Selasa, 01 September 2009

LIK JI


Pak Karto menghisap rokoknya dalam-dalam. Matanya yang sudah hampir rabun dimakan usia, menatap awan biru yang terbentang dari ujung bukit ke bukit yang lain. Tidak ada tanda-tanda akan turunnya hujan yang sudah lama dinanti. Tanah disekitar bukit kapur itu sudah seperti orang tua yang penuh dengan keriput. Pecah-pecah, berdebu. Semak-semak berwarna coklat berserakan disana sini. Pohon singkong sekurus tubuhnya berdiri terbungkuk-bungkuk terbeban daun yang hanya beberapa helai memenuhi sekeliling gubuk reyotnya. Daun itu habis akibat kekeringan atau diambil untuk lauk makan sehari-hari.

“Kapan hujan ini akan turun ya,” katanya seperti pada diri sendiri. Dikebulkan kembali asap dari tembakau yang dibalut kertas koran. “Musim kali ini memang aneh, baru bulan segini sudah kemarau.”
“Pasti tidak ada orang yang panen. Mana sekarang harga-harga naik terus. Jika seperti ini pasti kita semua akan puasa lagi.” Timpal istrinya yang duduk tidak jauh darinya. Mereka menatap langit kembali. Seolah mencari Tuhan yang bisa menurunkan hujan. Tapi di langit hanya ada warna biru dan matahari yang bersinar terik.

Sayup-sayup terdengar suara gemeresek. Srek… srek… srek… Suara yang sudah sangat dikenalnya selama bertahun-tahun. Suara yang ditimbulkan oleh tabung seng yang bergesekan dengan sekam.
“Wah tampaknya Lik Ji sudah sibuk membuat es puter.” Kata Pak Karto sambil menoleh ke arah gubuk tetangganya. Sebuah gubuk yang tidak beda kumuhnya seperti pada umumnya rumah para penduduk desa sini.

Lik Ji adalah seorang penjual es puter. Di desa yang sangat terpencil dan miskin seperti ini, minum es puter di tengah hawa panas menyengat merupakan sebuah kemewahan. Sudah bertahun-tahun Lik Ji berjualan es puter. Semua penduduk desa dan desa-desa tetangga telah mencicipi es yang sangat enak itu. Es yang terbuat dari santan ditambah gula dan es batu lalu dimasukan dalam sebuah tabung seng. Tabung itu dimasukan dalam sebuah tempat agak besar yang diisi oleh sekam dan garam. Lalu tabung yang berisi santan, gula dan es diputar-putar sampai es di dalamnya hancur dan lembut. Membayangkan minum es puter membuat tenggorokan Pak Karto terasa kering.

“Nanti sore setelah azhar akan ada doa mohon hujan di lapangan.” Kata Bu Karto. “Sekarang pasti Lik Ji membuat es sangat banyak dan dia akan mendapat untung besar.” Lanjut Bu Karto dengan senyum iri.
“Ya rejekinya orang berbeda-beda. Tuhan sudah mengatur semuanya.” Suara itu terdengar memecah kesepian desa yang semakin tintrim di tengah terik matahari. Tidak ada satu anak pun yang bermain atau berkeliaran. Semua anak lebih suka main di rumah daripada di jalan padas yang berdebu dan panas. Srek…. Srek… srek… suara itu menjadi satu-satunya pengisi kesunyian desa.
“Aku mau ke Lik Ji dulu,” kata Pak Karto sambil berjalan melintasi batang-batang singkong. Dia tidak perlu persetujuan istrinya. Inilah kebiasaannya.

“Wah semangat sekali Lik,” kata Pak Karto ketika sampai di depan pintu dapur Lik Ji. Sebuah dapur yang kusam. Gedhek yang menjadi dindingnya sudah berlubang disana sini seperti mulut gua di bukit kapur. Sebagian besar dinding sudah menghitam akibat asap dari tungku masak. Pak Karto lalu duduk di ambang pintu. Lik Ji menoleh sebentar sambil tersenyum. Dia seorang lelaki pekerja keras. Penderitaan hidup dan kerja keras membuat dia tampak lebih tua daripada usia sesungguhnya. Giginya sudah banyak yang hilang. Rambutnya sudah hampir putih semua. Tubuhnya tidak terawat. Tapi di desa ini siapa yang akan peduli dengan penampilan?

