Senin, 21 September 2009

PERCAKAPAN SEORANG ANAK DENGAN EMAKNYA


“Mak,” suara seorang anak lelaki memecah kesenyapan deretan rumah kos yang mirip kadang burung merpati. Sebuah kotak-kotak kecil dengan sebuah pintu tanpa jendela.
“Hem..” timpal suara seorang perempuan.
“Sebentar lagi lebaran.”
“Ya,” kembali kesenyapan menggantung. Sayup-sayup terdengar suara seorang penyanyi pria yang mendendangkan lagu dhang dhut menyeruak disela-sela dinding tripelks. Batas antara satu rumah dengan rumah yang lain.
“Dua hari lagi lebaran mak,” suara anak kecil itu terdengar lagi. Lirih seolah pada diri sendiri. Tidak jelas antara pertanyaan atau pernyataan. Sebuah raungan sepeda motor yang melaju di jalan terdengar sangat jelas.
“Ya mak sudah tahu,” suara perempuan itu kembali terdengar setelah sepi sesaat. Keheningan kembali menguasai lorong. Suara penyanyi pria sudah hilang. Terdengar suara penyanyi perempuan yang meliuk-liuk penuh kepedihan hati. Entah mengapa lagu dhang dhut sering mengungkapkan kesedihan sehingga lagunya seperti orang merintih. Mungkin merupakan jeritan rakyat kecil yang hidupnya berkumbang derita.
“Kamu tadi ikut tarawih?” suara perempuan itu terdengar kembali menembus pintu triplek yang sudah berlubang disana sini.
“Ya.” Jawab suara anak lelaki. “Teman-teman tadi sudah membicarakan lebaran.” Lanjutnya. Gurat-gurat kepedihan tergores dalam nada suaranya.
“Apa yang mereka bicarakan?”
“Mereka akan pergi unjung-unjung.”
“Kamu akan ikut bersama mereka?”
“Tidak!”
“Kenapa?”
“Mereka semua akan memakai baju baru.” Kebisuan kembali berkuasa. Terdengar dengkur orang yang tertidur pulas dari bilik rumah yang lain mengiringi suara penyanyi dang dhut yang masih terus meliuk-liuk. Pedih.
“Doakan agar emak dapat rejeki sehingga bisa membelikan kamu baju baru.”
“Ya mak.” Suara putus asa menebar dalam ruang berukur 2 m X 2 m. “Sudah tiga lebaran ya mak.” Suara anak lelaki itu terdengar kembali.
“Apa?”
“Bapak nggak pulang,” terdengar helaan nafas berat. Keheningan mendekap.
“Sudah hampir jam 10 sebaiknya kau tidur.” Terdengar suara perempuan dengan nada sedih. “Besok kamu kan harus sahur.”
“Ya mak,”
“Di rantang masih ada sayur pemberian Bu dhe Tin.”
“Ya mak,”
“Nasinya tadi kamu habiskan?”
“Tidak mak. Aku sisakan untuk sahur besok.” Suara penyanyi dhang dut masih terus terdengar dari bilik di ujung lorong.
“Ya bagus,” terdengar suara perempuan lagi. “Malam kamu kan tidak perlu makan banyak sebab hanya untuk tidur.”
“Mak tadi sudah buka?” sebuah tanya yang tidak ada jawab. “Besok nasi itu kita makan berdua ya mak,”
“Tidak nak.” Jawab perempuan itu. “Untuk kamu saja.”
“Emak tidak sahur?” tiada jawab lagi. Kesenyapan menyelimuti. Di kejauhan terdengar suara penggorengan yang dipukul-pukul dengan irama yang tetap. Seorang penjual tahu tek-tek sedang berusaha menawarkan dagangannya ditengah kegelapan malam.
“Mak….” Suara anak lelaki terdengar kembali.
“Hem….”
“Kira-kira bapak dimana ya?”
“Tidak tahu.”
“Dia ingat kita apa tidak ya?”
“Tidak tahu.”
“Jika bapak ada apa aku akan mempunyai baju baru?”
“Tidak tahu.” Terdengar helaan nafas perempuan dewasa. “Sudahlah nak kamu tidur. Tidak usah berpikir soal bapakmu.”
“Kenapa mak?”
“Kamu harus sekolah yang pintar, sehingga bisa bekerja dan dapat membeli baju sendiri pada saat lebaran.” Sebuah jawab yang tidak menjawab.
“Aku juga akan membelikan emak baju baru.”
“He..he… “ terdengar suara parau. “Tidak usah nak. Emak sudah senang kalau kamu bisa hidup bahagia.” Terdengar derit pintu tripleks dibuka. Sosok perempuan keluar dari balik pintu. Lampu 10 watt yang tergantung di lubang angin-angin kamar mandi di ujung lorong sinarnya tidak cukup menerangi wajah perempuan itu. Perempuan itu berjalan gontai menyeret tubuhnya yang kurus. Dasternya yang lebar bergerak-gerak ditiup angin malam. Di ujung lorong yang berbatasan dengan jalan gang perempuan itu berhenti. Wajahnya menatap langit yang gelap. Bahunya bergerak-gerak tertahan. Satu dua air mata membasahi pipinya yang keriput dimakan penderitaan.

Sinar lampu neon yang tergantung di tiang kayu di rumah tetangga menampakkan wajah perempuan itu. Seraut wajah kusut. Tampak lebih tua dari usianya yang sesungguhnya. Dia menatap jauh ke langit. Mencari sesuatu yang tidak diketahuinya. Terdengar suara gelak tawa dari televisi tetangga yang menampilkan acara lucu. Mereka bersuka cita menyambut hari kemenangan. Kapankah aku akan menang, bisik perempuan itu. Sebuah hari yang dirayakan setelah sebulan berpuasa. Kapankah aku akan mengakhiri puasaku? Tanya perempuan itu kepada angin malam yang melintas dan meninggalkan kesejukan. Sebuah petasan meletus di udara meninggalkan pijar indah yang gemerlap sekejap. Dua hari lagi orang akan bersuka cita merayakan hari raya. Apakah aku termasuk orang yang bersuka cita merayakan hari raya itu? perempuan itu menghela nafas. Dia menghapus air mata yang tidak tertahankan lagi.

1 komentar:

  1. seandainya saya tahu siapa mereka? Saya pasti melakukan apa yang harus saya lakukan, seperti yang sudah sy lakukan untuk mereka yang lain. Tetapi Tuhan Maha baik, Dia pasti sdh mengirm berkatnya untuk mrk " Doa orang yg teraniaya pasti di dengar Tuhan" Amin.

    BalasHapus