Rabu, 07 Januari 2009

PEMIMPIN

Seorang pemimpin berkata dengan lantang bahwa dia adalah orang yang berkuasa, maka dia berhak menentukan apa saja yang baik menurutnya. Untuk mendukung pernyataannya dia banyak mengutip hukum dan aneka aturan yang ada. Mendengar semua penjelasannya aku hanya dapat tertegun. Beginikah seorang pemimpin itu? Beberapa kali dia menyebutkan kedudukan dan jabatannya. Aku merasa tanpa menyebut pun aku sudah tahu siapa dia, tapi mengapa harus beberapa kali disebut? Seolah-olah dia tidak percaya dengan jabatan yang disandangnya, sehingga perlu meyakinkan para pendengarnya tentang siapa dirinya dan jabatannya.

Yesus bersabda bahwa “Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu”; Kebesaran seseorang bukan ditentukan oleh tingginya jabatan atau status yang disandang melainkan besarnya pelayanan yang dilakukannya. Namun dunia mengajarkan sebaliknya bahwa kebesaran seseorang ditentukan olah jabatan dan status yang disandangnya. Maka Yesus bersabda bahwa para pengikutnya harus lain dari apa yang dilakukan dunia.

Kekuasaan dan kepemimpinan terkait erat dengan tanggungjawab. Semakin tinggi dia berkuasa semakin besar tanggungjawab yang harus dipikulnya. Tanggungjawab bukan hanya untuk dirinya sendiri melainkan untuk banyak orang yang dipimpinnya. Hal inilah yang sulit terjadi. Banyak pemimpin terlalu mengagungkan status dan jabatannya. Dia bangga akan statusnya dan menjadikan statusnya sebagai senjata untuk memenuhi apa yang diinginkannya tanpa peduli apakah yang dipimpin setuju atau tidak. Bila ada orang yang berani mempertanyakan kebijakannya maka dia akan bertanya siapa yang menjadi pemimpin? Sebetulnya pertanyaan itu sebuah pertanyaan yang lucu dan kekanak-kanakan. Tanpa ditanya pun orang sudah tahu siapa yang menjadi pemimpin.

Untuk itu seorang pemimpin harus sadar akan tugasnya bahwa dia dipilih bukan untuk menguasai melainkan untuk melayani. Dia harus sadar bahwa semakin tinggi status yang disandangnya semakin besar tanggungjawabnya pada orang yang dipimpin. Maka sangat penting untuk mendengarkan orang yang dipimpin. Bertanya apa yang dibutuhkan dan apa yang dapat membuat mereka bahagia dan sejahtera. Bukan hanya menyodorkan ide-idenya pribadi dan menekankan bahwa semua orang harus taat padanya. Dalam hal ini dibutuhkan kerendahan hati dan kematangan jiwa seseorang. Dengan rendah hati seorang pemimpin akan menyadari bahwa apa yang didudukinya ini adalah anugerah Tuhan yang dipercayakan padanya. Dia dipercaya Tuhan untuk membimbing sekian banyak umat seperti seorang gembala membimbing dombanya untuk mendapatkan ketenangan. Bukan untuk menguasai dombanya. Dengan memiliki kematangan jiwa dia tidak mudah cepat bereaksi dan menolak, melainkan tetap tenang meski ada banyak orang meragukan kebijakan yang dibuatnya.

Jabatan adalah anugerah dari Tuhan. Manusia hanyalah hamba yang tidak pantas dan hanya menjalankan apa yang dikehendaki oleh tuannya. Selain itu jabatan adalah suatu tempelan dalam hidup manusia yang diterima pada suatu saat tertentu. Ketika lahir semua manusia masih polos. Tidak mempunyai jabatan atau kekuasaan. Dalam perkembangan hidupnya dia dapat meraih jabatan atau kekuasaan. Semua itu kekal sebab hanya menempel sesaat. Tahun ini dia menjadi presiden mungkin tahun depan dia sudah bukan presiden lagi. Bila demikian mengapa orang membanggakan jabatannya? Namun orang sering merasa bahwa apa yang ada padanya saat ini adalah atas usahanya sendiri. Maka setelah memperolehnya dia akan bertindak dengan mengandalkan kekuasaannya. Yesus adalah orang yang berkuasa. Namun Dia sadar akan siapa diriNya dan tugas perutusanNya, maka Dia tidak menggunakan kekuasaaNya untuk kepentingan diriNya pribadi melainkan untuk kemuliaan Allah. Maka perlu bagi seorang pemimpin untuk terus sadar akan anugerah Tuhan dan sadar akan siapa dirinya adanya bahwa dia hanyalah hamba yang tidak berguna.

0 komentar:

Posting Komentar