Selasa, 01 September 2009

DI SUATU MALAM

Angin malam menggeresekkan daun mangga di halaman. Seekor burung malam berteriak ngeri. Asbak di sebelahku sudah hampir penuh puntung. Kusedot kembali rokok filter. Asap bergulung membentuk awan putih. Berayun-ayun sekejap. Hilang! Seperti pikiranku. Bergulung dengan aneka alternatif. Sejenak lalu musnah. Tanpa jalan keluar. Mengapa aku harus bertemu dengannya? Bisik hatiku kesal.

Suara batuk ibu masih terdengar dari kamar tidur. Terbayang tubuh ibu yang kurus. Rambutnya sudah putih semua. Wajahnya keriput dimakan penderitaan hidup. Hampir sebagian besar hidupnya berteman akrab dengan penderitaan. Tiada lagi cadangan air mata dalam hatinya. Ibu seorang perempuan yang tidak mudah menyerah. Hidup penuh perjuangan dan mimpi. Dengan tubuh penuh luka dia tetap merangkak menentang keganasan badai hidup. Terdengar gemerisik sandal ibu menuju ke teras.

“Kau belum tidur?” tanya ibu dengan suara serak diambang pintu. Aku menoleh sebentar. Kumatikan rokok. “Kau terlalu banyak merokok.” Lanjutnya setelah melihat asbak. Ibu duduk di bangku panjang sebelahku. Sejenak kami terperangkap kesunyian malam.

“Ibu tidur dulu aja,” kataku. “Nanti batuk ibu tidak sembuh-sembuh.”
“Kamu kenapa?” tanyanya seolah tidak mendengar kataku.
“Tidak apa-apa,” jawabku sambil tersenyum menyembunyikan kegalauan hati. Ibu menatap dalam. Sorot mata yang membuatku sering menangis penuh sesal jika ketahuan berbuat salah. Meneguhkan saat aku membutuhkan tonggak pegangan. Sorot mata yang membuatku telanjang. Tatapan mata ibu berbicara melebihi seribu kata. Membuka hati tanpa paksa. Memahami apa yang tidak terungkap. Aku gelisah! Resah!

“Sudah jangan merokok.” Katanya. Dibetulkan selendang yang melilit lehernya, “Persoalan tidak selesai dengan rokok.” Matanya menatap jauh dalam kerimbunan daun mangga. Aku meletakkan kembali rokok yang sudah dijari. “Akhir-akhir ini kamu tampak bingung.”
“Ah hanya soal pekerjaan kok.” Jawabku singkat. Aku tahu ibu tidak puas. Dia pasti tahu aku bohong. Memang aku bohong! Aku tidak berani mengatakan apa adanya. Ceritaku pasti akan merobek luka hatinya. Aku tidak mau disaat mencicipi sedikit kebahagiaan ibu ditampar masa silam. Masa yang sangat hitam. Menjijikan!

Beberapa kali aku mendengar kisah masa lalu ibu yang segelap malam. Ibu adalah gadis desa. Parasnya yang cantik membuat dia disunting oleh seorang pejabat kota yang kebetulan datang ke desanya. Orang tua mana yang tidak bangga kalau anaknya disunting oleh orang kaya dari kota. Pejabat pemerintahan! Sebuah status yang tinggi. Di desa pegawai kelurahan meski hanya sekedar tukang ketik, sudah dianggap berstatus tinggi. Apalagi dia pegawai di kota. Pejabat! Sebuah kisah Cinderela terulang. Tanpa pikir panjang kakek menikahkan ibu. Tanpa perkenalan dan pengetahuan siapa lelaki itu.

Perkawinan berlangsung meriah. Kehidupan baru dijalani. Pernik-pernik pertengkaran mulai muncul. Tahun kedua perkawinan aku lahir. Badai perkawinan menghantam semakin kencang. Bapak mempunyai istri baru di beberapa kota. Perlakuan bapak sewenang-wenang. ibu lebih sebagai budak daripada istri. Pendidikan yang rendah. Latar belakang kemiskinan keluarga dan gadis desa menjadi alasan bapak memperlakukan ibu seperti itu. Tidak jarang bapak mencaci maki ibu di depan banyak tamu. Melempar gelas minuman ke wajahnya. Memukuli. Dan perlakuan kasar lain. Semua diterima dalam diam. Kakek selalu mengatakan perempuan harus mengabdi. Ini tradisi. Ibu ingin mematahkan belenggu tradisi. Perempuan bukan hanya sebagai pelampias seksual dan hiasan. Penyedia kopi di pagi hari dan menyetlika baju suami. Istri juga penentu arah bahtera rumah tangga. Tidak bisa diperlakukan sewenang-wenang. Tapi apa arti kekuatan ibu melawan tradisi yang sudah membelenggunya masyarakat selama ini?

