Kamis, 17 September 2009

ANDAI SETIAP HARI LEBARAN


Menjelang hari raya Idul Fitri atau lebaran diberbagai media diberitakan ada beberapa orang yang membagikan uangnya dalam jumlah besar. Seorang pengusaha, tidak jelas apa usahanya di dusun Lompangan kabupaten Probolinggo, berjuluk Dimas Kanjeng pada tgl 14 September kemarin, membagikan Rp 200 juta kepada kaum miskin. Dia berjanji akan membagi Rp 8 M dikemudian hari. Pada hari yang sama di Makasar seorang pengusaha bernama Ambo Rukka membagikan Rp 1,2 M kepada kaum miskin. Masih ada beberapa lagi yang membagi dana besar menjelang lebaran. Tahun lalu Syeh Puji di Semarang membagi Rp 1,3 M dan yang paling tragis adalah apa yang terjadi di Pasuruan ketika H. Syuikon membagi uang sehingga menyebabkan 21 orang meninggal dan 13 terluka akibat berebut. Membagi uang yang paling aneh dilakukan oleh Tung Desem Waringin yang menyebarkan uang sejumlah Rp 100 juta dalam pecahan Rp 1000, Rp 5000 dan Rp 10.000 diatas Jakarta dari pesawat cessna.

Menjelang hari raya kaum miskin memang dimanjakan. Mereka bukan hanya mendapat uang tapi juga diajak makan bersama, mendapat bingkisan barang, uang dan lain sebagianya. Kaum miskin yang pada hari-hari biasa tidak ada yang memperhatikan bahkan digaruk oleh satpol PP tiba-tiba mendapat perhatian. Hal yang sama juga dilakukan oleh orang Katolik. Menjelang Natal dan Paskah di berbagai gereja diadakan acara bagi-bagi sembako dan sebagainya. Anak jalanan, pemulung, pengemis dan kaum miskin kota yang lain tiba-tiba diperlakukan sebagai manusia yang bermartabat. Mereka dijamu dan diperlakukan sebagai tamu yang terhormat. Tidak jarang orang-orang yang berpakai necis dan memakai parfum yang harum duduk makan bersama mereka, mengelus anak jalanan dan mengajak berbicara seolah sahabat. Bahkan tidak jarang orang rela menyusuri jalanan kota di tengah malam untuk membagi-bagi nasi.

Sayang semua itu hanya menjelang hari raya keagamaan. Bagitu hari raya keagamaan selesai maka selesailah sudah acara belas kasih pada kaum miskin. Semua orang kembali kepada posisinya masing-masing. Kaum miskin kembali ke jalanan dan tidak diperhatikan sedangkan orang necis kembali ke aktifitasnya tanpa peduli pada kaum miskin yang beberapa waktu lalu dijamunya. Maka saya ingin setiap hari adalah hari Lebaran, Natal atau Paskah, sehingga setiap saat kaum miskin diperlakukan sebagai manusia yang bermartabat. Orang kaya mau makan bersama kaum miskin tanpa foto, video atau pemberitaan lainnya. Semua menyatu karena ada kesadaran bahwa mereka adalah sesama yang semartabat. Ada belas kasih dari orang yang kuat terhadap yang lemah. Ada kesadaran bahwa apa yang ada pada mereka adalah milik Tuhan yang dipercayakan padanya dan harus dibagikan pada orang yang lemah.

Yesus mengajarkan belas kasih dilakukan setiap saat. Ketika Dia menyingkir bersama para murid dalam keadaan lelah, ternyata diikuti oleh ribuan orang. Mereka pun dalam kondisi yang lapar dan lelah. Hal ini membuat Yesus tergerak hatiNya oleh belas kasih. Dia meminta para murid untuk menyelesaikan masalah ini, tapi mereka enggan dengan mengajukan aneka alasan. Akhirnya Yesus melakukan pergandaan roti, sehingga orang-orang yang mengikutiNya mendapat makan. Kaum miskin ada setiap hari. Ketika membuka pintu pagar rumah dihadapan kita sudah ada orang miskin. Tapi sering kita mengabaikannya. Kita tidak mau terlibat dalam penderitaan mereka. Bahkan tidak jarang kita menjadi jijik dan merasa terganggu akan kehadirannya sehingga mereka kita usir bagaikan orang yang tidak bermartabat. Di depan rumah ibadah yang besar pada hari minggu atau jumat ada banyak pengemis yang duduk memelas. Tapi siapa yang mau bersahabat dengannya? Orang lalu lalang dan hanya sesekali melirik. Kalau ada uang receh maka mereka meletakkan di mangkuknya. Kalau tidak ada maka mereka akan berlalu begitu saja. Tapi hal ini akan berubah bila menjelang Natal, Paskah dan Lebaran. Kaum miskin itu akan diundang masuk dan makan bersama. Mengapa belas kasih harus dibatasi oleh hari raya? Apakah munculnya belas kasih dalam hati kita terbatas pada hari raya? Apakah pembagian pada hari raya akan diperhitungkan oleh Tuhan sehingga orang berusaha untuk melakukannya pada hari itu? Bingung!

1 komentar:

  1. andai tak ada lagi kaum miskin dan terpinggirkan.. [kapan ya???]

    BalasHapus