Lik Ji tidak menghentikan pekerjaannya. Peluh membasahi tubuhnya yang kurus dan hitam. Beberapa bulir air mengalir di tubuhnya yang bertelanjang dada. Di kampung ini jarang sekali orang laki-laki mengenakan baju di siang hari. Mereka semua bertelanjang dada. Biasanya tubuh mereka hanya dililit sarung atau celana kolor yang sudah kotor. Para ibu pun banyak yang hanya mengenakan jarik sebatas dada. Tidak ada malu atau rasa tidak sopan. Anak-anak kecil bisa kencing dimana-mana atau bermain dengan tubuh telanjang. Kesopanan dan rasa malu tidak berpakaian hanya milik orang kota kecamatan. Mereka harus memakai aneka penutup tubuh bila di ruang publik. Rasa malu dan kesopanan bagi penduduk desa ini hanya jika mereka berbuat salah atau tidak menghormati orang yang lebih tua.

Lik Ji sebentar-sebentar mengusap kening yang basah. Beberapa keringatnya menetes masuk ke dalam tabung. Mungkin bagi orang kota es buatan Lik Ji itu tidak higienis, tapi siapa yang peduli soal higienis di desa ini?

“Hari ini membuat banyak ya,”
“Ya… “ jawab Lik Ji dengan tetap memutar tabung-tabungnya.
“Untung sampean akan banyak Lik,” kata Pak Karto diiringi ketawa lepas.
“Ini berkah dari Tuhan, De,” sahut Lik Ji. Dia terbiasa memanggil Pak Karto dengan sebutan Pak De yang biasanya disingkat De. “Tuhan itu mahaadil dan mahawelas, ketika aku sangat membutuhkan uang ternyata akan diberi berkah.”
“Syukurlah Lik,” kata Pak Karto tidak bersemangat. Dia menatap ladangnya yang kering. Benarkan Tuhan mahawelas? Lalu mengapa tidak turun hujan yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat desa? Mengapa panenan gagal? Dihembuskan asap rokok terakhir. Dilemparkan saja puntung rokok di halaman belakang.

“Dalam panas terik begini pasti orang akan berebut es mu Lik.” Pak Karto tertawa kecil sekering cuaca. Dia tidak tahu mengapa harus tertawa.

Lik Ji pun tertawa bangga. Dia sejak tadi pagi sudah membayangkan bahwa hari ini pasti akan mendapat keuntungan besar. Mengingat untung besar dia semakin bersemangat memutar tabung esnya. Sudah bertahun-tahun dia berjualan es puter. Inilah satu-satunya sumber penghidupan. Orang tuanya mati tidak meninggalkan warisan tanah secuil pun sebab dulu hanya buruh tani. Dia pun tidak mampu membeli tanah secuilpun kecuali tanah untuk gubuknya. Hasil penjualan es puter tidaklah besar. Hanya cukup untuk makan sehari bersama istri dan ketiga anaknya. Syukurlah sekarang dua anaknya sudah berhasil menyelesaikan sekolah sampai SMP dan kini sudah bekerja sebagai kuli bangunan di kota. Sedangkan yang ketiga masih duduk di kelas III SMP.

“Kalau ini untung banyak, maka bisa untuk membayar tunggakan uang sekolah dan ujian si Paimo.” Kata Lik Ji. Sudah beberapa hari Paimo, anaknya yang paling kecil, memintanya untuk melunasi uang sekolah yang sudah nunggak 3 bulan. Sebentar lagi dia akan ujian maka harus melunasi uang sekolah dan uang ujian. Jika tidak, maka dia tidak boleh ikut ujian. Lik Ji kebingungan. Untung ada kabar kalau pondok pesantren di ujung desa sebelah akan mengadakan doa mohon hujan siang hari ini. Berita ini seperti jawaban Tuhan atas doanya. Ini rejekinya Paimo, kata Lik Ji pada istrinya sesaat setelah mendengar berita itu.

