Jumat, 05 November 2010

YESUS, YOHANES DAN MURID PERTAMA: ANAK DOMBA YANG MENDERITA


Sebutan Anak Domba dapat dikaitkan dengan gambaran tentang hamba Yahwe dalam Yesaya. Dalam Yesaya 53 menggambarkan orang pilihan Allah yang akan menjalani sengsara dan menanggung dosa manusia. “Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah.” (4) dan “karena ia telah menyerahkan nyawanya ke dalam maut dan karena ia terhitung di antara pemberontak-pemberontak, sekalipun ia menanggung dosa banyak orang dan berdoa untuk pemberontak-pemberontak.” (12). Gambaran tentang hamba Yahwe atau orang yang dipilih Allah sama dengan gambaran Yesus yang mengalami penderitaan demi menanggung dosa manusia.

Penderitaan yang dialami oleh Yesus dapat dianggap sebagai hukuman Allah. Masih banyak orang yang memiliki konsep bahwa penderitaan merupakan hukuman Allah. Dalam kisah Ayub, Bildad salah satu temannya meminta agar Ayub mengakui dosanya, sebab tidak mungkin Allah menghukum orang yang tidak bersalah. “kalau engkau bersih dan jujur, maka tentu Ia akan bangkit demi engkau dan Ia akan memulihkan rumah yang adalah hakmu.” (Ayb 8:6). Konsep kaitan antara penderitaan dan dosa terus dipegang oleh banyak orang sampai saat ini. Maka ketika ada bencana alam orang lalu mengkaitkan dengan dosa penduduk setempat atau ada anak cacat maka dikaitkan dengan karma atau kutukan dari Allah dan sebagainya.

Penderitaan yang dialami Yesus bukan karena kutukan Allah atau dosa. Dia menjalani penderitaan dengan tujuan keselamatan manusia. Ini adalah sebuah pilihan bebas yang diputuskan ketika Dia berdoa di taman Getsmani. Dia dapat menghindari penderitaan itu, tapi Dia sadar bahwa semua itu adalah kehendak Allah. Dia berusaha menjalankan kehendak Allah sampai tuntas. Maka penderitaan Yesus adalah sebuah kurban yang dijalani dengan sepenuh hati dan dalam diam.

Sikap pengurbanan diri sudah semakin hilang dalam masyarakat kita. Dua hari lalu yahoo Indonesia menulis bahwa kemacetan di Jakarta disebabkan semua orang ingin menjadi raja dan dianggap sebagai raja yang harus didahulukan dan mendapat fasilitas. Akibatnya jalanan jadi macet sebab semua orang hanya berpikir tentang dirinya dan ingin dinomorsatukan. Tidak ada yang mau mengalah. Bila memberi jalan pada sesama saja sudah merasa berat bagaimana hendak memberikan nyawanya? Berkurban berarti orang tidak lagi memusatkan segala sesuatu demi kepentingannya, haknya, dan lain sebagainya yang berpusat pada diri sendiri melainkan mulai berpikir tentang orang lain. Apa yang ingin kita peroleh kita berikan pada orang lain. Bila kita ingin dapat sampai tujuan dengan cepat begitu pula orang lain. Maka beranikah kita melepaskan keinginan kita demi orang lain?

Menderita demi kebahagiaan orang lain memang berat. Kita semua ingin bahagia maka pilihan untuk menderita sering kita hindari. Bahkan yang terjadi sering kali orang demi kebahagiaan dirinya tega membuat orang lain menderita. Seorang tokoh demi merebut sebuah jabatan dia tega menebar fitnah tentang rekannya sehingga rekannya dibuang dari kedudukannya dan dia dapat menduduki jabatan yang ditinggalkan rekannya itu. Bahkan seorang anak tega menyita kekayaan orang tuanya demi menumpuk kekayaan bagi diri sendiri. Masih banyak lagi kasus dimana orang tega membuat orang lain menderita demi kebahagiaan diri sendiri. Yesus mengajarkan sebaliknya. Kita harus berani menderita demi kebahagiaan orang lain.

Memang ada orang yang tampak berkurban tapi dibalik itu ada maksud tersembunyi. Pengurbanan yang sejati tidak mempunyai maksud lain selain kebahagiaan orang lain. Bila kurban tetap terarah pada kepentingan diri sendiri, maka itu hanya sebuah tindakan manipulasi dan penipuan. Orang yang sedang jatuh cinta berani berkurban untuk pacarnya. Ini sebetulnya bukan kurban. Pengurbanan sejati adalah untuk orang yang lain bahkan musuh-musuh seperti yang dikatakan oleh Yesaya tentang hamba Yahwe.

0 komentar:

Posting Komentar