Sabtu, 12 September 2009

MENGAPA AKU HARUS PUASA?


Seorang ibu tua duduk di sela tiang telpon dan pintu masuk sebuah lorong kecil. Tubuhnya yang kurus kering dibalut baju kumal disandarkan pada pojok bangunan yang tampak kotor. Guratan-guratan coklat tua meleleh di dinding. Entah sudah berapa orang yang kencing di sekitar situ meski ada tulisan besar “DILARANG KENCING DISINI!!” Sebuah keranjang bambu tergeletak di depan kaki ibu itu yang penuh keriput. Beberapa helai sayuran layu terkulai lemah di bibir keranjang. Ibu itu membuka sebuah bungkusan kertas. Dilihatnya beberapa saat isi bungkusan itu. Jemarinya yang kecil dan kotor mulai mengaduk-aduk isi kertas. Satu suap masuk mulutnya dan dikunyah perlahan untuk menikmati manisnya nasi dan sedikit lauk yang ada.

Sebuah tangan kaku meremas pundak ibu tua itu. Seorang tinggi besar dengan kumis yang sebesar egonya berdiri mengangkang di hadapan ibu itu. Wajahnya yang gelap penuh kemarahan. Matanya melotot tajam. Wajah ibu itu pucat pasi. Senyum dan kedamaian yang semula terpampang menjadi hilang disedot kekuatan tangan lelaki.

“Mengapa kamu makan disini?” bentak lelaki itu dengan suara melebihi kerasnya guruh di musim kemarau. Ibu itu hanya mampu menatap dengan gemetar. Bungkus nasi di tangannya bergetar seperti ada gempa berkekuatan 7.5 scala richter
“Mengapa kamu makan disini!” bentakannya berulang sambil mengguncang bahu ibu itu yang bagaikan seongok daging keriput terdorong ke depan dan belakang tanpa daya.
“Saya lapar Pak,” jawab ibu itu polos dengan sorot mata seperti mata kelinci dalam cengkeraman harimau. Nasi yang sudah ada dalam mulutnya berlarian bersembunyi di balik giginya yang tinggal beberapa berdiri tanpa teratur di gusinya.
“Apa kamu tidak tahu sekarang bulan puasa?” bentak lelaki itu lagi. Satu dua lelaki berseragam coklat daki mulai berdatangan. Wajah-wajah tanpa harapan mengelilingi ibu itu bagaikan sekumpulan serigala mengelilingi hewan yang tidak berdaya.
“Tangkap dan bawa saja ke kantor.” Sebuah suara terdengar dibalik lelaki itu.
“Ampun pak saya salah apa.”
“Ampun.. ampun.” Jawab orang itu sinis. “Apa kamu tidak tahu kalau ada perda bahwa pada bulan puasa tidak boleh ada orang makan di tempat umum?”
“Ampun pak saya tidak tahu apa perda itu.”
“Dasar goblok!” bentak orang satunya lagi. “Sudah tangkap saja biar jadi pelajaran bagi yang lain agar tidak seenaknya melanggar perda.”
“Jangan ditangkap pak,” rintih ibu itu. Air mata mengalir di pipi yang penuh garis penderitaan. Dia sudah beberapa kali mendengar dari sesama pedagang bahwa bila tertangkap petugas maka barang dagangan akan hilang. Padahal itulah satu-satunya kekayaan yang dimiliki untuk menyambung hidupnya yang kurang beberapa tarikan nafas lagi.
“Kamu ini harusnya menghormati orang berpuasa.”
“Ya pak,”
“Kalau menghormati mengapa kamu makan disini!”
“Saya lapar pak.”
“Apa kamu tidak bisa makan di rumah sehingga tidak menganggu orang berpuasa?”
“Rumah saya jauh pak.”
“Kalau begitu jangan makan.”
“Tapi saya lapar pak,”
“Kamu ini diberitahu malah membantah.” Jawab lelaki itu jengkel. “Apa kamu mau melawan petugas?” nada sombong dan penuh kuasa meluncur dari bibirnya yang tebal dan hitam terbakar asap rokok kretek.
“Tidak pak… tidak pak..” jawab ibu itu cepat.
“Lalu kenapa kamu makan di tempat umum.”
“Saya lapar pak.”
“Dasar orang tua tidak tahu diri.” Sahut orang yang lain. “Harusnya kamu memberi contoh bagi orang muda.”
“Contoh apa pak?” tanya ibu itu bodoh.
“Contoh puasa.” Bentak orang itu setengah histeris. Dia putus asa menghadapi orang tua yang sangat bodoh ini. Kalau dia masih muda mungkin sudah diringkus atau digampar mulutnya yang terus melontarkan kata-kata yang bodoh.
“Kamu ini sudah tua harus mampu mengendalikan diri dan menjalankan puasa.” Ibu itu menundukkan kepalanya. Nasi bungkus yang diperoleh dari pemberian seseorang masih terletak di telapak tangan kirinya. Dia tidak tahu mengapa makan di tempat ini harus dilarang? Padahal orang kencing di tempat ini dibiarkan saja meski sudah ada tulisan besar di tembok DILARANG KENCING DISINI. Aku tidak melanggar larangan yang tertulis disini mengapa sekarang mau ditangkap? Tanya ibu dalam hati gundah.

“Kamu tahu kan sekarang bulan puasa?”
“Ya pak”
“Kamu tahu kan kalau orang berpuasa maka dia tidak makan dan minum?”
“Ya pak.”
“Kamu tahu kan kalau kamu makan disini dan ada orang yang sedang berpuasa melihatmu makan maka dapat menganggu puasa mereka?” ibu itu terdiam. “Apa kamu tidak tahu bahwa kamu sudah menggoda orang yang sedang berpuasa?” bentak lelaki itu makin keras.
“Saya tidak menggoda pak.” Kata ibu itu lemah. “Saya makan karena saya lapar. Sejak kemarin saya belum makan.”
“Aku tidak minta pendapatmu!” bentak lelaki itu. Dia terbiasa dibentak oleh atasannya. Kini saat baginya untuk membentak orang lain. Seringai buas menghias wajah puas. Ibu itu membisu. Ketakutan dan kepedihan bercampur aduk membuka semakin lebar pintu air matanya.

Mengapa aku harus turut berpuasa ketika orang lain berpuasa? Mengapa mereka tidak berpuasa ketika aku berpuasa? Hampir setiap hari aku harus menahan lapar dan haus. Bila daganganku tidak laku maka aku selama seharian penuh tidak makan dan minum. Bila puasa hanya tidak makan dan minum bukankah aku setiap hari sudah berpuasa? Mengapa ketika aku puasa orang lain tidak peduli padaku. Mengapa tidak ada petugas yang menangkap orang yang makan di restoran atau warung ketika leherku tercekik rasa haus dan perutku dililit kelaparan? Kini aku mempunyai nasi untuk mengisi perutku yang sejak kemarin hanya kemasukan segelas air kenapa dilarang untuk kumakan dengan alasan ada orang yang sedang berpuasa?

Matahari yang menyengat kuat menjadi redup. Sebongkah awan hitam menutup sinarnya agar tidak menyentuh bumi seperti sebuah selendang hitam pekat untuk menutup mata Tuhan yang meneteskan air mata melihat sandiwara satu babak di tepi jalan.

0 komentar:

Posting Komentar