Jumat, 26 November 2010

INDONESIAKU: IRONI HUKUM


Sebuah stasiun TV swasta dalam berita siang menayangkan seorang pencuri jemuran yang tertangkap warga sebuah kampung. Pencuri itu seorang lelaki kurus yang usianya mungkin sudah hampir 50 tahun bila melihat raut wajahnya dan rambutnya yang penuh uban. Dia tampak tidak berdaya ketika beberapa orang muda yang bertubuh segar melayangkan pukulan ke wajah dan tubuhnya. Tampak darah mengalir di wajahnya. Meski sudah diamankan oleh pihak polisi tapi warga tampaknya masih menyimpan marah sehingga satu dua orang tetap memukulinya. Aku yakin bila jemuran yang dicuri itu dijual mungkin hanya dapat beberapa ribu saja. Mungkin tidak cukup untuk makan dua hari. Dapat dipastikan bahwa orang tua itu mencuri sebab tidak punya uang untuk makan. Seandainya dia mempunyai beberapa ribu saja pasti tidak mau mengambil resiko mencuri milik warga yang bila tertangkap pasti akan babak belur.

Pencuri itu dibawa ke kantor polisi dan akan masuk ke sel tahanan. Dia mengalami dua kali hukuman. Pertama siksaan dari warga masyarakat lalu masuk penjara. Inilah ironi hukum di negara kita. Pencuri kecil biasanya nasibnya jauh lebih buruk daripada pencuri besar. Gayus yang korupsi 100 milyard lebih dapat bebas berkeliaran bahkan sampai rekreasi ke Bali untuk menonton pertandingan tenis. Oleh karena hukuman bagi para koruptor itu sangat ringan maka banyak sekali koruptor di negara kita ini. Menurut laporan ICW yang dirilis 4 Agustus 2010 kasus korupsi periode 2009-2010 meningkat tajam. Presiden SBY yang sering mengkampanyekan berantas korupsi ternyata pada periode kedua pemerintahannya kasus korupsi meningkat 50% dengan kerugian negara mencapai 2,102 trilyun. Suatu jumlah yang sangat besar dan tak terbayangkan oleh sebagian besar rakyat Indonesia.

Begitu ringannya hukuman bagi para koruptor maka setelah menjalani masa hukuman yang sering mendapat keringanan dia tetap kaya raya. Memang selama tahun 2009 pihak kepolisian dapat menyelamatkan uang negara sebanyak 426,3 milyard meski yang disetorkan ke negara baru 191,7 milyard sehingga masih ada sekitar 234,6 milyard yang belum berhasil diselamatkan. Sedangkan KPK menyelamatkan 4,4 trilyun. Membaca data jumlah uang yang dapat diselamatkan oleh aparat negara membuat banyak orang hanya mampu mengelus dada dan menarik nafas panjang. Entah berapa trilyun yang dapat diserahkan pada negara kembali untuk periode tahun 2010. Ide yang menarik muncul dari ketua MA bahwa sebaiknya para koruptor itu dimiskinkan. Semua harta bendanya dirampas dan uang di bank dijadikan milik negara. Jika demikian mungkin para koruptor akan menjadi jera.

Aku membayangkan lebih enak menjadi koruptor sebab hanya menerima satu hukuman yaitu penjara. Dia tidak pernah menerima hukuman dari masyarakat secara langsung seperti maling jemuran. Padahal koruptor besar biasanya bukan orang miskin. Dia mencuri bukan terpaksa tapi menjadi sebuah pilihannya secara bebas. Gayus gajinya sudah 12 juta per bulan. Usianya masih muda. Bila dia hidup dari gajinya saja sudah cukup baginya. Tapi dia memilih korupsi milyardan rupiah. Sebaliknya pencuri jemuran dia terpaksa mencuri sebab dia tidak mempunyai uang sama sekali untuk menyambung hidupnya. Jemuran yang dicuri pun tidak akan cukup untuk makan dua hari. Tapi dia mengalami penyiksaan dan hukuman di penjara. Inilah ironi hukum di Indonesia.

