ketidakmarahan ibu membuatku melihat belas kasih yang besar. Hal ini bukan berarti aku boleh berlarian lagi sehingga menumpahkan minyak, melainkan membuatku semakin hati-hati agar tidak berbuat kesalahan yang sama.

Aku bayangkan seandainya ibu marah dan mengomel atau sampai memukul, mungkin rasa sesalku akan berubah menjadi rasa marah baik pada diri sendiri maupun pada adikku yang tadi mengajakku berlarian. Hukuman membuat orang cenderung membuat pertahanan diri. Entah dengan memberikan alasan yang tepat agar tidak disalahkan atau mulai mencari kambing hitam agar kesalahannya tidak tampak. Pengampunan dan belas kasih membuat orang sadar akan dosanya dan menyesalinya. Dia tidak akan marah dan mencari kambing hitam.

Suka cita yang tidak terperikan adalah suka cita yang ditimbulkan oleh kesadaran akan belas kasih Allah yang besar meski aku orang berdosa. Suka cita bukan karena Tuhan memberikan kelimpahan harta, namun suka cita pengampunan dosa. Aku yang pendosa senantiasa diberi kesempatan untuk bertobat. Ditunggu untuk kembali ke rumahNya kapan saja aku mau. Suka cita ini membuatku bertobat.

Rasa suka cita pengampunan bukan hanya aku simpan dan menjadi milikku pribadi, namun harus dibagikan pada sesama. Namun hal itu tidak mudah, sebab aku masih sering sulit mengampuni sesama. Aku tidak ubahnya seperti hamba yang memohon belas kasih pada Allah untuk melepaskan hutang-hutangku, namun aku tidak mau melepaskan hutang orang yang berhutang padaku (Mat 18:21-35). Aku memohon agar Allah mengampuni dosaku, namun aku tidak mau mengampuni dosa sesamaku. Aku ingin mendapatkan suka cita pengampunan, namun aku tidak mau memberikan suka cita itu pada sesama. Aku merasa Allah wajib mengampuniku, namun aku tidak wajib mengampuni sesamaku. Aku bebas menyakiti hati Allah, namun hatiku tidak boleh disakiti.

Kesadaran suka cita pengampunan seharusnya bukan hanya membuatku bertobat. Tidak melakukan dosa yang sama, melainkan juga menumbuhkan dalam diriku keberanian untuk mengampuni dosa sesamaku. “dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami” (Mat 6:12). Jelas dalam doa yang diajarkan oleh Yesus, bahwa pengampunan yang aku terima dari Allah merupakan buah dari pengampunan yang aku berikan pada sesama. Bila aku sulit mengampuni sesama maka aku juga sulit diampuni oleh Allah. Hal ini juga dapat dilihat secara lain, bahwa pengampunan itu tidak mudah. Aku sudah sering sulit mengampuni sesama, maka dapat aku bayangkan sendiri betapa berat Allah mengampuniku yang senantiasa berbuat dosa. Kesadaran ini membuatku hati-hati agar aku tidak mudah berbuat dosa, meski Allah siap mengampuni.

Namun pengampunan pada sesama baru dapat kulakukan bila aku sudah pernah merasakan suka cita pengampunan dari Allah atau dari sesama. Bila aku tidak pernah merasakan diampuni, maka sulit rasanya untuk mampu mengampuni sesama. Seandainya aku tidak pernah memiliki pengalaman diampuni ibuku sebab memecahkan botol minyak, maka aku juga tidak pernah merasakan betapa bahagianya pengampunan itu. Anak-anak yang di rumah singgah hidup penuh dengan dendam. Mereka sulit untuk memberikan pengampunan. Bagi mereka hukum sudah jelas yaitu mata ganti mata, gigi ganti gigi. Mereka bersikap seperti itu sebab mereka belum pernah merasakan indahnya diampuni. Bila mereka berbuat kesalahan maka mereka dihukum baik dengan kata maupun siksaan tubuh. Pengalaman hukuman bagi orang berdosa membuat merekapun akan melakukan hukuman bagi sesamanya yang dianggap salah oleh mereka. Maka aku bayangkan seandainya semua orang pernah merasakan indahnya pengampunan mungkin dunia ini akan lebih baik. Tidak ada lagi aneka tindak kekerasan yang dapat merugikan banyak manusia. Seandainya banyak orang berbagi keindahan pengampunan maka akan semakin banyak orang akan berusaha mengampuni. Ya aku hanya bermimpi dan berandai-andai.

0 komentar:

Posting Komentar