Jumat, 24 Juli 2009

MAKAN

Malam sudah larut aku dan teman-teman masih duduk di tepi jalan. Aku mendengarkan mereka bercerita tentang kehidupan dengan diselingi canda yang membuat kami tertawa terbahak-bahak. Ada saja cerita lucu dan kekonyolan mereka yang dapat membuatku geleng-geleng kepala dan tertawa trenyuh. Ketika malam semakin larut perut kami lapar. Tidak ada satu pun anak yang mempunyai uang. Semua mengatakan bahwa mereka tidak mempunyai uang meski aku tahu bahwa pasti masih ada yang menyimpan uangnya di bagian tubuh yang sangat tersembunyi agar tidak dicuri.

Tiba-tiba muncul ide untuk hoyen istilah untuk mencari makanan di tempat sampah. Semula aku ragu apakah akan ikut bersama mereka atau pulang saja. Tapi mereka memaksa, maka akhirnya aku bersama mereka pergi jalan kaki ke sebuah plaza yang cukup jauh dari tempat kami mangkal. Di sana kami langsung ke arah tempat pembuangan. Seorang satpam menjaga tempat itu. Namun teman-teman dengan berbagai cara dapat masuk dan mengorek tempat sampah. Segara kami berebut dan mengambil secepat mungkin sebab bila sampai satpam mengetahui hal itu maka mereka akan marah dan mengejar kami. Semua makanan itu kami bawa pulang ke rumah singgah dan kami makan bersama.

Abraham Maslow (1908-1970), pelopor psikologi humanistik, mengatakan bahwa manusia termotivasi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Menurut dia ada 5 tingakatan kebutuhan dan yang paling dasar adalah kebutuhan fisiologis yaitu sandang pangan, papan dan kebutuhan biologis lainnya. Makan adalah kebutuhan biologis yang mendorong manusia untuk berdaya upaya sekuat mungkin untuk memenuhinya. Maka ketika lapar teman-teman tidak peduli akan kesehatan dan sebagainya. Mereka tanpa jijik memakan sisa makanan. Orang lapar pun bisa bahaya. Peristiwa bonek yang merusak beberapa stasiun ketika pulang dari Jakarta juga disebabkan oleh rasa lapar. Mereka menjadi liar. Namun ketika diberi nasi bungkus maka mereka tidak berulah lagi.

Yesus pun memperhatikan kebutuhan ini. Dia diikuti oleh banyak orang yang ingin melihatNya membuat mujijat atau berharap dapat mujijat atau senang mendengarkan ajaranNya. Namun bila mereka lapar maka mereka dapat menjadi liar. Maka Yesus bertanya pada Filipus agar dia memberi makan. Namun Filipus dengan alasan yang masuk akal menolak tugas itu. Andreas menunjukkan ada anak kecil yang membawa 5 roti dan 2 ikan. Dari 5 roti dan 2 ikan itu Yesus dapat memberi makan banyak orang. Sedikit roti dan ikan dapat menolong ribuan orang memenuhi kebutuhan dasarnya.

Menurut PBB akibat krisis global maka saat ini ada 1,02 milyar orang kelaparan atau 1 dari 6 orang menderita kelaparan. Dengan demikian di sekitar kita banyak orang yang kelaparan. Apa yang dapat kita perbuat? Mungkin kita akan berkata seperti Filipus bahwa seluruh harta kita bila dijual tidak cukup untuk memberi makan. Yesus tidak membutuhkan aneka teori dan perhitungan. Dia hanya membutuhkan keberanian untuk berbagi. Apa yang sedikit dan dirasa tidak mencukupi namun ditangan Yesus dapat menjadi sesuatu yang berlimpah. Namun sejauh mana kita berani berbagi sedikit apa yang kita miliki? Anak kecil itu memberi teladan bahwa dia berani memberikan yang dia miliki pada Yesus demi orang banyak. Apakah mudah bagi kita untuk memberikan apa yang kita miliki bagi orang lain? Kita sering mengeluh ada banyak aneka kejahatan. Mengapa mereka menjadi nekad seperti itu? Bila kita mengacu pada Maslow maka kita dapat paham, bahwa mereka berbuat itu sebab mereka lapar.

Masih banyak teman-teman terpaksa hoyen atau orang melakukan kekerasan demi mendapat makanan. Apakah kita hanya mengeluh saja atau mulai berani berbagi meski apa yang kita miliki rasanya tidak mungkin untuk memenuhi seluruh kebutuhan itu. Serahkan semua pada Yesus, biar Dia sendiri yang akan mengubahnya dan dapat mencukupi kebutuhan manusia. Mujijat pergandaan roti hanya dapat terjadi bila ada orang yang berani berbagi bukan berteori dan terbeban dengan aneka ketakutan.

0 komentar:

Posting Komentar