Negara kita menyatakan sebagai negara hukum. Ada banyak hukum dan peraturan yang dibuat oleh pemerintah. Tapi kejahatan terus terjadi seolah tidak ada hukum. Mungkin di negara kita ini hukumnya adalah tanpa hukum seperti yang dikatakan oleh penyelenggara pertandingan dalam film “Blood Sport” bahwa “the rule is no rule”. Siapa yang kuat bisa menguasai, membeli dan mengatur hukum. Bila melihat lambang hukum adalah seorang perempuan membawa timbangan dan pedang dengan mata tertutup bila di negara kita matanya terbuka, sehingga dapat melihat berapa jumlah uang yang berada dalam timbangan itu. Aku bayangkan seandainya para koruptor itu diadili seperti maling jemuran mungkin negara ini akan bebas dari korupsi.

INDONESIAKU: PETANI DIKALAHKAN


Beberapa waktu lalu aku bertemu dengan seorang petani di sebuah desa di pesisir pulau Jawa. Dia mengeluh akan cuaca yang tidak bersahabat pada tahun ini, sehingga mengakibatkan gagal panen. Memang tahun ini dapat dikatakan tidak ada musim kemarau. Hujan turun sepanjang tahun. Petani yang terbiasa menanam tembakau pada musim kemarau sekitar bulan Juni akhirnya gagal panen tembakau, sebab tembakau bila terkena air hujan akan rusak. Dia mau menanam padi tapi air hujan tidak cukup banyak untuk pengairan, sebab sawahnya masih menggunakan sistem tadah hujan. Dia mengandaikan bila pengairan sawahnya berjalan baik maka dia dapat menanam padi tanpa peduli apakah hujan akan turun sepanjang tahun atau tidak.


Petani itu mengeluh mengapa pemerintah kebupaten lebih mementingkan membangun stadion sepak bola daripada membangun dan memperbaiki pengairan untuk sawah, padahal di kabupaten ini masih banyak petani yang hidupnya bergantung pada sawah tadah hujan. Menurut dia anggaran untuk memperbaiki stadion membutuhkan dana 8 milyard. Seandainya dana itu untuk membuat saluran irigasi tentu jauh lebih berguna bagi banyak orang. Bila petani sudah dapat hidup makmur maka dia akan menonton sepak bola dengan membeli karcis. Kalau sekarang mereka tidak dapat menonton pertandingan sepak bola sebab tidak punya uang untuk membeli tiket masuk. Kalau toh anak mereka ingin menonton maka akan menggunakan segala cara untuk dapat masuk stadion. Beberapa hari lalu pun terjadi kerusuhan suporter sepak bola melawan polisi sebab mereka tidak punya uang untuk menonton pertandingan. Akibatnya mereka merusak mobil polisi dan melempari polisi dengan batu.

Menurut Gus Ipul, wakil gubernur Jawa Timur, beberapa kabupaten menganggarkan 15 milyard pada tahun 2009 untuk klub sepak bola kabupaten. Padahal sudah ada surat Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah dan Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah. Juga Surat Mendagri Nomor 903/187/SJ tentang larangan penggunaan dana APBD untuk klub sepak bola. (Tempo Interaktif 21 November 2010). Memang kita harus memajukan olah raga. Sepak bola adalah olah raga paling banyak peminatnya di Indonesia meski kesebelasan Indonesia masih belum mampu berprestasi dibandingkan negara Asia tenggara lainnya. Tapi harusnya ada skala prioritas mana yang lebih penting antara pendanaan sebuah klub dan pembangun stadion daripada perbaikan saluran irigasi untuk petani yang dapat meningkatkan kehidupan petani.

Negara Indonesia adalah negara pertanian tapi sayangnya pertanian kurang mendapat prioritas utama oleh pemerintah. Saluran irigasi banyak yang sudah harus diperbaiki dan dibuatkan baru. Harga pupuk sering kali sangat mahal sehingga ongkos produksi lebih tinggi dibandingkan hasil produksi. Kehidupan petani yang berat membuat banyak kaum muda lebih memilih menjadi buruh atau pekerja informal di kota besar daripada menjadi petani. Apalagi status petani dianggap sebagai status yang rendah. Ketika kaum muda meninggalkan desa maka yang tersisa di desa adalah kaum tua dan kaum muda yang terpaksa hidup di desa, sehingga tidak mampu mengelola tanah dengan maksimal untuk menghasilkan panen yang lebih baik. Sangat ironis ketika Indonesia yang membanggakan diri sebagai negara agraris harus import beras dari Vietnam. Bagaimana mungkin Vietnam yang sampai tahun 1972 masih tercabik-cabik perang suadara yang sangat mengerikan kini dapat ekspor beras ke Indonesia.

