Sabtu, 10 April 2010

DUA MURID YANG TERSEMBUNYI

Perjalanan hidup Yesus memang suatu perjalan hidup yang tragis dan ironis. Ketika Dia mampu melakukan banyak mujijat maka banyak orang mengikutiNya. Mereka berharap bahwa Dia adalah Mesias yang dapat membebaskan bangsa Israel dari penjajahan Romawi yang sangat menekan. “Padahal kami dahulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel.” (Luk 24:21). Harapan dan keyakinan inilah yang membuat banyak orang berebut agar dapat dekat dengan Yesus. Bahkan para muridpun tanpa rasa malu berebut ingin menjadi yang terkemuka dan duduk di sisi kanan dan kiri Yesus bila saatnya tiba. Orang pun bersorak sorai ketika Yesus masuk Yerusalem menjelang Paskah, sebab mereka yakin gerakan pembebasan itu akan dimulai di Yerusalem pada saat Paskah. Maka tidak heran bila Herodes yang menjadi penguasa di utara datang ke Yerusalem meski dia bermusuhan dengan Pilatus yang menguasai Yerusalem.

Pada akhir hidupNya, Yesus tinggal seorang diri. Dia dijual oleh Yudas. Dikhianati oleh Petrus. Ditinggal lari oleh para murid yang lain. Semua penduduk Yerusalem berubah menjadi musuh. Mereka terkena hasutan para imam kepala dan tua-tua bangsa untuk menghujat Yesus dan menuntut hukuman mati dengan alasan yang dicari-cari. Bahkan mereka mengakui kekuasaan kaisar yang sebetulnya adalah musuh mereka. Pada saat disalib Yesus sendirian hanya diikuti oleh perempuan-perempuan yang tidak berdaya. Tapi akhirnya mereka pun pergi meninggalkan Yesus tergantung disalib sendirian. Beruntung ada Yusuf dari Arimatea dan Nicodemus yang mau merawat jenasah Yesus dan memakamkan. Mereka adalah murid yang datang pada Yesus dengan sembunyi-sembunyi sebab takut ketahuan oleh orang Yahudi. Merekalah yang mengangkat martabat Yesus yang telah direndahkan sedemikian rupa. Andai mereka tidak datang tentu jenasah Yesus akan tergantung sampai hari Paskah berlalu.

Ketragisan hidup Yesus dapat dialami oleh banyak orang. Pada waktu seseorang itu kuat maka banyak orang datang padanya dan ingin dekat padanya. Bahkan orang tidak malu mengakuinya sebagai saudara meski mungkin dari keturunan yang kesekian dan rumit menelusurinya. Orang dengan bangga mengaku mengenal meski mungkin hanya pernah berjumpa dalam beberapa menit saja. Tapi ketika orang itu jatuh maka banyak orang akan meninggalkannya bahkan mengaku bahwa dia tidak pernah mengenalnya.

Kesetiaan pada orang yang disingkirkan oleh masyarakat membutuhkan keberanian. Untuk itu dibutuhkan cinta yang besar dan tulus. Cinta yang bukan mencari keuntungan diri tapi pengurbanan dan keinginan untuk membahagiakan orang lain. Banyak orang lebih suka dan bangga bila mampu memberi sesuatu atau mengajak makan seorang pejabat Gereja. Tapi mereka enggan untuk memberi sesuatu atau mengajak makan orang miskin yang terbuang. Seorang yang dulu kaya raya dan mempunyai banyak teman dan saudara setelah tua dan miskin menjadi stress sebab tidak ada lagi orang yang mau berteman dan mengakuinya sebagai saudara. Dia bertanya kemana mereka semua? Banyak orang tua yang sudah penyakitan merasa sedih sebab ditinggalkan oleh anak-anak mereka. Bahkan anak-anaknya pun tidak mau mengakuinya sebagai orang tua.

Dunia membutuhkan orang seperti Yusuf dari Arimatea dan Nicodemus. Sahabat-sahabat sejati. Orang yang tetap setia dan menghormati temannya meski temannya sudah dikucilkan dan dianggap sebagai sampah masyarakat. Mereka tetap menghargai Yesus meskipun Dia menjadi orang yang sangat hina dan kehilangan martabatnya sebagai manusia. Mereka tidak menonjolkan diri ketika Yesus sedang berkuasa tapi setia pada saat Yesus seorang diri. Dalam dunia yang makin egois dimana orang hanya berpikir tentang untung dan rugi bagi dirinya sendiri, maka keteladanan Yusuf dari Arimatea dan Nicodemus sangat penting untuk kita refleksikan bersama. Sejauh mana kita setia pada orang yang saat ini ada bersama kita? Apakah kita dengan mudah meninggalkan orang yang dianggap hina oleh masyarakat?

0 komentar:

Posting Komentar