Selasa, 16 November 2010

DAUD DAN BATSYEBA: CERMIN


Kematian Uria membuat Daud merasa aman, sehingga dia dapat mengambil Batsyeba sebagai istrinya tanpa ada orang yang mengusiknya lagi. Ternyata sekali lagi apa yang diperhitungkannya salah. Masih ada nabi Natan yang mengetahui semua masalah itu. Mungkin selama ini nabi Natan diam saja melihat segala tingkah polah Daud yang melanggar keadilan, sebab dia adalah raja. Tapi setelah kematian Uria maka nabi Natan tidak bisa tinggal diam. Dia menunjukkan dirinya sebagai nabi yaitu orang yang membawa suara Allah demi kebaikan manusia. Nabi Natan seorang yang cerdik. Dia tidak langsung menegur Daud sebab teguran dapat membuat Daud membangun benteng pertahanan diri dan mencari-cari pembelaan diri serta kambing hitam lagi.

Nabi Natan bercerita mengenai orang yang memiliki domba. Daud yang mempunyai latar belakang gembala sangat memahami perasaan yang tumbuh antara gembala dan domba peliharaannya. Maka mendengar cerita nabi Natan itu Daud langsung bereaksi dengan sangat keras. “Lalu Daud menjadi sangat marah karena orang itu dan ia berkata kepada Natan: "Demi TUHAN yang hidup: orang yang melakukan itu harus dihukum mati. Dan anak domba betina itu harus dibayar gantinya empat kali lipat, karena ia telah melakukan hal itu dan oleh karena ia tidak kenal belas kasihan." (2 Sam 12:5-6). Mendengar ini langsung nabi Natan menunjukkan bahwa orang yang dimaksud itu adalah dirinya sendiri. Dapat dibayangkan betapa terkejutnya Daud saat itu. Inilah kehebatan nabi Natan. Dia menghormati Daud sebagai raja dan tidak ingin membuka aibnya. Bila dia mengungkapkan dosa Daud di muka umum, maka akan timbul gejolak dalam kerajaan Israel. Maka dia bercerita yang menyentuh sisi hidup Daud sebagai gembala, sehingga Daud bereaksi dan memutuskan hukuman bagi dirinya sendiri.

Manusia berusaha menyimpan dosanya serapat mungkin dalam hatinya yang terdalam. Tapi bayangan dosa itu menghantuinya sehingga membuatnya gelisah, marah dan malu pada diri sendiri. Kemarahan akan kelemahan diri ini tampak dari reaksi yang cepat dan keras bila melihat orang lain melakukan dosa yang sama. Yesus tidak menyembunyikan dosa, sehingga Dia tidak bereaksi cepat dan keras terhadap para pendosa yang datang padaNya. Pengadilan yang mengerikan adalah pengadilan yang dilakukan kaum pendosa yang tidak mau mengakui dosanya. Mereka mengungkapkan kebencian pada diri kepada orang lain yang dianggap mengingatkan akan dosanya. Seorang teman yang suka mencuri dengan memanfaatkan jabatan dan status yang disandangnya menjadi orang yang kejam bila menghakimi pencuri yang tertangkap. Sebetulnya dia malu pada dirinya dan ingin mengadili dirinya sendiri.

Baru-baru ini banyak dibicarakan kasus salaman antara antara Tifatul Sembiring dengan Michelle Obama. Tifatul terkenal sebagai orang yang tidak mau bersalaman dengan perempuan yang bukan mukhrimnya. Ketika tertangkap kamera dia bersalaman dengan Michelle Obama maka beberapa orang mempertanyakan hal itu. Reaksi yang terjadi adalah Tifatul berusaha melakukan pembelaan diri dan mencari kambing hitam yang memperkeruh masalah, sebab yang dijadikan kambing hitam adalah seorang ibu negara adikuasa. Seandainya dia mau mengakui kesalahannya dan tidak mencari kambing hitam serta pembelaan diri maka masalah tidak akan melebar sampai dibahas oleh media asing. Maka pentingnya sikap berani untuk bertanggungjawab dan mengakui kelemahan diri dan tidak berusaha mencari kesalahan orang lain.

Orang yang mudah sekali menyalahkan orang lain adalah orang yang tidak berani bercermin. Dengan bercermin maka orang akan mampu melihat dirinya sendiri apa adanya. Hal ini pun tidak akan menyelesaikan masalah bila dia tidak mau menerima diri dan segala kelemahan yang ada pada dirinya. Banyak orang yang mudah menyalahkan sesama sebab dia ingin lari dari beban kelemahan yang ada pada dirinya. Dengan menunjukkan kesalahan orang lain dia berharap bahwa pandangan orang akan tertuju pada orang lain bukan pada dirinya. Daud setelah bercermin dia bertobat dan mengakui kesalahannya. Dia menyadari segala kesalahannya dan mohon ampun pada Allah.

0 komentar:

Posting Komentar