Nasib petani memang masih buruk. Padahal bila petani dapat hidup makmur maka dapat menarik semua sektor usaha untuk bisa berkembang. Penghasilan petani didapat dari bumi yang tidak membutuhkan modal awal seperti pabrik. Dia hanya membutuhkan modal kerja dan produksi. Hal ini berbeda dengan pabrik yang membutuhkan modal awal. Bila petani makmur maka dia dapat membeli barang yang dihasilkan pabrik atau menonton sepak bola. Tapi sayang petani yang bisa membuat negara ini makmur telah ditinggalkan, sehingga petani tetap miskin dan Indonesia juga tetap miskin.

Kamis, 25 November 2010

INDONESIAKU: MELUPAKAN SEJARAH

Suatu malam aku bersama anak-anak SMU dan mahasiswa makan mie di seberang kantor gubernur. Sambil duduk di rerumputan aku bertanya pada mereka apakah mereka mengenal patung setinggi dua meteran yang berdiri tegak di dekat situ. Sebagian dari mereka tahu bahwa itu patung gubernur Suryo, sebab nama itu sesuai dengan nama jalan yang membentang di hadapan kami. Tapi ketika kutanya siapakah gubernur Suryo itu? Tak satu anakpun yang dapat menerangkan dengan tepat. Mereka menjawab dengan asal-asalan saja. Padahal gubernur Suryo adalah gubernur Jawa Timur yang pertama setelah kemerdekaan dan dialah salah satu tokoh dalam pertempuran 10 November sehingga Surabaya dikenal sebagai kota Pahlawan.

Banyak anak muda tidak menyukai pelajaran sejarah. Bahkan ada pandangan bahwa pelajaran sejarah adalah pelajaran kelas dua sedang pelajaran kelas utama adalah matematika, fisika, kimia dan biologi. Ketika di SMA pun aku merasa bangga bahwa aku masuk di IPA sebab IPS dianggap tempat anak kurang pandai. Akibat terlalu bangga pada ilmu pasti maka ilmu sosial seperti sejarah, budaya atau sastra dan sebagainya seolah disepelekan. Maka tidak heran bila banyak kaum muda yang tidak mengenal sejarah bangsanya. Jangankan sejarah kerajaan Singosari, Mataram dan lain sebagainya sedangkan Budi Utomo saja mereka tidak tahu. Padahal dengan belajar sejarah kita dapat mengetahui perjalanan bangsa ini dan dapat menjadi bangga akan bangsa ini sebab memahami kebesaran para leluhur bangsa ini.

Maraknya budaya asing dan tokoh asing yang dibawa oleh media informasi seperti TV dan internet semakin menjauhkan anak muda pada sejarah bangsanya. Anak muda jauh lebih mengenal Rambo daripada Syahrir atau Airlangga. Anak lebik suka baca komik dari Jepang daripada membaca tentang dongen yang ada di tanah air. Orang lebih bangga mempelajari sejarah bangsa dan negara asing yang jauh daripada belajar sejarah bangsanya sendiri, sehingga beberapa kaum muda dengan sangat semangat berbicara soal sejarah bangsa Palestina tapi tidak tahu kerajaan Bone. Melupakan sejarah bagaikan pohon yang kehilangan akarnya. Aku bukan manusia yang tiba-tiba muncul pada saat ini, tapi aku saat ini adalah hasil proses dari sejarah leluhurku selama ribuan tahun. Aku disini bukan hanya fisik tapi pandangan tentang hidup, budaya dan sebagainya yang sangat mempengaruhi segala sikap dan peri lakuku saat ini.

