Senin, 22 November 2010

INDONESIAKU: SIKAP "EMOH NEGARA"


Dalam buku karangan I Wibowo yang berjudul “Negara Centeng” dilukiskan tentang sikap “emoh negara” sebuah sikap masyarakat yang menentang negara atau tidak suka dengan segala sesuatu yang terkait dengan pemerintah. I Wibowo mencontohkan sikap ini dengan adanya perusakan fasilitas negara, maraknya tawuran, perlawanan terhadap aparat keamanan baik polisi maupun tentara, usaha untuk memisahkan diri dari negara kesatuan dan sebagainya. Sikap “emoh negara” disebabkan rakyat merasa ditindas dan bosan atau muak melihat para pejabat negara yang bertindak sewenang-wenang. DPR sebagai badan pembuat UU ternyata melanggar UU yang dibuatnya. Hakim dan jaksa yang harusnya menegakkan keadilan ternyata dapat dibeli sehingga dapat memutar balik hukum. Aparat kepolisian yang tugasnya menjaga ketentraman rakyat ternyata mudah disuap. Pejabat negara korupsi milyardan rupiah. TKI yang disiksa dinegara asing tidak ditanggapi serius. Masih banyak lagi sikap dan perilaku pejabat negara yang melukai hati rakyat sehingga muncul sikap “emoh negara”. Sikap “emoh negara” ini akan menjadi semakin kuat bila para pejabat tidak berusaha mengubah perilakunya.

Menunggu perubahan sikap pejabat negara menjadi seperti yang diharapkan rakyat banyak sama saja menunggu hujan di musim kemarau. Memang ada beberapa pejabat negara yang berusaha hidup jujur dan sungguh membaktikan dirinya bagi rakyat tapi dia seperti seorang nabi yang berteriak-teriak di padang gurun. Dia dianggap sebagai orang gila ditengah masyarakat yang menganggap dirinya waras bila melakukan kejahatan. Seorang teman yang menjadi pejabat dan berusaha terus konsisten dengan perjuangan rakyat yang dulu memilihnya akhirnya mengatakan menyerah. Dia masuk dalam sebuah sistem yang korup maka agar bertahan di posisinya dia pun akhirnya melakukan pengkhianatan hati nuraninya.

Negara kita menyatakan diri sebagai negara yang mendasarkan diri pada agama meski bukan negara teokrasi. Semua orang harus mempunyai agama dan mencantumkan dalam kartu indentitas dirinya. Tapi agama ternyata hanya sekedar ritus, gedung ibadah dan hari raya. Nilai-nilai ajaran agama hanya sekedar menjadi wacana yang diajarkan atau dikotbahkan dalam perayaan hari keagamaan sedangkan perwujudan dalam hidup sehari-hari masih terlalu jauh. Bila semua orang melakukan nilai-nilai ajaran agamanya maka pasti sikap “emoh negara” tidak akan pernah ada. Semua agama mengajarkan kejujuran, pembelaan kaum miskin, keadilan dan nilai bagus lainnya. Tapi semua nilai itu sulit dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Seorang yang ingin jujur dalam mengurus KTP ternyata dia harus menahan kejengkelan sebab urusan mudah menjadi berbelit-belit dan lama. Maka akhirnya dia memutuskan untuk membayar. Kejujuran yang ingin diwujudkan akhirnya terkalahkan oleh perilaku tidak jujur di sekitarnya.

Gus Dur pernah dalam sebuah kesempatan mengatakan bahwa bangsa kita memang bangsa yang percaya pada Allah tapi bukan bangsa beriman. Beriman berarti bila dia mampu mewujudkan kepercayaannya kepada Allah dalam sikap hidup dan perilaku sehari-hari. Maka bangsa ini perlu pertobatan. Bertobat bukan hanya sekedar menjalankan perintah agamanya tapi mengubah hati atau memurnikan hati sehingga suara hati nurani yang mengajarkan kebenaran dapat terdengar jelas dalam dirinya. Pertobatan berarti mengubah hidup seturut kehendak Allah, sehingga dapat memberi buah-buah pertobatan yang dapat dirasakan oleh orang lain.

Pertobatan membutuhkan pengorbanan diri. Menjunjung kejujuran atau kebenaran bukan suatu yang mudah ditengah para koruptor. Misalnya bila kena tilang maka tidak perlu membayar polisi di tepi jalan tapi berkurban untuk mengikuti sidang meski harus membuang waktu dan tenaga. Kita berani menyerukan dan berjuang mempertahankan keadilan bila ada keadilan yang ditindas dan sebagainya. Mungkin apa yang kita lakukan tidak akan mengubah para pejabat saat ini, tapi pertobatan itu menjadi benih yang akan berbuah dikemudian hari, sehingga sikap “emoh negara” tidak lagi dilakukan oleh anak-anak kita atau generasi mendatang.

0 komentar:

Posting Komentar