Kamis, 16 Juli 2009

YUSUP

Dalam hidup sering kita masuk dalam penderitaan yang tidak kita duga. Kita sudah berbuat baik tapi ternyata masih dibenci oleh orang bahkan disingkirkan dari lingkungan atau pergaulan. Kita dijadikan orang yang tidak ada artinya dan dihilangkan jati diri kita. Pada saat seperti ini kita sering merasa bahwa Allah itu tidak adil. Allah membiarkan orang lain bertindak sewenang-wenang pada kita. Muncul juga rasa benci dan dendam pada orang yang telah berlaku tidak adil dan sewenang-wenang. Rasa benci dan dendam itu bisa mengeram dalam hati sampai bertahun-tahun bahkan sampai mati.

Beberapa waktu lalu aku nonton sebuah film tentang kisah seorang aktifis di Afrika Selatan. Dia diperlakukan tidak adil bahkan difitnah sampai keluarganya hancur dan akhirnya dia masuk penjara sebab dituduh meledakkan sebuah pabrik. Dia tahu siapa kepala polisi rahasia yang membuatnya menderita seperti itu. Ketika sistem apartheid sudah dihilangkan maka orang itu bebas dari penjara. Suatu hari dia melihat kepala polisi rahasia itu duduk sendirian di tepi danau. Semula orang ini ingin membunuhnya tapi dia teringat oleh kata-kata Nelson Mandela, pemimpin pergerakan di Afrika Selatan, yang mengatakan bahwa penjara yang paling mengerikan adalah dendam dan kebencian. Inilah yang membuat sistem apartheid bisa berjalan lama, sebab ada dendam dan kebencian dari orang kulit putih terhadap orang kulit hitam.

Bagi kita mungkin dengan mudah membenarkan apa yang dikatakan oleh Nelson Mandela bahwa kita harus mengampuni. Tapi bila kita yang menjadi kurban penindasan dan mengalami penderitaan itu, mungkin perkataan itu menjadi sangat berat. Tidak jarang dalam hati kita tertumpuk dendam dan kebencian pada orang yang pernah melukai kita sejak kita masih kecil. Maka tidak jarang orang mempunyai luka batin dan menjadi pribadi yang kurang menyenangkan sebab masa kecilnya penuh luka.

Dalam Kitab Suci, Yusup adalah salah satu kurban ketidakadilan. Dia dibenci dan disingkirkan oleh saudara-saudaranya. Dia hampir saja dibunuh dan akhirnya dijual sebagai budak. Ketika dia sudah menjadi penguasa di Mesir dan saudara-saudaranya datang padanya untuk meminta bantuan, ternyata Yusup tidak dendam. Dia melihat seluruh perjalanan hidupnya dalam konteks rencana Allah yang mahabesar. “Maka Allah telah menyuruh aku mendahului kamu untuk menjamin kelanjutan keturunanmu di bumi ini dan untuk memelihara hidupmu, sehingga sebagian besar dari padamu tertolong. Jadi bukanlah kamu yang menyuruh aku ke sini, tetapi Allah; Dialah yang telah menempatkan aku sebagai bapa bagi Firaun dan tuan atas seluruh istananya dan sebagai kuasa atas seluruh tanah Mesir.” (Kej 45:7-8) Yusup melihat penjualan dirinya sebagai budak sebagai rencana Allah untuk mendahului saudara-saudaranya ke Mesir dan menolong mereka pada saat terjadi bencana kelaparan.

Penderitaan akibat disingkirkan bukan hanya menuntut orang untuk mengampuni seperti yang diajarkan oleh Nelson Mandela tapi juga menuntut kita untuk melihatnya sebagai rencana besar Tuhan yang belum kita ketahui seperti yang diajarkan oleh Yusup. Namun kita sering kali sulit untuk melihatnya seperti itu. Kita jauh lebih mudah untuk mengenang rasa sakit yang menimbulkan kebencian daripada menyerahkan pada Allah apa yang akan terjadi dalam hidup selanjutnya.

Allah mempunyai rencana besar pada setiap orang yang tidak diketahui oleh orang itu. Rencana Allah merupakan misteri hidup manusia. Yusup pasti marah, kecewa dan sedih ketika dijual sebagai budak. Tapi semua dilihat sebagai rencana Allah yang patut disyukurinya. Sayangnya hal ini tidak terjadi pada banyak orang. Sering kali orang menjadi penindas pada semua musuh yang dulu pernah melukainya. Seorang anak yang diperlakukan buruk oleh orang tuanya terus menyimpan dendam. Ketika orang tuanya sudah renta dan anak itu sudah menjadi kuat, maka dia memperlakukan orang tuanya dengan sewenang-wenang. Seandainya dia mampu melihat bahwa penderitaan itu adalah rencana Allah, mungkin dia akan bertindak seperti Yusup.

0 komentar:

Posting Komentar