Dengan mengenal sejarah maka kita mengenal asal usul terbentuknya bangsa dan mengetahui jatuh bangunnya bangsa ini. Mengetahui bagaimana para tokoh dulu berjuang untuk membangun sebuah negara dan merebut serta mempertahankan kemerdekaan yang sudah diraihnya. Belajar sejarah berarti belajar asal usul diri sendiri. Presiden Soekarno mengingatkan agar kita jangan melupakan sejarah atau jas merah. Dari sejarah itu kita bisa merefleksi dan belajar semangat para tokoh dan keteladanan yang dia lakukan. Misalnya keteladanan gubernur Suryo yang meninggalkan Surabaya paling akhir pada saat Surabaya digempur bala tentara Inggris. Dia ingin semua warga selamat terlebih dahulu baru dia menyelamatkan diri. Ini adalah keteladanan tanggung jawab yang besar terhadap rakyatnya. Pangeran Kornel dari Sumedang yang marah karena banyak rakyatnya mati dalam kerja paksa membangun jalan raya pos, maka ketika bertemu dengan Deandles dia bersalaman menggunakan tangan kiri sedang tangan kanan memegang keris yang terselip di pinggangnya.

Bagaimana dengan pemimpin kita saat ini? Banyaknya pemimpin yang korupsi, waktu rapat tidur, membagi jabatan dengan keluarga dan sebagainya membuat kita bertanya apakah mereka tidak pernah belajar dari para pendahulunya bagaimana memimpin rakyat? Seorang teman menyatakan malu mengaku sebagai orang Indonesia, sebab Indonesia dikenal sebagai negara paling korup, rawan kekerasan, dan sebagainya. Jika mereka belajar sejarah dan para tokohnya mungkin mereka akan malu dan rela berjuang membela rakyat. Mereka tidak mengulang kesalahan yang terjadi pada masa lalu dan tahu bagaimana seharusnya memimpin bangsa ini.

Selasa, 23 November 2010

INDONESIAKU: KRISIS NASIONALISME


Saat ini banyak orang membicarakan kasus Sumiati seorang perempuan berumur 23 tahun asal Dompu Nusa Tenggara Barat yang disiksa majikannya seorang warga Madinah, Arab Saudi. Penyiksaan itu begitu mengerikan dan sangat tidak pantas dilakukan oleh orang bermatabat bahkan lebih mengerikan dibandingkan dengan siksaan tawanan perang Irak di penjara Abu Ghraib yang sangat terkenal dan menjadi bahan kecaman banyak penduduk dunia. Ketua fraksi PKB Marwan Ja’afar menulis dalam pesan singkatnya, “aksi penyiksaan yang dilakukan majikan Sumiati adalah cermin perilaku jahiliyah warga Arab Saudi. Bahkan kaum kafir Quraish tidak pernah bertindak sekeji yang dilakukan terhadap Sumiati.” (Republika 17/11).

Sumiati bukanlah kasus pertama dan yang dibuka dalam forum publik. Ada banyak penyiksaan TKI di negara Kuwait, Arab, Malaysia dan negara lainnya yang sangat mengerikan. Kasus Siti Hajar di Malaysia yang wajahnya sampai rusak akibat siksaan, Siti Nur Janah yang disiksa dan digunduli di Arab, Ici binti Asmar yang disiksa di Suriah dan masih banyak lagi para TKW yang disiksa sehingga mengalami cacat fisik yang permanen. Belum lagi yang dihukum mati misalnya Yanti yang dihukum pancung di Arab pada 12 Januari 2008 dengan tuduhan membunuh atau para TKW yang hamil akibat diperkosa oleh majikan bahkan anak majikannya. Semua itu menggambarkan betapa kelam nasib TKI di negara asing.

Bila ada kasus semua lalu berbicara dan seolah akan menyelesaikan. Tapi kasus terus terjadi. Hal ini mungkin pemerintah tidak mengambil tindakan tegas terhadap negara yang bertanggungjawab. Dalam kasus Sumiati ini ada usulan untuk menarik duta besar Indonesia di Arab sebagai bentuk protes. Ada pula yang mengusulkan membawa pada mahkamah hukum internasional. Tapi rakyat masih harus menunggu apakah semua itu akan terwujud atau hanya sebuah letupan emosional sesaat saja. Dalam diskusi yang diadakan oleh sebuah stasiun TV swasta seorang tokoh dari PJTKI mengatakan bahwa kasus seperti yang dialami Sumiati hanya sebagian kecil saja dan jauh lebih banyak lagi orang yang dianggap berhasil memperbaiki ekonomi keluarganya. Hal ini menyiratkan bahwa kasus Sumiati adalah kasus kecil yang tidak perlu dipersoalkan. Toh pemerintah tidak mampu memberi lapangan pekerjaan dengan hasil yang cukup.

