Jumat, 21 Januari 2011

UNTUK APA KITA MENJADI KATOLIK?

Pada umumnya orang bila ditanya mengapa menjadi Katolik, maka jawabanya adalah biar selamat artinya masuk surga. Kecuali bila baptisan bayi, maka dia kadang tidak tahu mengapa menjadi Katolik. Oleh karena orang menjadi Katolik hanya ingin masuk surga, maka tidak jarang orang menunda untuk menjadi Katolik. Waktu muda selalu menolak untuk dibaptis dengan berbagai macam alasan, tapi setelah tua dan tidak berdaya bahkan pada saat mendekati ajal baru ingin dibaptis agar dapat masuk surga. Ada pula orang Katolik yang menenggelamkan diri mencari kesucian diri melalui doa-doa pribadi misalnya doa rosario sehari sampai beberapa kali atau selama berjam-jam duduk termenung di depan tabernakel atau mengikuti persekutuan doa dimana-mana, sebab dia yakin dengan melakukan semua itu maka dia akan masuk surga.

“Ia menetapkan dua belas orang untuk menyertai Dia dan untuk diutus-Nya memberitakan Injil diberi-Nya kuasa untuk mengusir setan.” (Mrk 3:14-15). Dari sini jelas bahwa kita dipilih oleh Yesus sebagai muridNya untuk dua tujuan. Pertama untuk menyertai Yesus. Kedua untuk memberitakan Injil. Yesus tidak menyinggung sama sekali bahwa mereka ditetapkan akan masuk surga, sebab yang berhak menentukan seseorang masuk surga adalah Bapa. “tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa Bapa-Ku telah menyediakannya." (Mat 20:23) Maka kurang tepat bila kita mengikuti Yesus hanya untuk mendapat tempat di surga.

Menjadi Katolik berarti kita menyertai Yesus. Berada dimana Yesus berada. “Cukuplah bagi seorang murid jika ia menjadi sama seperti gurunya dan bagi seorang hamba jika ia menjadi sama seperti tuannya.” (Mat 10:25). Sebagian besar hidup Yesus dihabiskan di tengah masyarakat untuk melayani mereka. Dalam Injil hanya diceritakan beberapa kali Yesus berada di Bait Allah untuk mengajar atau untuk berdoa seorang diri. Bila Yesus menghabiskan waktunya untuk melayani maka kita yang menyertai Dia juga menghabiskan waktu kita untuk sesama. Bukan untuk duduk termenung di depan tabernakel atau mendaraskan doa-doa pribadi. Doa dan adorasi penting bagi hidup kita menyadari belas kasih Allah yang sudah kita terima sepanjang hidup. Kesadaran ini merupakan dorongan bagi kita untuk lebih mengasihi sesama. Yesus bukan hanya dalam wujud hosti melainkan Dia ada di dalam saudara saudari kita yang miskin. Pertolongan bagi merekalah yang menentukan kita bisa masuk surga atau tidak.

Menjadi Katolik berarti kita diutus untuk mewartakan Injil atau kabar gembira. Banyak orang Katolik yang takut untuk menjadi pewarta Injil sebab mereka menyadari bahwa pengetahuan imannya sangat minim. Mereka sering merasa tidak tahu jawabannya ketika ada orang bertanya atau menyerang imannya. Hal ini disebabkan kita tidak mau belajar tentang iman kita. Bila kita masuk ke toko buku maka kita akan menemukan tumpukan buku iman Islam atau Protestan, sedangkan buku tentang iman Katolik hanya beberapa saja. Hal ini disebabkan kita enggan membaca buku tentang iman kita, sehingga penerbit enggan menerbitkan, sebab kemungkinan rugi cukup besar. Bagaimana kita akan mewartakan iman bila tidak memahami dan mendalaminya?

Pewartaan kabar gembira dapat pula diwujudkan dalam sikap, tindakan dan perkataan kita. Apa yang kita katakan dan lakukan membuat orang lain suka cita. Menciptakan damai. Menumbuhkan harapan bagi orang yang putus asa, sehingga kita mampu membangun dunia yang damai dan sejahtera. Orang lebih mudah menangkap pewartaan dari apa yang kita lakukan atau katakan daripada mendengarkan ajaran dogma-dogma. Tapi perkataan dan tindakan kita bersumber dan mewujudkan iman yang kita pahami. Inilah tugas perutusan kita. Allah akan memperhitungkan apa yang telah kita lakukan, sehingga kita dianggap layak atau tidak untuk masuk ke dalam surga. Yesus mengingatkan bahwa untuk masuk surga kita harus berjuang melalui pintu yang sempit. Ini tidak mudah, sebab menuntut kita untuk keluar dari diri dan hidup bagi sesama, terutama yang miskin dan menderita.

0 komentar:

Posting Komentar