Senin, 17 Oktober 2011

PESTA UNTUK KAUM MISKIN

Seorang teman mengatakan dia diminta oleh seseorang untuk menjualkan undangan dalam rangka mencari dana untuk kaum miskin. Katanya ada sekelompok orang Katolik yang kaya ingin mencari dana untuk kaum miskin dengan mengadakan makan malam bersama dan mengundang artis. Bagi yang ingin datang harus membeli undangan yang harganya bervariasi. Aku bertanya padanya apakah dia membeli undangan itu? Dia mengatakan membeli 10 dan dibagikan pada teman-temannya sebab dia sendiri sibuk.

Dia membeli sebab melihat tujuannya acara itu sangat bagus yaitu untuk menggalang dana bagi orang miskin. Aku lalu bertanya mengapa untuk membantu orang miskin harus memakai cara makan malam di rumah makan mewah? Dia menjawab bahwa untuk mendapatkan ikan besar harus dengan umpan yang besar. Untuk mengajak orang kaya mau menolong orang miskin harus dengan acara seperti itu. Mendengar penjelasan seperti itu aku menjadi prihatin. Aku tanya dia seandainya Yesus masih hidup dan Dia ditawari undangan itu apakah Dia akan membeli? Apakah Dia mau menjadi panitia acara seperti itu? Apakah dia mau mengadakan acara seperti itu?

Jujur saja aku sebetulnya prihatin dengan acara semacam itu. Mengapa untuk menolong orang miskin harus melalui pesta? Ibu Teresa dari Kalkuta, seorang perempuan yang menjadi santa karena kepeduliannya pada kaum miskin, pernah mengkritik orang-orang yang sibuk membicarakan kaum miskin di hotel-hotel mewah. Kini terjadi disini. Orang ingin membantu orang miskin dan membicarakannya di rumah makan mewah. Aku tanya pada temanku apakah itu tidak berarti menjual orang miskin? Mengapa mereka yang sudah miskin masih tega untuk dijual? Mengapa kemiskinan digunakan untuk mencari dana? Temanku mengatakan hal itu perlu agar mendapatkan dana yang lebih besar sehingga semakin banyak orang dapat dibantu. Bagiku apapun yang dikatakan temanku, tetap sama saja. Ini menjual kemiskinan.

Aku pernah merasakan betapa tidak enaknya mengalami hal seperti itu. Suatu hari ada sekelompok orang yang kaya dari sebuah organisasi kemasyarakatan datang ke tempat dampingan kami di tepi sungai. Setelah membagi bingkisan mereka meminta aku mencari sebuah karton. Kebetulan ada karton bekas kotak mie instant. Ternyata karton itu disobeknya sehingga menjadi sebuah bentangan karton besar. Dengan spidol hitam dia menuliskan kata-kata bahwa kelompoknya membantu kami. Sebetulnya mereka sudah menyiapkan spanduk tapi lupa membawa. Katanya untuk dokumentasi. Aku diminta membawa karton itu dan berdiri bersama teman-teman untuk difoto. Rasanya saat itu aku sungguh merasa malu. Bagiku lebih baik tidak usah diberi daripada disuruh foto seperti itu. Masih ada beberapa pengalaman lagi yang membuatku prihatin bagaimana orang miskin sudah tidak memiliki apa-apa tapi masih tega dijual. Digunakan untuk mencari keuntungan. Bagiku hal ini memanfaatkan kemiskinan untuk mencari keuntungan.

Aku bayangkan saat ini ada sebagian orang makan makanan yang sangat enak sambil menikmati kemewahan sebuah restoran besar. Sambil menikmati hidangan yang mewah mereka asyik membicarakan sesamanya yang membayangkan makanan seperti itu saja tidak berani. Bahkan mungkin mereka tidak mampu membayangkan sebab mereka tidak pernah melihat makanan seperti yang dimakan oleh orang yang membicarakan mereka saat ini. Bagiku kegiatan ini adalah sebuah ejekan bagi kaum miskin. Mereka yang kelaparan dibicarakan oleh orang yang kenyang dan masih mempunyai banyak makanan berlimpah. Dalam pesta pasti ada banyak makanan tersisa yang akan dibuang begitu saja. Entah kalau restoran itu mengijinkan makanan sisa untuk dibawa pulang oleh karyawannya atau dibagikan pada kaum miskin. Namun pada umumnya kebijakan restoran tidak mengijinkan hal itu. Bagaimana membicarakan orang lapar sambil membuang makanan ke dalam tong sampah?