Aku melihat bahwa bangsa kita bermental inlander, sebuah mentalitas yang berhasil ditanamkan oleh bangsa Belanda ketika menjajah dulu. Mentalitas ini membuat kita tidak mempunyai kebanggaan diri. Kita minder bila berhadapan dengan bangsa lain. Tapi kita bisa bertindak keji terhadap bangsa sendiri. Ketika Malaysia mengumumkan beberapa budaya asli Indonesia sebagai budaya asli mereka, hal itu hanya ditanggapi dengan kemarahan di dalam negeri saja. Tidak ada usaha untuk memperjuangkan dalam tataran tingkat negara. Akibatnya Malaysia semakin arogan sehingga berani merebut pulau dan menahan petugas Indonesia yang berusaha menggagalkan pencurian ikan oleh pihak Malaysia di perairan Indonesia. Meski dihina seperti ini pemerintah tetap santun dan lemah lembut. Hal ini mungkin tidak akan terjadi pada jaman Soekarno yang mempunyai harga diri sehingga berani berhadapan dengan bangsa yang dianggap merendahkan martabat bangsa Indonesia.

Kasus Sumiati menunjukkan bahwa bangsa kita masih hidup dalam situasi dan kondisi yang memprihatinkan. Pemerintah gagal memberikan pendidikan kebangsaan, yang membuat kita bangga sebagai bangsa Indonesia. Kita adalah bangsa yang besar dari jumlah penduduk. Negara yang luas dan kaya. Tapi semua itu tidak ditanamkan sejak dini. Kita lebih bangga berbicara bahasa Inggris dari pada berbicara bahasa Indonesia. Nelson Mandela bangga memakai batik, tapi para pejabat kita lebih bangga memakai jas dan dasi atau pakaian dari budaya asing lainnya. Bangsa kita mengalami krisis kebangsaan yang menumbuhkan rasa bangga akan bangsa dan negara sehingga kita tetap menjadi bangsa terjajah yang dapat dihina oleh bangsa asing dengan sesuka hati. Kita mengalami krisis nasionalisme. Tidak bangga sebagai bangsa Indonesia.

Senin, 22 November 2010

INDONESIAKU: SIKAP "EMOH NEGARA"


Dalam buku karangan I Wibowo yang berjudul “Negara Centeng” dilukiskan tentang sikap “emoh negara” sebuah sikap masyarakat yang menentang negara atau tidak suka dengan segala sesuatu yang terkait dengan pemerintah. I Wibowo mencontohkan sikap ini dengan adanya perusakan fasilitas negara, maraknya tawuran, perlawanan terhadap aparat keamanan baik polisi maupun tentara, usaha untuk memisahkan diri dari negara kesatuan dan sebagainya. Sikap “emoh negara” disebabkan rakyat merasa ditindas dan bosan atau muak melihat para pejabat negara yang bertindak sewenang-wenang. DPR sebagai badan pembuat UU ternyata melanggar UU yang dibuatnya. Hakim dan jaksa yang harusnya menegakkan keadilan ternyata dapat dibeli sehingga dapat memutar balik hukum. Aparat kepolisian yang tugasnya menjaga ketentraman rakyat ternyata mudah disuap. Pejabat negara korupsi milyardan rupiah. TKI yang disiksa dinegara asing tidak ditanggapi serius. Masih banyak lagi sikap dan perilaku pejabat negara yang melukai hati rakyat sehingga muncul sikap “emoh negara”. Sikap “emoh negara” ini akan menjadi semakin kuat bila para pejabat tidak berusaha mengubah perilakunya.

Menunggu perubahan sikap pejabat negara menjadi seperti yang diharapkan rakyat banyak sama saja menunggu hujan di musim kemarau. Memang ada beberapa pejabat negara yang berusaha hidup jujur dan sungguh membaktikan dirinya bagi rakyat tapi dia seperti seorang nabi yang berteriak-teriak di padang gurun. Dia dianggap sebagai orang gila ditengah masyarakat yang menganggap dirinya waras bila melakukan kejahatan. Seorang teman yang menjadi pejabat dan berusaha terus konsisten dengan perjuangan rakyat yang dulu memilihnya akhirnya mengatakan menyerah. Dia masuk dalam sebuah sistem yang korup maka agar bertahan di posisinya dia pun akhirnya melakukan pengkhianatan hati nuraninya.

