Kamis, 11 November 2010

YESUS, YOHANES DAN MURID PERTAMA: DIMANAKAH ENGKAU TINGGAL

Pertanyaan Yesus kepada dua murid Yohanes apakah yang engkau cari dijawab dengan pertanyaan baru, “Rabi dimanakah Engkau tinggal?” Apa yang dikatakan oleh kedua murid itu tampaknya tidak wajar. Mereka ditanya tapi malah balik bertanya yang tidak terkait dengan pertanyaan pertama. Tapi dalam Injil Yohanes memang beberapa kali ada “kesalah fahaman” antara apa yang dikatakan Yesus dengan tanggapan dari orang yang mendengarnya. Mungkin dua murid ini bukan orang yang suka basa basi, tapi hendak menunjukkan apa yang mereka inginkan. Mereka mengikuti Yesus hendak tinggal bersama Yesus. Dengan hidup bersama maka Yesus akan memahami apa yang dicari oleh mereka dan mereka pun dapat memahami Yesus yang diikutinya.

Saat ini banyak sekali orang membangun gereja yang dianggap sebagai rumah Yesus. Dalam gereja Katolik diletakkan Yesus yang berupa hosti di tabernakel. Bahkan saat ini ada trend untuk membangun ruangan khusus untuk ruang doa dimana orang berdoa dan bermeditasi selama beberapa waktu dihadapan tabernakel atau biasanya disebut adorasi. Beberapa orang pun mengusulkan padaku agar membangun ruang khusus untuk adorasi. Tapi permintaan itu selalu kutolak sebab selain tidak ada tempat lagi untuk membangun sebuah ruangan khusus, juga bagiku sudah ada gereja mengapa harus ada ruangan khusus lagi untuk berdoa? Bukankah mereka dapat saja berdoa dan bermeditasi di dalam gereja? Tapi mereka menganggap bahwa gereja berbeda dengan ruang adorasi, sebab ruang adorasi tidak diberi bangku dan tertutup rapat agar tidak bising oleh suara yang ada diluar ruang, sehingga mereka dapat hening. Bagiku keheningan bukan berasal dari luar tapi dari dalam diri sendiri.

Kedua murid ingin tinggal bersama Yesus bukan hendak hening melainkan hendak mengenal Yesus secara lebih pribadi. Maka setelah tinggal bersama Yesus mereka pergi dan mengatakan kepada orang lain bahwa mereka menemukan Mesias. “Andreas mula-mula bertemu dengan Simon, saudaranya, dan ia berkata kepadanya: "Kami telah menemukan Mesias (artinya: Kristus)." (Yoh 1:41) Perkataan Andreas inilah jawabab atas pertanyaan Yesus. Mereka mencari Mesias. Penemuan Mesias terjadi setelah mereka tinggal bersama Yesus. Maka adorasi adalah saat kita berusaha menemukan Yesus secara pribadi. Bukan sekedar duduk bersila dalam diam di ruang ber AC dan tanpa suara. Pemahaman Yesus secara pribadi mengubah seseorang dan membuat mereka menjadi pewarta seperti Andreas yang menjadi pewarta bagi Simon.

“Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam da.” (Yoh 6:56). Bagi orang Katolik Yesus tidak tinggal di luar diri tapi di dalam diri kita, Setiap kita merayakan ekaristi dan menerima tubuh Kristus maka Yesus tinggal dalam diri kita dan kita tinggal dalam diri Yesus. Maka sebetulnya kita tidak perlu susah membangun ruang untuk bisa tinggal bersama Yesus sebab Dia sudah tinggal dalam diri kita. Tapi sering kali hal ini tidak disadari sehingga kita berusaha mencari Yesus di luar diri kita. Hal yang dibutuhkan adalah hening agar dapat mendengarkan sabdaNya, sehingga kita semakin mengenal dan memahamiNya sebagai Mesias. Tapi banyak orang sangat kesulitan untuk hening. Hening bukan sekedar tidak berbicara atau tidak ada suara. Tapi hening adalah sikap batin yang siap mendengarkan. Hal yang sering terjadi dalam hening di hadapan Yesus kita sibuk dengan segala masalah hidup. Saat hening menjadi saat untuk mengungkapkan segala gejolak hati. Akibatnya dalam diri kita menjadi ribut oleh segala pemikiran yang simpang siur atau khayalan-khayalan yang meloncat-loncat. Dalam hening semua pikiran kita tertuju pada Yesus seperti seorang hamba yang menanti tuannya berbicara. Kita berusaha mendengarkan Sabda Yesus sehingga kita sungguh menyakini bahwa Dia adalah Mesias.

0 komentar:

Posting Komentar