Senin, 05 Oktober 2009

BERBICARA

Bila ada orang mau iseng dengan merekam seluruh apa yang dibicarakan atau katakan dalam sepanjang hari lalu memformatnya dalam bentuk CD, mungkin dalam satu bulan dia sudah mengumpulkan puluhan keping CD. Sejak pagi ketika bangun tidur sampai malam menjelang tidur banyak orang aktif berbicara entah secara langsung dalam arti berhadapan muka dengan orang yang diajak berbicara maupun secara tidak langsung yaitu dengan menggunakan piranti penunjang komunikasi misalnya HP, internet dan sebagainya. Belum lagi berbicara melalui tulisan seperti SMS, email, chatting dan sebagainya. Bila dikumpulkan mungkin dalam satu bulan sudah menulis berlembar-lembar dalam kertas ukuran folio. Seperti ada sebuah sumber informasi dalam diri manusia yang tidak ada habisnya untuk dialirkan kepada sesama.

Berbicara adalah perbuatan khusus manusia untuk mengungkapkan perasaan dan pikirannya melalui tanda-tanda dan suara. Merleau Ponty (1908-1961) seorang filsuf Perancis, menulis bahwa berbicara bukan hanya mengungkapkan pikiran dan perasaan tapi juga membentuk pikiran dan perasaan lawan bicara. Orang berbicara bisa dengan orang lain maupun dengan diri sendiri. Bahkan ketika kita mendengarkan orang lain berbicara pun kita dapat berbicara dengan diri sendiri. Dalam kesendirian pun kita berbicara dalam hati untuk mengenang atau mengulang apa yang sudah kita bicarakan atau membuat imaginasi sendiri mengenai apa yang akan kita bicarakan dengan lawan bicara yang kita ciptakan sendiri.

Melalui berbicara orang mengungkapkan diri sebagai pribadi yang memiliki pemikiran, perasaan, mampu mengenal dan menangkap apa yang dialaminya. Dia pun memiliki kreatifitas untuk mengolah data yang dia terima dan kemudian ditanggapi. Hal yang sering menimbulkan masalah dalam berbicara adalah bila orang keliru dalam mengolah data sehingga menjadi jaka sembung (istilah ejekan untuk orang yang tidak mampu mengkaitkan antara apa yang didengar dan diungkapkan). Atau salah menangkap atau kurang memahami apa yang didengar lalu mereaksinya. Dalam berbicara orang juga menunjukkan kebebasan untuk mengungkapkan pemikirannya. Hal yang menimbulkan masalah adalah bila dia lupa akan etika atau dia kurang menghargai kebebasan orang lain dalam berpendapat. Dia ingin menjejalkan pendapatnya sebagai kebenaran yang mutlak. Dalam budaya Jawa ada istilah tepo sliro (toleransi atau memahami masalah orang lain) dan bisa rumongso (menjaga perasaan), namun bila orang merasa benar hal ini akan diabaikan. Dia berbicara seperti menuangkan apa saja tanpa bertimbang dengan situasi sekitar atau siapa yang diajak berbicara.

“Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah, dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk.” (Yak 3:9-10). Surat Yakobus adalah surat pastoral dimana dia berusaha menjabarkan iman yang terwujud nyata dalam perbuatan. Iman bukan hanya sekedar berdoa melainkan juga terungkap dalam tindakan. Dia mempertanyakan bagaimana mungkin orang yang suka berdoa tapi juga suka mengutuki atau berbicara buruk tentang sesamanya. Doa bukan hanya memuji Allah tapi juga memuji seluruh ciptaanNya. Memuji Allah terkait erat dengan memuji ciptaanNya apalagi manusia yang merupakan gambaran diri Allah.

Setiap hari kita berbicara, tapi apakah kita pernah menilai berapa persen pembicaraan kita yang sungguh merupakan pujian dan mengembangkan sesama dan berapa persen yang berisi hujat dan menyakiti hati orang? Berapa persen pembicaraan kita sungguh bermutu dan berapa persen yang merupakan sampah? Seringkali orang sulit untuk mengendalikan dirinya sehingga dia dengan ringannya berbicara meski sadar bahwa apa yang dia bicarakan adalah sesuatu yang tidak berguna bagi sesamanya. “Jika ada orang yang berbicara, baiklah ia berbicara sebagai orang yang menyampaikan firman Allah;” (1 Ptr 4:11). Bila orang sungguh ingin menjalankan ayat ini mungkin akan banyak orang menjadi pendiam dan hanya berbicara dengan dirinya sendiri.

0 komentar:

Posting Komentar