Negara kita menyatakan diri sebagai negara yang mendasarkan diri pada agama meski bukan negara teokrasi. Semua orang harus mempunyai agama dan mencantumkan dalam kartu indentitas dirinya. Tapi agama ternyata hanya sekedar ritus, gedung ibadah dan hari raya. Nilai-nilai ajaran agama hanya sekedar menjadi wacana yang diajarkan atau dikotbahkan dalam perayaan hari keagamaan sedangkan perwujudan dalam hidup sehari-hari masih terlalu jauh. Bila semua orang melakukan nilai-nilai ajaran agamanya maka pasti sikap “emoh negara” tidak akan pernah ada. Semua agama mengajarkan kejujuran, pembelaan kaum miskin, keadilan dan nilai bagus lainnya. Tapi semua nilai itu sulit dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Seorang yang ingin jujur dalam mengurus KTP ternyata dia harus menahan kejengkelan sebab urusan mudah menjadi berbelit-belit dan lama. Maka akhirnya dia memutuskan untuk membayar. Kejujuran yang ingin diwujudkan akhirnya terkalahkan oleh perilaku tidak jujur di sekitarnya.

Gus Dur pernah dalam sebuah kesempatan mengatakan bahwa bangsa kita memang bangsa yang percaya pada Allah tapi bukan bangsa beriman. Beriman berarti bila dia mampu mewujudkan kepercayaannya kepada Allah dalam sikap hidup dan perilaku sehari-hari. Maka bangsa ini perlu pertobatan. Bertobat bukan hanya sekedar menjalankan perintah agamanya tapi mengubah hati atau memurnikan hati sehingga suara hati nurani yang mengajarkan kebenaran dapat terdengar jelas dalam dirinya. Pertobatan berarti mengubah hidup seturut kehendak Allah, sehingga dapat memberi buah-buah pertobatan yang dapat dirasakan oleh orang lain.

Pertobatan membutuhkan pengorbanan diri. Menjunjung kejujuran atau kebenaran bukan suatu yang mudah ditengah para koruptor. Misalnya bila kena tilang maka tidak perlu membayar polisi di tepi jalan tapi berkurban untuk mengikuti sidang meski harus membuang waktu dan tenaga. Kita berani menyerukan dan berjuang mempertahankan keadilan bila ada keadilan yang ditindas dan sebagainya. Mungkin apa yang kita lakukan tidak akan mengubah para pejabat saat ini, tapi pertobatan itu menjadi benih yang akan berbuah dikemudian hari, sehingga sikap “emoh negara” tidak lagi dilakukan oleh anak-anak kita atau generasi mendatang.

Minggu, 21 November 2010

YESUS RAJA SEMESTA ALAM


Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam bacaan misa diambil dari peristiwa penyaliban. Suatu yang sangat kontras. Mengapa Yesus disebut sebagai raja? Padahal para prajurit mengolokNya sebagai raja “Juga prajurit-prajurit mengolok-olokkan Dia; mereka mengunjukkan anggur asam kepada-Nya dan berkata: "Jika Engkau adalah raja orang Yahudi, selamatkanlah diri-Mu!” (Luk 23:36-37). Pilatus menempelkan tulisan INRI atau Iesus Nazarenus, Rex Iudaeorum atau dalam bahasa Yunani Iesous ho Nazoraios ho Basileus ton Ioudaion, di atas kayu salib tampaknya juga bukan sebagai pengakuannya kepada Yesus sebagai raja. Pengakuan yang tulus hanya datang dari seorang penjahat yang turut disalibkan. Apakah pengakuan penjahat itu menjadi dasar pilihan bacaan dalam misa? Bukankah lebih baik diambil dari Yohanes 6 dimana orang-orang ingin mengangkatNya menjadi raja setelah mereka melihat mujijat yang dilakukanNya?

