Sabtu, 10 Januari 2009

WAKTU DAN MANUSIA

Banyak orang pada saat pergantian tahun mengatakan bahwa rasanya baru kemarin merayakan tahun baru sekarang sudah merayakan tahun baru lagi. Orang merasa dunia berputar semakin cepat, sehingga semua kejadian berlangsung begitu cepatnya. Padahal beberapa ahli mengatakan bahwa akibat pemanasan global dunia berputar lebih lambat satu detik. Inilah perbedaan antara yang nyata dengan yang dirasakan. Menurut buku “Mimpi-mimpi Einstein” bahwa orang hidup bukan hanya berdasarkan apa yang sungguh nyata tetapi juga apa yang dirasakan. Orang hidup tidak hanya berdasarkan apa yang obyektif tapi juga subyektif. Bahkan orang hidup lebih dipengaruhi oleh yang subyektif, yang dirasakan, daripada yang obyektif, apa yang nyata atau riil. Bila orang berjalan bersama dengan orang yang dicintainya maka perjalanan yang jauh pun akan terasa pendek. Sebaliknya bila orang berjalan dengan orang yang dibenci, maka perjalan pendekpun terasa tidak ada habisnya.

Dunia menjadi terasa cepat berputar sebab banyak orang menjadi sibuk. Pada jaman dulu kehidupan manusia berdasarkan pada pola petani yang menunggu padi tumbuh di sawah lalu memanennya. Ini suatu pola hidup yang masih mempunyai waktu luang yaitu pada saat antara menanam dan memanen. Kini manusia masuk dalam pola hidup industri dimana manusia dipacu untuk terus berkarya. Tidak ada waktu senggang dan luang. Akibatnya manusia sibuk. Mereka bukan lagi manusia yang memiliki waktu melainkan dimiliki oleh waktu.

Memang manusia hidup di dalam waktu artinya waktu bukan ada di luar manusia, sebab manusia sebagai mahluk jasmani segala perubahannya dilalui sesuai dengan pergeseran waktu. Beberapa tahun lalu aku masih kecil dengan segala keterbatasan yang ada. Sekarang aku sudah tumbuh besar seiring dengan perjalanan waktu. Segala perubahanku ada dalam waktu. Oleh karena pemahaman waktu subyektif jauh lebih kuat daripada waktu obyektif maka orang sering tidak sadar bahwa ternyata dia sudah berada jauh dari saat sebuah kesadaran itu muncul. Orang sadar ketika merayakan tahun baru pada tahun silam lalu dia tenggelam dalam aneka kesibukan dan tidak sadar akan waktu, sehingga dia disadarkan lagi oleh waktu pergantian tahun pada tahun ini. Dia menjadi terkejut mengapa begitu cepat sudah terjadi pergantian tahun lagi. Padahal waktu secara obyektif berjalan tetap bahkan semakin lambat satu detik.

Kesibukan membuat manusia tidak sadar akan waktu. Bila waktu itu berpengaruh juga terhadap perkembangan diri, maka banyak orang juga mungkin tidak sadar akan perubahan diri. Perubahan fisik mungkin dapat dengan mudah dilihat dan diketahui, tapi perubahan non fisik yang sering kali sulit diketahui. Bila orang mengalami pemberhentian dalam non fisik akan membentuk dia menjadi manusia yang aneh. Tubuhnya sudah besar tapi sifat, karakternya, cara pandang mengenai kehidupan dan sebagianya masih seperti ketika dia kanak-kanak atau dia memiliki tubuh orang dewasa tapi jiwanya masih tetap anak-anak. Misalnya anak-anak cenderung egois dan ingin menonjolkan kehebatannya, namun setelah dia dewasa makin sadar bahwa dia hidup bersama sesamanya. Keegoisan dan rasa ingin menang sendiri lambat laun akan luntur, namun karena dia tidak berkembang maka meski sudah dewasa tetap egois dan ingin menang sendiri.

Oleh karena manusia kadang kala perlu mengambil jarak dari kesibukan. Dia perlu diam sejenak untuk menilai dan merefleksi diri sejauh mana ada keseimbangan antara perubahan fisik dengan perubahan non fisiknya. Di tengah masyarakat sering kita lihat ada banyak tindak kekerasan dan tingkah laku manusia yang menyebut diri dewasa tidak ubahnya seperti anak kecil. Mereka tidak malu berkelahi di ruang umum, memamerkan kekuasaan yang dimiliki dan sebagainya. Mungkin mereka tenggelam oleh waktu sehingga tidak punya kesadaran akan dirinya.

0 komentar:

Posting Komentar