Sabtu, 24 April 2010

PASKAH TELAH BERLALU

Hari raya Paskah sudah berlalu. Semua aktifitas Gereja sudah kembali seperti semula. Tidak ada lagi rapat-rapat untuk merencanakan perayaan Paskah. Tidak ada lagi orang berlatih koor sampai larut malam agar perayaan Paskah dapat meriah dan bagus. Tidak ada lagi orang sibuk membetulkan dan menambah aneka peralatan dan kursi agar umat yang hadir dalam perayaan Tri Hari Suci dapat mengikuti semua upacara dengan nyaman. Tidak ada latihan drama untuk mevisualisasikan kisah sengsara. Tidak ada lagi orang berkumpul untuk mengadakan pendalaman iman yang sesuai dengan tema APP. Kesibukan menjelang Paskah sudah selesai. Kini semua tinggal kenangan. Orang hanya berbicara mengenai kemeriahan Minggu Palma dimana orang berarak mengelilingi jalan sekitar gereja sambil membawa daun palma. Atau memuji drama visualisasi kisah sengsara yang menyentuh dan sebagainya.

Apakah Paskah sudah berhenti dan kita mulai mempersiapkan hari paroki, Natal atau hari raya lain? Paskah adalah peringatan kebangkitan Yesus. Kebangkitan membuat Yesus berubah. Menurut Albert Enstein (1879-1955), seorang yang dianggap paling genius di dunia, setelah bangkit Yesus mengenakan tubuh sempurna. Tubuh yang tidak terikat oleh ruang dan waktu. Dia dapat menembus rumah yang tertutup rapat tapi Dia dapat disentuh. Dia dapat menghilang tapi Dia dapat makan dan minum. Dia dapat berada di dua tempat secara bersamaan. Menurut Einstein tubuh semacam inilah yang diharapkan oleh manusia.

Bila setelah bangkit Yesus mengenakan tubuh baru yang sempurna bagaimanakah dengan kita? Salah satu bagian dalam liturgi malam Paskah adalah pembaptisan. Bila tidak ada yang dibaptis maka orang yang dibaptis diajak untuk mengingat kembali upacara pembaptisan yang telah mereka terima. Orang diajak untuk mengulangi lagi janji baptis yang pernah mereka ucapkan ketika menerima pembaptisan. Dengan baptis atau menerima Yesus kita menjadi manusia baru. “yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru” (Ef 4:22-24). Dengan baptis terjadi pembaharuan diri. St. Paulus dalam Ef 4:25-32 sangat jelas memaparkan apa yang harus kita lakukan sebagai manusia baru.

Bila Paskah menjadi titik tolak perubahan tubuh Yesus dari tubuh manusiawi, yang terikat ruang dan waktu, menjadi tubuh yang sempurna, maka kita pun hendaknya menjadikan Paskah sebagai titik tolak dari hidup lama menjadi hidup baru. Tubuh kita tetap sama terikat ruang dan waktu. Tapi ada kebaruan dalam tubuh kita yaitu perubahan sikap dan perkataan kita. Kita tidak lagi bersikap, bertindak atau berkata-kata seperti layaknya manusia lama, manusia yang belum mengenal penebusan atau manusia yang beluk mengikuti Yesus. Melainkan seluruh perkataan dan perbuatan kita didasari dan disemangati oleh ajaran Yesus. Dengan demikian Paskah bukan hanya sekedar peringatan liturgi yang melelahkan melainkan dapat kita maknai sebagai titik tolak perubahan diri.

Namun hal ini tidak mudah, sebab kita masih terikat dengan keinginan duniawi dan mudah jatuh dalam dosa. Kita masih hidup dalam kedagingan. Paulus mengingatkan agar kita memohon Roh Kudus, supaya Dia berkarya dalam hati diri kita. Rohlah yang mendorong dan menyemangati kita untuk senantiasa berusaha menjalankan apa yang dikehendaki oleh Allah. Bila kita terus memohon kehadiran Roh dalam hati maka hidup kita akan dikuasi oleh Roh. Kita tidak lagi mengikuti keinginan daging melainkan keinginan Roh yang akan membaharui diri. Maka pertanyaan bagi kita semua setelah Paskah berlalu adalah apakah kebaruan yang ada dalam diriku? Memang kita tidak mampu mengubah hidup secara total, kecuali ada anugerah khusus dari Tuhan. Tapi minimal kita bisa mengubah satu dua sifat kedagingan kita, sehingga hidup kita dari tahun ke tahun akan menjadi lebih baik lagi.

0 komentar:

Posting Komentar