Di salib Yesus kehilangan kuasaNya sama sekali. Dia yang mampu melakukan hal hebat ternyata disalib Dia jadi tidak berdaya padahal orang sangat mengharapkan Dia mampu melakukan sesuatu yang dapat menjadi bukti kemesiasanNya. Seandainya saat itu Dia mau turun dari salib atau melakukan hal hebat tentu Dia akan langsung diangkat sebagai Mesias yaitu raja yang mengembalikan kekuasaan Daud bapa leluhur mereka. Beberapa ahli tafsir berpendapat bahwa Yudas adalah salah satu dari orang Yahudi yang ingin memaksa Yesus untuk menunjukkan bahwa Dia adalah Mesias atau bukan. Bangsa Yahudi percaya bahwa mesias akan muncul pada saat Paskah Yahudi di Yerusalem. Maka kehadiran Yesus di Yerusalem disambut dengan gegap gempita oleh rakyat sebab dianggap sebagai awal dari penegasanNya sebagai mesias. Yudas ingin mempercepat hal itu dengan membenturkan Yesus dengan kekuasaan. Maka ketika Yesus diperlakukan dengan keji dan diam saja, Yudas menjadi kecewa dan merasa bersalah sehingga dia gantung diri. Tapi para prajurit dan banyak orang masih ingin membuktikan kemesiasan sampai Yesus disalibkan. Mereka sengaja mengolok agar Yesus membuktikan kemesiasanNya.

Hakekat ke-raja-an Yesus, bukan kerajaan dalam arti teritori, ternyata tampak dalam kelemahanNya. Bukan dari apa kata prajurit yang mengolok atau tulisan INRI. Di salib kekuasaan Yesus tidak habis. Dia masih mempunyai kuasa surgawi sehingga Dia mengatakan pada penjahat di sisinya, "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.” Ini bukan janji kosong tapi sabda yang penuh kuasa bahwa Yesus berhak menentukan orang untuk masuk surga atau tidak. Dia menunjukkan kekuasaanNya atas surga. Lalu bagaimana dengan kekuasaanNya di bumi? Apakah masih tampak kekuasaanNya pada saat Dia sampai pada titik terendah kelemahan manusiaNya. Sejak awal Yesus mengatakan bahwa kekuasaan yang dimilikiNya berbeda dengan kekuasaan raja duniawi. Raja duniawi berkuasa dengan tangan besi sedangkan Dia adalah raja yang lemah lembut.

Kekuasan di bumi yang dimiliki Yesus bukan untuk menguasai manusia seperti para penguasa duniawi. Kekuasaan Yesus adalah untuk menjadikan manusia kembali memiliki martabatnya yang rusak oleh dosa atau telah dirusak oleh sesamanya dengan berbagai cara pemiskinan. Kekuasaan Yesus adalah kekuasaan membebaskan bukan menindas. Penindasan yang paling mengerikan bagi manusia bukan dari luar dirinya tapi berasal dari dalam diri manusia yaitu dalam bentuk dosa yang mengeram dalam hati. Dosa menekan manusia sehingga membuat hidupnya menjadi tidak bahagia. Manusia dapat menekan rasa berdosa dalam hatinya yang paling dalam, tapi bayangan dosa itu akan terus menghantuinya dimana saja dan kapan saja. Hal ini membuatnya menderita. Penderitaan ini dapat diwujudkan dalam sikap hidup yang juga membuat orang lain menderita. Semakin orang menumpuk dosa, semakin mudah dia bersikap yang sangat meresahkan masyarakat. Maka bila ingin membangun masyarakat yang bahagia satu-satunya jalan adalah dengan pembebasan manusia dari dosa. Salib adalah kurban untuk membebaskan dosa manusia di dunia. Dengan demikian di salib Yesus memiliki kuasa surgawi dan duniawi. Dia memang raja semesta alam

Selasa, 16 November 2010

DAUD DAN BATSYEBA: CERMIN


Kematian Uria membuat Daud merasa aman, sehingga dia dapat mengambil Batsyeba sebagai istrinya tanpa ada orang yang mengusiknya lagi. Ternyata sekali lagi apa yang diperhitungkannya salah. Masih ada nabi Natan yang mengetahui semua masalah itu. Mungkin selama ini nabi Natan diam saja melihat segala tingkah polah Daud yang melanggar keadilan, sebab dia adalah raja. Tapi setelah kematian Uria maka nabi Natan tidak bisa tinggal diam. Dia menunjukkan dirinya sebagai nabi yaitu orang yang membawa suara Allah demi kebaikan manusia. Nabi Natan seorang yang cerdik. Dia tidak langsung menegur Daud sebab teguran dapat membuat Daud membangun benteng pertahanan diri dan mencari-cari pembelaan diri serta kambing hitam lagi.

