Kamis, 25 November 2010

INDONESIAKU: MELUPAKAN SEJARAH

Suatu malam aku bersama anak-anak SMU dan mahasiswa makan mie di seberang kantor gubernur. Sambil duduk di rerumputan aku bertanya pada mereka apakah mereka mengenal patung setinggi dua meteran yang berdiri tegak di dekat situ. Sebagian dari mereka tahu bahwa itu patung gubernur Suryo, sebab nama itu sesuai dengan nama jalan yang membentang di hadapan kami. Tapi ketika kutanya siapakah gubernur Suryo itu? Tak satu anakpun yang dapat menerangkan dengan tepat. Mereka menjawab dengan asal-asalan saja. Padahal gubernur Suryo adalah gubernur Jawa Timur yang pertama setelah kemerdekaan dan dialah salah satu tokoh dalam pertempuran 10 November sehingga Surabaya dikenal sebagai kota Pahlawan.

Banyak anak muda tidak menyukai pelajaran sejarah. Bahkan ada pandangan bahwa pelajaran sejarah adalah pelajaran kelas dua sedang pelajaran kelas utama adalah matematika, fisika, kimia dan biologi. Ketika di SMA pun aku merasa bangga bahwa aku masuk di IPA sebab IPS dianggap tempat anak kurang pandai. Akibat terlalu bangga pada ilmu pasti maka ilmu sosial seperti sejarah, budaya atau sastra dan sebagainya seolah disepelekan. Maka tidak heran bila banyak kaum muda yang tidak mengenal sejarah bangsanya. Jangankan sejarah kerajaan Singosari, Mataram dan lain sebagainya sedangkan Budi Utomo saja mereka tidak tahu. Padahal dengan belajar sejarah kita dapat mengetahui perjalanan bangsa ini dan dapat menjadi bangga akan bangsa ini sebab memahami kebesaran para leluhur bangsa ini.

Maraknya budaya asing dan tokoh asing yang dibawa oleh media informasi seperti TV dan internet semakin menjauhkan anak muda pada sejarah bangsanya. Anak muda jauh lebih mengenal Rambo daripada Syahrir atau Airlangga. Anak lebik suka baca komik dari Jepang daripada membaca tentang dongen yang ada di tanah air. Orang lebih bangga mempelajari sejarah bangsa dan negara asing yang jauh daripada belajar sejarah bangsanya sendiri, sehingga beberapa kaum muda dengan sangat semangat berbicara soal sejarah bangsa Palestina tapi tidak tahu kerajaan Bone. Melupakan sejarah bagaikan pohon yang kehilangan akarnya. Aku bukan manusia yang tiba-tiba muncul pada saat ini, tapi aku saat ini adalah hasil proses dari sejarah leluhurku selama ribuan tahun. Aku disini bukan hanya fisik tapi pandangan tentang hidup, budaya dan sebagainya yang sangat mempengaruhi segala sikap dan peri lakuku saat ini.

Dengan mengenal sejarah maka kita mengenal asal usul terbentuknya bangsa dan mengetahui jatuh bangunnya bangsa ini. Mengetahui bagaimana para tokoh dulu berjuang untuk membangun sebuah negara dan merebut serta mempertahankan kemerdekaan yang sudah diraihnya. Belajar sejarah berarti belajar asal usul diri sendiri. Presiden Soekarno mengingatkan agar kita jangan melupakan sejarah atau jas merah. Dari sejarah itu kita bisa merefleksi dan belajar semangat para tokoh dan keteladanan yang dia lakukan. Misalnya keteladanan gubernur Suryo yang meninggalkan Surabaya paling akhir pada saat Surabaya digempur bala tentara Inggris. Dia ingin semua warga selamat terlebih dahulu baru dia menyelamatkan diri. Ini adalah keteladanan tanggung jawab yang besar terhadap rakyatnya. Pangeran Kornel dari Sumedang yang marah karena banyak rakyatnya mati dalam kerja paksa membangun jalan raya pos, maka ketika bertemu dengan Deandles dia bersalaman menggunakan tangan kiri sedang tangan kanan memegang keris yang terselip di pinggangnya.

Bagaimana dengan pemimpin kita saat ini? Banyaknya pemimpin yang korupsi, waktu rapat tidur, membagi jabatan dengan keluarga dan sebagainya membuat kita bertanya apakah mereka tidak pernah belajar dari para pendahulunya bagaimana memimpin rakyat? Seorang teman menyatakan malu mengaku sebagai orang Indonesia, sebab Indonesia dikenal sebagai negara paling korup, rawan kekerasan, dan sebagainya. Jika mereka belajar sejarah dan para tokohnya mungkin mereka akan malu dan rela berjuang membela rakyat. Mereka tidak mengulang kesalahan yang terjadi pada masa lalu dan tahu bagaimana seharusnya memimpin bangsa ini.

0 komentar:

Posting Komentar