Selasa, 18 Oktober 2011

TERLAMBAT

Aku sedang mempersiapkan kursi di kapel untuk misa nanti malam. Tiba-tiba HPku berdering. Kulihat nomor telpon rumah singgah. Terdengar suara teman yang mengatakan bahwa ibu tetangga depan rumah sudah meninggal. Aku terkejut. Setelah memberi tahu beberapa hal yang perlu dia kerjakan terutama menjaga teman-teman di rumah singgah agar tidak ribut dan besar bantuan yang perlu dia berikan, telpon kututup. Pikiranku berkecamuk. Penuh penyesalan dan pengandaian.

Siang tadi setelah mengurus sebuah keluarga yang akan pulang ke Atambua aku ke rumah singgah. Disni sebetulnya aku hanya menunggu waktu keberangkatan ke Prigen untuk memberi retret pada sebuah kelompok. Ketika sedang mengobrol dengan teman-teman soal latihan musik, seorang anak datang padaku dan mengatakan agar aku melihat ibu dari tetangga depan rumah yang sedang sakit. Aku datang ke sebuah rumah kontrakan yang agak kecil. Rumah itu terdiri dari dua ruang. Ruang pertama kamar tidur sekaligus merangkap ruang tamu, sedang kamar belakang menjadi dapur sekaligus tempat ibu itu berbaring. Seorang bapak menceritakan bahwa ibunya sudah dua hari ini sakit. Dia tidak mau makan dan berak darah. Katanya beberapa hari yang lalu dia makan sambal tempe. Bapak ini tidak mampu membawa ke dokter sebab tidak punya uang sama sekali. Maka ibunya tidak diberi obat apa-apa.

Aku minta seorang teman di rumah singgah untuk mengantar ke UGD nanti sore, sebab aku tidak membawa uang yang cukup. Aku menelpon bendahara rumah singgah agar dia nanti sore datang ke rumah singgah dengan membawa uang untuk berobat. Kulihat jam di dinding sudah hampir pukul 14.00. Aku pamit sebab sudah membuat janji dengan beberapa orang untuk berangkat retret bersama-sama. Ternyata pukul 16 lebih ibu ini meninggal dunia. Jadi teman di rumah singgah belum sempat membawa ke UGD sebab bendahara rumah singgah baru pulang dari kantor pukul 17.00. Terlambat!

Mendengar bahwa ibu ini meninggal aku jadi sedih. Kenapa tadi aku tidak menelpon teman-teman yang mau retret agar menunggu sejenak, sebab aku sedang mengantar ibu ini ke rumah sakit. Pasti teman-teman juga maklum. Selain itu untuk sampai Prigen aku hanya membutuhkan waktu satu jam saja. Jadi masih ada cukup waktu untuk persiapan disana. Seandainya ibu ini dibawa ke rumah sakit mungkin dia akan tertolong. Anak ibu itu mengatakan, sebetulnya dua hari yang lalu seorang yang bekerja di puskesmas sudah menyarankan agar ibu ini opname tapi tidak ada biaya. Harusnya aku segera membawanya ke UGD. Aku memang tidak membawa uang, tapi bukankah aku mempunyai ATM dan di rumah sakit ada mesin ATM? Mengapa aku tidak peka akan situasi seperti ini? Mengapa aku meremehkan keselamatan seseorang?

Di depan tabernakel aku termenung seorang diri. Terbayang perumpamaan Yesus tentang orang Samaria yang baik hati. Aku sering membuat renungan dari perikop ini, namun ketika berhadapan dengan kenyataan, aku tidak jauh berbeda dengan orang-orang yang mengabaikan kurban dengan alasan mereka mempunyai kesibukan masing-masing. Agar tetap dapat menjalankan tugas yang harus dikerjakannya. Namun mereka telah menyepelekan nyawa seseorang. Dihadapkan dengan kenyataan ini aku jadi malu melihat diriku sendiri. Aku telah menyepelekan nyawa seseorang demi sebuah retret. Seandainya aku telat datang di rumah retret pun aku yakin semua peserta bisa maklum sebab nyawa seseorang lebih penting dari sebuah acara perkenalan. Tapi mengapa tidak aku lakukan? Mengapa aku lebih mementingkan acara persiapan dibandingkan nyawa seseorang. Mengapa aku tidak sadar bahwa dua hari tidak makan adalah sesuatu yang parah? Aneka pertanyaan muncul. Aneka penyesalan pun datang.

Tidak tahan duduk di depan tabernakel aku berjalan ke lantai dua dimana teman-teman sedang mempersiapkan ruangan. Aku ceritakan ini pada mereka. Sebetulnya dalam perjalanan tadi pun aku sudah bercerita bahwa ada seorang ibu yang sakit. Tapi hanya sepintas saja. Mereka mencoba menghibur dengan mengatakan mungkin Yesus memang belum memberi kesempatan padaku untuk berbuat baik. Sambil berjalan kembali ke kapel aku tersenyum kecut. Bagiku Yesus sudah datang dan memberi kesempatan tapi aku membutakan diri. Aku menutup pintu hatiku dengan berbagai macam alasan yang masuk akal. Aku telah menumpulkan hati. Ternyata tidak mudah untuk menjadi orang yang seperti diharapkan oleh Yesus, yaitu peka terhadap penderitaan sesama.

Yesus bersabda bahwa Dia akan datang seperti pencuri di tengah malam. Aku dituntut untuk berjaga-jaga. Aku harus siap menunggu kedatanganNya kapan saja Dia mau. Tidak peduli siang atau malam. Aku sedang sibuk atau menganggur. Dia datang sesuka hatiNya. Aku hanya diminta untuk berjaga. Dia sudah datang padaku tapi aku tidak siap. Aku terlelap oleh kepentinganku, sehingga Dia berlalu. Aku tidak berjaga-jaga. Hiburan teman-temanku semakin membuatku gundah. Apakah ini teguran Yesus agar aku senantiasa siap menanti kedatanganNya?

Saat ini aku sedang mempersiapkan retret dengan tema yang membuatku bergidik yaitu “Mencari wajah Yesus dalam wajah orang miskin”. Aku dan teman-teman telah mempersiapkan retret kali ini dengan serius. Aku membaca beberapa buku sebagai referensi. Mendiskusikan bersama. Kami ingin agar pada akhir retret semua peserta akan mampu menemukan wajah Yesus di dalam kaum miskin yang dilayaninya. Ternyata Yesus ingin mengajarku terlebih dahulu. Dia ingin aku retret terlebih dahulu sebelum memberikan retret. Dia ingin agar aku bergulat terlebih dahulu sebelum mengajak umat untuk bergulat. Dia telah mematahkan kesombonganku yang seolah-olah telah menemukan wajahNya di tengah kaum miskin. Dia ingin agar aku menemukanNya bukan hanya dari buku dan refleksi, melainkan dari realita hidup yang nyata.

Kematian tetangga depan rumah memang sangat menyakitkan hatiku, namun aku yakin bahwa Yesus berniat mengajarku. Dia ingin agar aku tidak hanya sekedar sharing dari buku melainkan dari realita hidup. Aku harap pengalaman ini semakin membuatku senantiasa berjaga. Peka akan kehadiranNya yang nyata bukan hanya berteori.

0 komentar:

Posting Komentar