Nabi Natan bercerita mengenai orang yang memiliki domba. Daud yang mempunyai latar belakang gembala sangat memahami perasaan yang tumbuh antara gembala dan domba peliharaannya. Maka mendengar cerita nabi Natan itu Daud langsung bereaksi dengan sangat keras. “Lalu Daud menjadi sangat marah karena orang itu dan ia berkata kepada Natan: "Demi TUHAN yang hidup: orang yang melakukan itu harus dihukum mati. Dan anak domba betina itu harus dibayar gantinya empat kali lipat, karena ia telah melakukan hal itu dan oleh karena ia tidak kenal belas kasihan." (2 Sam 12:5-6). Mendengar ini langsung nabi Natan menunjukkan bahwa orang yang dimaksud itu adalah dirinya sendiri. Dapat dibayangkan betapa terkejutnya Daud saat itu. Inilah kehebatan nabi Natan. Dia menghormati Daud sebagai raja dan tidak ingin membuka aibnya. Bila dia mengungkapkan dosa Daud di muka umum, maka akan timbul gejolak dalam kerajaan Israel. Maka dia bercerita yang menyentuh sisi hidup Daud sebagai gembala, sehingga Daud bereaksi dan memutuskan hukuman bagi dirinya sendiri.

Manusia berusaha menyimpan dosanya serapat mungkin dalam hatinya yang terdalam. Tapi bayangan dosa itu menghantuinya sehingga membuatnya gelisah, marah dan malu pada diri sendiri. Kemarahan akan kelemahan diri ini tampak dari reaksi yang cepat dan keras bila melihat orang lain melakukan dosa yang sama. Yesus tidak menyembunyikan dosa, sehingga Dia tidak bereaksi cepat dan keras terhadap para pendosa yang datang padaNya. Pengadilan yang mengerikan adalah pengadilan yang dilakukan kaum pendosa yang tidak mau mengakui dosanya. Mereka mengungkapkan kebencian pada diri kepada orang lain yang dianggap mengingatkan akan dosanya. Seorang teman yang suka mencuri dengan memanfaatkan jabatan dan status yang disandangnya menjadi orang yang kejam bila menghakimi pencuri yang tertangkap. Sebetulnya dia malu pada dirinya dan ingin mengadili dirinya sendiri.

Baru-baru ini banyak dibicarakan kasus salaman antara antara Tifatul Sembiring dengan Michelle Obama. Tifatul terkenal sebagai orang yang tidak mau bersalaman dengan perempuan yang bukan mukhrimnya. Ketika tertangkap kamera dia bersalaman dengan Michelle Obama maka beberapa orang mempertanyakan hal itu. Reaksi yang terjadi adalah Tifatul berusaha melakukan pembelaan diri dan mencari kambing hitam yang memperkeruh masalah, sebab yang dijadikan kambing hitam adalah seorang ibu negara adikuasa. Seandainya dia mau mengakui kesalahannya dan tidak mencari kambing hitam serta pembelaan diri maka masalah tidak akan melebar sampai dibahas oleh media asing. Maka pentingnya sikap berani untuk bertanggungjawab dan mengakui kelemahan diri dan tidak berusaha mencari kesalahan orang lain.

Orang yang mudah sekali menyalahkan orang lain adalah orang yang tidak berani bercermin. Dengan bercermin maka orang akan mampu melihat dirinya sendiri apa adanya. Hal ini pun tidak akan menyelesaikan masalah bila dia tidak mau menerima diri dan segala kelemahan yang ada pada dirinya. Banyak orang yang mudah menyalahkan sesama sebab dia ingin lari dari beban kelemahan yang ada pada dirinya. Dengan menunjukkan kesalahan orang lain dia berharap bahwa pandangan orang akan tertuju pada orang lain bukan pada dirinya. Daud setelah bercermin dia bertobat dan mengakui kesalahannya. Dia menyadari segala kesalahannya dan mohon ampun pada Allah.

Powered By Blogger