Kesabaran ibu mencapai puncaknya ketika bapak membawa istri barunya ke rumah. Istri baru itu berubah status menjadi tuan rumah dan mengusir ibu. Saat itu juga ibu menuntut cerai. Pulang ke desa menjadi pilihan yang buruk. Semua keluarga menyalahkan. Perempuan harus taat pada suami. Ibu kurang mengabdi. Terlalu banyak menuntut. Tidak bisa menyesuaikan diri. Dan aneka hujatan mengucur deras dari keluarga yang kecewa. Sambil menggendongku yang masih berumur 3 tahun, ibu pergi ke kota lain. Berjuang menghidupi dirinya dan aku. Tidak ada lelaki yang berhasil menaklukkan hatinya. Kepedihan sekali cukup untuk selamanya. Nganga luka terlalu dalam untuk disembuhkan.

“Kamu mau ibu belikan tahu tek-tek?” tanyanya mengembalikan kesadaranku. Di depan rumah penjual tahu tek-tek langganan kami memukul penggorengan keras-keras. Aku menggelengkan kepala. Ibu menatapku sedih. Kesedihan yang tidak terungkap dalam keterlibatan penderitaan orang yang dikasihi. Dia diam menanti. Berusaha menyatukan hati. Memberikan peneguhan dalam keheningan.
“Sudahlah ibu tidur dulu aja.” Kataku mengusir kegelisahan hati. Ibu menarik nafas panjang. Aku memejamkan mata. Air mata menitik tipis. Kusembunyikan getar dibibir. Ibu semakin menatapku dalam. Keremangan lampu teras tidak cukup untuk melihat air mataku. Kami masuki kembali jurang kesunyian. Gelisah!

“Apakah ibu pernah mengenang bapak?” tanyaku hati-hati. Ibu tersentak! Tidak siap menerima pertanyaan yang tidak pernah aku ajukan. Selama ini memang aku tidak pernah bertanya soal bapak. Aku tahu pertanyaan itu akan membuka balutan luka. Menebar mendung di wajah yang teduh. Tatapan mata kosong. Bibir yang tergigit sampai berdarah. Ibu pernah mengatakan tidak akan menangis lagi bila teringat masa itu. Namun kenangan itu adalah bagian peristiwa hidupnya yang menyatu utuh.

Ibu terdiam. Keheningan menindih teras. Ketukan Pak To di penggorengan menggelegar. Perlahan Pak To meninggalkan depan rumah. Seorang lelaki tua mendorong gerobak di tengah malam buta.

“Bagaimana pelayananmu?” tanya ibu. Aku tahu ibu tidak ingin menjawab pertanyaanku. Aku hanya menghela nafas.
“Baik.” Jawabku singkat.
“Lola kok sudah lama tidak kesini?”
“Dia sibuk mau skripsi, sehingga mengurangi pelayanan.” Pembicaraan basa basi. Kami seperti dua musuh yang sedang menjajaki kekuatan. Berusaha mengalihkan persoalan. Berkelit. Menutup gejolak perasaan. Menunggu apa yang akan muncul kemudian. Suara penggoreng dipukul kembali terdengar keras.

“Kasihan pak To.” Kata ibu lirih. “Sudah tua masih harus bekerja pada malam hari.” Aku terdiam. Menunggu dan menenangkan diri. “Ibu bersyukur saat ini sudah enak.” Sebuah senyum mengembang. Bangga! Aku paling senang melihat ibu tersenyum seperti itu. Gurat kecantikan tampak jelas. Bibirnya yang tipis mengembang dibawa hidungnya yang mancung. Aku paling kagum dengan mata ibu yang tenang. Seperti sebuah danau yang luas dan dalam. Menatapnya bisa terseret dalam pusaran tanpa dasar.

“Kemarin dia cerita anaknya tidak bisa melanjutkan sekolah.” Lanjutnya. “Katanya mau kerja saja. Kamu punya pekerjaan untuknya?”
“Akan aku usahakan.”
“Carikan kerja ya.” Ibu memohon.”Kalau anaknya kerja mungkin Pak To akan berhenti jualan. Kasihan sudah tua masih harus terus bekerja.” Suara pukulan penggorengan semakin jauh.

