Rabu, 19 Januari 2011

KENIKMATAN DAN KEMEWAHAN

Sepasang suami istri datang padaku menceritakan anaknya. Dengan sedih mereka bercerita bahwa anaknya sering kali enggan ke sekolah bila tidak diberi uang saku atau sepeda motor dipakai oleh ayahnya sehingga dia harus naik kendaraan umum. Mereka menceritakan bahwa situasi ekonomi mereka saat ini sedang sulit. Bila mereka mempunyai uang tentu akan memberi uang saku. Mereka tahu beratnya sekolah saat ini. Tapi saat ini mereka sedang mengalami krisis keuangan, sehingga harus mengatur pengeluaran sedemikian ketat agar penghasilannya cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Maka mereka meminta agar aku berusaha menasehati anaknya. Aku kenal dengan anak ini dan kurasa dia anak yang baik. Maka aku berjanji kepada mereka akan mengajak bicara anaknya.

Pada jaman ini memang sangat kuat ajaran tentang kenikmatan dan kemewahan. Kita setiap saat ditawari untuk meraih segala kenikmatan dan kemewahan. Entah berapa kali ada orang yang menawari kartu kredit, baik melalui telepon, ketika di rumah makan, ruang tunggu bandara dan sebagainya. Mereka mengatakan dengan kartu kredit kita bisa membeli barang dengan mudah atau bila kehabisan uang dapat mendapatkan uang dengan mudah. Mengurus untuk mendapatkan kartu kredit pun tidak sulit dan berbelit. Apalagi orang yang menawarkan sangat pandai membujuk, sehingga banyak orang tertarik akan kemudahan kartu kredit tanpa berpikir tentang resiko bunga akibat pemakaian kartu itu. Maka tidak jarang orang terbelit hutang akibat kartu kredit.

Kuatnya keinginan hidup mewah dan penuh kemudahan telah merasuk dalam diri sehingga menghilangkan semangat untuk berjuang. Anak pasangan suami istri itu marah bila pergi ke sekolah harus naik angkutan umum. Dia tidak ingin susah harus menunggu angkutan umum, duduk berdesakan dan sebagainya. Padahal masih banyak anak yang pergi ke sekolah harus jalan kaki beberapa kilometer. Masih banyak anak yang pergi ke sekolah tanpa makan pagi dan uang saku. Aku pun dulu pergi ke sekolah harus berjalan kaki dan jarang sekali mendapat uang saku. Saat itu aku sangat senang sebab dapat sekolah di sekolah yang cukup bagus. Memang tawaran kenikmatan dan kemewahan pada jaman itu masih belum sekuat saat ini, sehingga tidak ada godaan yang cukup kuat untuk menikmati segalanya.

Keinginan untuk merasakan kenikmatan dan kemewahan juga sudah masuk dalam kehidupan beragama. Banyak umat yang pindah ke gereja lain sebab disana ada AC, musik yang bagus, ruang yang nyaman dan sebagainya. Mereka ke gereja bukan hanya mencari Yesus melainkan Yesus yang ada dalam kemewahan dan kenikmatan. Maka gereja-gereja pun berlomba menawarkan aneka kenikmatan. Bahkan para pemimpin agama pun berlomba untuk mengejar kenikmatan dan kemewahan, sehingga melupakan perjuangan dan kesederhanaan. Ada pemimpin Gereja yang selalu minta dijemput pakai mobil bila hendak melayani umat. Ada yang menumpuk berbagai barang yang membuat hidupnya nyaman. Bahkan ada pula pemimpin Gereja yang menawari kenikmatan dan kemewahan kepada orang untuk menarik mereka menjadi anggotanya.

Kuatnya tawaran kenikmatan dan kemewahan itu menyebabkan orang kehilangan arah hidup. Korupsi disebabkan orang ingin mengejar kenikmatan tanpa harus bekerja keras. Kasus jual beli nilai di sekolah atau les pada guru yang dapat memberikan soal ulangan sebelum ulangan dilaksanakan. Kasus pemimpin Gereja yang lebih suka melayani umat yang dapat memberikan kenikmatan sehingga dia meninggalkan tempat tugasnya atau menjauh dari orang miskin dan masih banyak lagi contoh lainnya. Untuk itu perlu ditumbuhkan dalam diri kita semangat berjuang. Keberanian untuk mati raga yaitu mengendalikan diri agar tidak tergoda aneka tawaran yang menggiurkan. Keberanian hidup sederhana yaitu kita mensyukuri apa yang ada pada diri kita dan menggunakan secara maksimal. Segala kenikmatan dan kemewahan dapat menghilangkan tujuan hidup kita. Sekolah tujuannya belajar bukan untuk jajan. Menjadi pemimpin Gereja tujuannya untuk melayani umat bukan mengejar kenikmatan dan sebagainya.

2 komentar:

  1. mewah, jika tidak bahagia, adalah semu ....

    BalasHapus
  2. hidup ini sementara, singkat dan tiba-tiba bisa berakhir...adakah gunanya mengejar dan mnumpuk harta/kemewahn/kekayaan/jabtan/kedudukan etc etc? kecuali semuany itu dignakan u kebhgiaan n kemakmurn bnyk org terutm yg kurg beruntg alias berbagi dan tdk terikat krn smua yg ada milik Tuhan. Tuhan mampukan saya! Amin

    BalasHapus