Aku senang bila ada orang yang kaya sudi memikirkan nasib sesamanya yang miskin. Bagiku kepedulian kepada sesama yang menderita bukan muncul dari malam dana, namun dari rasa syukur. Orang yang mendapatkan kekayaan berlimpah menyadari bahwa apa yang mereka miliki berasal dari Allah. Kesadaran ini membuatnya bersyukur. Rasa syukur itulah yang diwujudkan dengan mengembalikan apa yang dari Allah kepada Allah lagi yang ada dalam diri orang miskin. Jadi pemberian kepada orang miskin adalah perwujudan rasa syukur seseorang atas anugerah Allah yang diterimanya.

Memang ada orang mengadakan malam dana dengan alasan untuk membuka mata orang kaya akan kemiskinan yang ada. Bagaimana mereka akan terbuka hatinya bila tidak ada yang memberi tahu? Bagiku ini alasan yang dicari-cari. Di negara ini begitu kita membuka pintu rumah akan mudah melihat orang miskin. Begitu kita keluar rumah di jalan sudah banyak orang miskin. Di perempatan sudah banyak anak pengamen dan pengemis. Di tepi-tepi jalan banyak pedagang kaki lima. Di depan rumah mereka ada penjual-penjual sayur dan makanan keliling. Di tepi-tepi jalan berderet rumah kumuh dan kaum gelandangan yang berjalan tanpa tujuan. Bagaimana mungkin mereka tidak tahu kalau ada orang miskin yang membutuhkan pertolongan? Namun oleh karena hal itu hanya dilihat oleh mata bukan mata hati atau kepekaan hati maka semua dianggap biasa saja bahkan mulai tumbuh pengadilan-pengadilan tentang kaum miskin.

Untuk mampu melihat kaum miskin dibutuhkan kepekaan mata hati. Apakah setelah ada malam dana maka akan tumbuh kepekaan hati? Bagiku kalau toh disana tiba-tiba ada orang yang mau menyumbang, apakah sumbangan itu muncul karena kepekaan hati atau karena banyak mata yang memandang dia memberikan sumbangan? Yesus mengatakan “Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu." (Mat 6:4) Kalau memang mau memberi apakah perlu harus melalaui sebuah pesta yang dihadiri oleh banyak orang? disinilah tampak bahwa banyak orang tampaknya mencintai sesamanya padahal sebetulnya dia mencintai dirinya sendiri.

Pemberian adalah perwujudan cinta seseorang pada sesamanya. Dia memberi atau menolong sesama sebab dia merasa bahwa dia mencintai mereka. Bila seorang mencintai sesama berarti dia berani berkurban demi sesama. Pemberian atau pertolongan adalah bentuk kurban bagi sesama. Kurban berarti tidak mengambil keuntungan bagi diri sendiri. Paulus mengajarkan bahwa kita bila memberi tanpa mencari keuntungan, “Siapa yang membagi-bagikan sesuatu, hendaklah ia melakukannya dengan hati yang ikhlas; siapa yang memberi pimpinan, hendaklah ia melakukannya dengan rajin; siapa yang menunjukkan kemurahan, hendaklah ia melakukannya dengan sukacita” (Rm 12:8). Keuntungan bukan hanya materi melainkan juga popularitas, penghargaan dan sebagainya. Bila orang berkurban tapi masih mencari keuntungan bagi diri sendiri apakah dia sudah berkurban? Bukankah dia sama saja dengan berdagang?

Yesus dalam pelayananNya melibatkan orang kaya. Namun Dia tidak pernah mengadakan malam dana. Dia memberikan keteladanan bagaimana mengasihi orang yang menderita. Dia menyerukan melalui kata dan tindakan agar orang peduli pada sesama. Dengan demikian sebetulnya yang dibutuhkan bukanlah sebuah pesta yang menghabiskan banyak dana melainkan keteladanan. Bagaimana orang mau peduli bila tidak ada yang memberi contoh? Sebetulnya contoh itu sudah jelas yaitu Yesus. Namun orang akan berdalih bahwa Yesus tentu saja dapat melakukan hal itu sebab Dia adalah Putra Allah, sedangkan mereka hanyalah manusia biasa. Hal ini sebetulnya salah, sebab sudah menghilangkan kemanusiaan Yesus yang juga dapat sedih dan takut. Selain itu kita dapat melihat kembali panggilan kita. Bukankah Yesus menuntut bagi orang yang mengikutiNya keterlibatan secara total? “Masih tinggal satu hal lagi yang harus kaulakukan: juallah segala yang kaumiliki dan bagi-bagikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.” (Luk 18:22)

0 komentar:

Posting Komentar