Ibu adalah perempuan pekerja. Dulu ketika semua orang masih menikmati rmimpi, ibu sudah berkeringat di dapur. Menggoreng kue yang akan dijajakannya di pasar dan kutitipkan ke beberapa warung. Bertahun-tahun ibu berjuang sendiri. Sakitpun ibu tetap berjualan. Ketika aku masih kecil, ibu menggendongku di belakang sedang kepalanya menyunggi tampah. Berkeliling kampung atau duduk di dekat pintu pasar. Sepulang dari pasar, ibu mencari sayuran yang tidak terpakai. Dibersihkan dan dimasak. Aku harus mempunyai gizi yang cukup. Katanya saat kutanya. Tidak jarang ibu membawaku bermimpi. Garam halus dibuatnya bulat. Aku diajak membayangkan itu telur asin. Irisan tipis tempe dibayangkan sebagai daging ayam. Tahu dibuat bulat dibayangkan sebagai bakso. ibu sering tertawa kalau aku meminta telur asin. Cita-cita ibu hanya satu. Aku harus sekolah setinggi-tingginya. Kemiskinan akan diakhiri kalau aku dapat sekolah tinggi dan bekerja. Sekarang semua sudah terjadi. Aku lulus sebagai arsitek dan bekerja di sebuah kontraktor. Dengan jerih payah aku bisa mendirikan sebuah perusahaan kecil. Hidup kami secara perlahan keluar dari kemiskinan. Apa yang dulu hanya bisa kami bayangankan sekarang sudah dapat kami wujudkan.

Suara daun bergeresek mengisi kebekuan teras. Aku pindah tempat. Duduk di sebelah ibu. Memeluknya. Ibu mengelus rambutku. Dulu banyak teman mengejekku anak mama. Masih sering dipeluk meski sudah kuliah. Aku tidak peduli. Pelukan memberikan aku keyakinan akan kasih ibu. Rasa yang tidak bisa dikatakan. Ketenangan terbentang luas. Damai yang tak terucapkan. Kami saling meneguhkan. Malam terus turun.

“Bagaimana Pak Man?” tanya ibu. Aku tersentak. Hatiku berdegup keras. Keringat dingin meluncur di telapak tangan.
“Baik!” jawabku singkat. Aku sering bercerita tentang aktifitasku melayani para pengemis dan gelandangan di stasiun. Pak Man adalah salah satu pengemis yang kami temui beberapa waktu lalu. Aku menceritakan Pak Man pada ibu.

Latar belakang kemiskinan dan penderitaan membuatku mudah terlibat dalam penderitaan orang lain. Ibu senantiasa mendorong dan mengajarkan agar aku tidak egois. Harus berani berbagi kepada siapa saja. Ibu bukan orang yang suka berteori. Dia melaksanakan tindakan kasih. Dalam kemiskinan ibu berani berbagi dengan sesama. Siapa saja yang datang ke rumah pasti ditawari makan. Tidak ada tetangga yang butuh bantuan pulang dengan tangan hampa. Pernah ibu menjual sehelai baju dan jariknya untuk pengobatan anak tetangga. Padahal baju ibu tidak lebih dari lima lembar. Ibu senantiasa mengucapkan syukur bahwa dia masih diberi aneka rahmat oleh Tuhan.

“Apa dia jadi kamu masukan panti asuhan?”
“Sudah, tapi keluar lagi.”
“Kenapa?”
“Katanya tidak kerasan.” Terbayang kembali seraut wajah lelaki tua. Ingin kuhapus dari mataku. Dia menempel seperti lintah. Semakin kuat keinginan untuk membuang, semakin kuat dia melekat dalam keseharianku.
“Kamu harus sabar dengan orang tua.” Aku terdiam. “Siapa tahu dia adalah Tuhan sendiri yang sedang menguji kesabaranmu.”

Terbayang kembali pertemuanku dengan Pak Man. Seperti biasa setiap minggu sore aku bersama kawan-kawan muda mengadakan kunjungan ke stasiun. Kami membuka pelayanan pengobatan dan tabungan bagi para gelandangan. Suatu hari muncul seorang bapak dengan luka kaki yang sangat besar. Baunya busuk. Kami rawat lukanya. Borok diatas mata kaki sudah parah. Menembus tulang. Kami berpikir kalau dia tetap di stasiun maka borok itu tidak akan pernah sembuh. Maka kami menyewa kamar untuknya. Kami bawa ke dokter. Hampir setiap hari ada yang mengunjungi. Namun orang ini sangat kasar. Dia tidak pernah bersyukur dan terima kasih atas apa yang kami kerjakan. Sebaliknya dia sering mencaci maki kami. Tidak peduli dimana dia berada. Ketika di rumah sakit dan boroknya dibersihkan, dia menuduh kami mau membunuhnya. Pegawai rumah sakit marah atas sikapnya. Maka dia diusir. Dianggap mengganggu pasien lain.

