Sabtu, 10 Oktober 2009

SUKA CITA DALAM PELAYANAN

“Jika karunia untuk menasihati, baiklah kita menasihati. Siapa yang membagi-bagikan sesuatu, hendaklah ia melakukannya dengan hati yang ikhlas; siapa yang memberi pimpinan, hendaklah ia melakukannya dengan rajin; siapa yang menunjukkan kemurahan, hendaklah ia melakukannya dengan sukacita.” (Rm 12:8)

Paulus dalam nasehatnya kepada jemaat di Roma, mengingatkan bahwa dalam jemaat ada banyak anugerah yang dapat digunakan untuk mengembangkan Kerajaan Allah. Namun semua itu harus dilakukan dengan tulus hati dan suka cita. Paulus menyadari bahwa orang yang mempunyai karunia dapat merasa lebih dari yang lain. Mereka dapat menjadi sombong. Kerajaan Allah adalah komunitas damai dan suka cita, dimana kasih menjadi dasarnya. Bila ada kesombongan maka Kerajaan Allah tidak akan terbangun. Maka setiap pelayanan hendaknya dilakukan dengan tulus iklas.

Banyak orang yang melakukan pelayanan. Namun sering kali perbuatan baik ini kurang didasari oleh sebuah motivasi yang baik. Motivasi yang baik adalah bila segala pelayanan kita mengarah pada Allah bukan pada manusia. Apa yang kita lakukan demi kemuliaan Allah. Memang ada perbedaan antara Paulus dan Yohanes. Paulus menekankan balasan dari Allah, “Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.” (2Kor 9:7) sedangkan Yohanes menekankan bahwa pelayanan kita adalah kesadaran akan cinta Allah. “Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.” (1Yoh 4:19). Namun semua itu mengarahkan kita untuk melakukan pelayanan dengan suka cita dan tulus hati seperti Allah yang telah memberi kepada kita segalanya dengan suka cita dan tulus.

Ibu Teresa menulis, Missionaris Cinta Kasih adalah keluarga yang memiliki cinta kasih, kedamaian dan kegembiraan. Jika Anda tidak mempunyai kedamaian dan cinta kasih di dalam keluarga Anda atau dalam hati Anda sendiri, bagaimana mungkin Anda akan memberikan semua itu kepada orang lain? Cinta yang sejati harus menanggung sakit. Saya berharap Anda akan mempelajari kebenaran itu dalam kehidupan Anda kemudian berbagi kegembiraan dalam cinta kasih. Bila Anda sedang memasak, mencuci pakaian atau bekerja keras di kantor, lakukan semua itu dengan gembira. Itu merupakan cinta kasih Anda kepada Tuhan.

Bagi Ibu Teresa cinta kasih adalah sumber kebahagiaan. Bila semua pelayanan dilakukan berdasarkan cinta kasih maka orang akan melayani dengan bahagia. Maka Ibu Teresa menekankan agar kita memiliki cinta kasih sebelum melakukan pelayanan. Sumber cinta kasih yang besar adalah kesadaran akan cinta kasih Allah yang telah dianugerahkan kepada kita. Memang dapat saja orang kurang memiliki cinta kasih melakukan pelayanan, namun hal itu akan tampak dari segala tindakannya. Dia akan mudah menuntut orang yang dilayani. Dia mudah frustasi dan kecewa kepada orang yang dilayani dan sebagainya. Pelayanannya menjadi kering dan rutinitas belaka.

Pelayanan adalah tindakan cinta kasih kepada Tuhan, bukan hanya sekedar melakukan sebuah tindakan pada manusia yang menderita. Bila kita melakukan demi Tuhan, entah Tuhan akan membalas atau tidak, maka semua itu akan kita lakukan dengan suka cita. Kita akan setia melakukan pelayanan meski apa yang kita kerjakan kurang diterima oleh orang lain atau dicemooh oleh sesama. Kita tidak mudah putus asa dan menyerah oleh aneka rintangan. Kita tidak mengukur besar kecilnya sebuah pelayanan. Di mata Tuhan tidak ada tindakan besar atau kecil melainkan ada cinta kasih dan rasa syukur. Bila pelayanan itu berdasarkan pada Tuhan maka pelayanan itu menjadi sebuah doa.

0 komentar:

Posting Komentar