Lik Ji sangat bangga dapat menyekolahkan anak-anaknya. Kalau anaknya sampai tidak boleh ikut ujian, maka dia merasa gagal. Dia akan menyesali hidupnya. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia akan rela berbuat apa saja asal Paimo bisa ikut ujian dan lulus. Baginya kemampuan menyekolahkan anak-anaknya merupakan sebuah prestise. Ini tidak mampu dilakukan oleh orang tuanya dulu. Maka dia senantiasa bangga bila datang ke sekolah anaknya untuk mengambil raport atau ketika para tetangga bertanya tentang anak-anaknya. Dia tidak begitu peduli akan nilai rapot anaknya, sebab angka 7 dan 9 baginya sama saja. Yang penting anaknya naik kelas atau lulus dari sekolahnya.

“Kapan Paimo ujian?”
“Katanya satu bulan lagi.”
“Ya semoga saja dia bisa lulus Lik…” kata Pak Karto gundah. Matanya kembali menatap langit yang biru. Kini ada satu dua awan yang mengambang disana. Dia tidak mempunyai anak lelaki yang bisa dibanggakan seperti Paimo. Dua anaknya semua perempuan. Sebetulnya mereka semua ingin sekolah sampai SMP tapi siapa yang akan membiayainya. Untuk makan saja sudah demikian sulit, bagaimana akan mampu membayar uang sekolah? Bersekolah tidak cukup hanya mempunyai kepandaian otak saja, tetapi harus mempunyai uang. Kalau toh mereka disekolahkan sampai SMP tidak ada gunanya juga. Mereka suatu saat akan menikah dan pasti ijasah mereka tidak akan berguna. Mereka hanya akan menjadi ibu rumah tangga. Kebaikan seorang ibu tidak bisa diukur dari jenjang pendidikan.

“Apakah Paimo akan melanjutkan sekolah di kecamatan?”
“Aku ingin begitu.”
“Usahakan saja Lik. Aku lihat Paimo itu pandai.” Lik Ji bangga mendengar anaknya dipuji. Ini lebih membanggakan daripada orang memuji es puternya.
“Aku memang bertekad seperti itu. Maka sekarang aku sedang mencari modal.” Terbayang kembali rencananya semalam. Hari ini akan ada doa mohon hujan. Pasti es puternya akan laku keras. Siapa orang yang tidak akan tertarik es puternya setelah mereka berdoa di tengah terik matahari? Mereka kehausan bukan hanya karena terik matahari tapi juga melantunkan doa-doa. Pasti banyak anak kecil yang ada disana. Maka pagi-pagi sekali Lik Ji sudah pergi ke toko si Mbun untuk hutang gula, garam kelapa, obat gula, panili dan sebagainya. Dia berjanji akan membayar semua hutangnya besok pagi. Lik Ji pun sudah menghitung keuntungan yang akan diperolehnya. Sebagian untuk membayar hutang pada si Mbun, sebagian lagi digunakan membayar tunggakan uang sekolah dan uang ujian Paimo. Sisanya mau dibelikan ayam dua ekor. Ayam ini akan diberikan pada Paimo agar dipelihara. Siapa tahu ayam itu akan bertambah banyak sehingga dapat menjadi modal Paimo belajar di SMA. Rencana ini sudah dibeberkan pada istri dan anaknya. Mendengar itu mereka semua gembira dan bersama membangun harapan hari esok yang baik.

Angin semilir berhembus melewati ladang-ladang kersang. Suara gesekan seng dengan jerami masih terdengar di dapur Lik Ji. Mengisi sudut-sudut kebisuan mereka. Pikiran mereka melayang-layang tidak searah. Pak Karto menatap melas pohon-pohon singkongnya yang kurus. Lik Ji membayangkan ayam dan Paimo yang lulus SMA. Sekali lagi Pak Karto menatap langit. Semakin banyak awan bergerombol. Angin bertiup semakin kencang. Udara menjadi segar. Dada Pak Karto berdegup. Dia celingukan menoleh kesana kesini. Sambil berdiri ditatapnya awan yang bergayut di atas bukit kapur. Cukup tebal. Selintas harapan muncul. Wajah Pak Karto yang keriput dimakan derita dan kerja keras menjadi sumringah. Nalurinya mengatakan bahwa hari ini akan turun hujan.

“Lik tampaknya orang desa tidak perlu mengadakan doa mohon hujan lagi.” Katanya lirih penuh kegembiraan yang tertahan. Lik Ji menghentikan tangannya. Dia berusaha melongok keluar. Dilihatnya awam tebal berarak dari ujung bukit. Wajahnya menjadi pucat.

0 komentar:

Posting Komentar