Lola seorang gadis yang sangat sabar dalam kelompok kami sudah menyerah. Dia berulang kali dikatai dengan kasar. Pak Man selalu tidak puas dengan apa yang ada. Sepulang dari rumah sakit dia kujemput. Kami naik mobil. Dia mengeluh panas. Padahal AC sudah kunyalakan. Sepanjang jalan dia memerintahku seperti pada pembantunya. Hatiku panas. Ingin kuturunkan di tepi jalan. Aku bisa saja tidak peduli. Tapi entah mengapa aku tertantang untuk lebih mengasihinya. Ada dorongan yang tidak kuketahui. Di rumah kontrakan Lola sudah membuatkan makanan. Pak Man mengeluh makanan tidak enak. Padahal kulihat makanan sudah cukup enak. Ada saja yang menjadi alasan bagi Pak Man untuk marah. Dia seolah menjadi tuan atas kami.

Beberapa kali aku mengunjunginya. Dia semakin tidak kerasan di rumah kontrakan. Tidak ada yang merawat. Kesabaran kami diuji. Kami putuskan memasukan dia ke panti asuhan agar ada yang merawat. Ternyata dia tidak kerasan. Segala bujukan kami hanya membuahkan caci maki. Latar belakang hidup Pak Man tertutup. Tidak ada yang tahu siapa dia sesungguhnya. Dari mana asalnya. Dimana keluarganya. Ini sebetulnya biasa bagi komunitas pengemis dan gelandangan di stasiun. Namun Pak Man lebih dari itu. Dia seolah ingin menutup hari kemarin.

Suatu hari aku mengobrol berdua dengannya. Dia mulai bercerita siapa dirinya. Dia dulu pernah kaya dan berkuasa. Istrinya banyak. Namun akibat korupsi yang berlebihan maka semua hartanya disita. Dia masuk penjara beberapa tahun. Sebuah tamparan telak. Di penjara dia menjadi orang yang tidak ada artinya. Aneka siksaan diterima. Di penjara semua istrinya pergi satu demi satu. Keluar dari penjara kehidupan jauh lebih kejam. Dia ditolak dimana-mana. Berbekal malu dan putus asa dia menggelandang di kota ini.

Pak Man merasa ini adalah karma yang harus dipikul. Karma dari istri pertama.
“Siapa nama istri pertamanya?” tanyaku saat itu
“Sri Wahyuningsih.” Katanya lirih. Hatiku berdesir.
“Darimana asalnya?” aku mendesak.
“Kedung Jati.”
“Kedung Jati mana?” desakku. Keringat dingin mulai mengalir.
“Dekat Semarang.” Katanya menatapku penuh tanya. Aku terhenyak. Ada berapa nama Sri Wahyuningsih disana? Ada berapa Sri Wahyuningsih yang menjadi istri pertama dari seorang kaya yang berkuasa? Aku menggigil ngeri.
“Apakah Pak Man punya anak dengan istri pertama?” tanyaku gamang
“Satu.” Katanya acuh. “laki-laki!” sejenak dia menatapku. “Ketika pisah anak itu berumur 2,5 tahun.” Sebuah palu besar menimpa kepalaku. Inikah lelaki yang telah memperlakukan ibu dengan keji? Wajah kosong yang sering muncul dalam mimpiku. Sering aku mencoba untuk mereka wajah itu. Inikah dia? Aku segera pulang.

“Kamu kedinginan tho?” tanya ibu mengagetkan.
“Bu, sejauh mana kita harus mengampuni?” tanyaku
“Dalam Kitab Suci kan sudah dijelaskan.”
“Kalau ada orang yang sangat menyakiti hati ibu, apakah ibu siap mengampuni?” tanyaku ragu. Ibu tersenyum teduh. Keremangan lampu teras menimbulkan bayang kelabu.
“Semua manusia pernah salah.” Dielusnya rambutku.”Kalau ada orang salah pada kita, ya kita ampuni.” Matanya menatap kedalam mataku. “Kita kan juga pernah bersalah pada orang bukan?”
“Kalau bapak kembali ke ibu apakah ibu mau mengampuni?” Suasana menjadi hening. Wajah ibu menatap lurus ke depan. Beku! Gurat kepedihan tergambar jelas diantara keriput wajahnya. “Mengapa kamu tanyakan itu?” suaranya bergetar menahan pedih.
“Aku hanya mengandaikan saja.” Kataku mencoba tersenyum. Aku tahu betapa berat hati ibu seandainya tahu Pak Man adalah suaminya. Masih berlakukah pengampunan yang diajarkan setarikan nafas tadi? Apakah aku siap menerima dia sebagai ayahku? Wajah yang selama ini hilang. Nama yang sayup-sayup aku dengar. Pribadi yang jauh berada di masa lalu. Sosok yang selama ini dianggap penyebab penderitaan kami? Kulihat wajah ibu menatap langit. Kosong. Gelap! Kupeluk dengan penuh kasih. Aku menelan semua pergulatanku. Sebuah keputusan kupegang.

0 komentar:

Posting Komentar